Wanita Poliandri Diusir Warga, P2TP2A Cianjur: Jangan Main Hakim Sendiri

Ikbal Selamet - detikJabar
Jumat, 20 Mei 2022 15:39 WIB
Polisi lakukan olahraga TKP terkait viral pengusiran seorang wanita akibat poliandri.
Polisi lakukan olahraga TKP terkait viral pengusiran seorang wanita akibat poliandri (Foto: Istimewa).
Cianjur -

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur menyayangkan aksi main hakim sendiri terkait kasus perempuan poliandri di Kecamatan Sukaluyu. Pasalnya semua pihak dinilai harus ikut bertanggungjawab dan mesti lebih bijak.

Ketua Harian P2TP2A Cianjur Lidya Umar mengatakan dalam kasus tersebut, NN (28) memang melakukan kesalahan yang melanggar aturan agama dan norma sosial di masyarakat.

Namun, kesalahan itu tidak lantas membuat masyarakat seenaknya bisa melakukan main hakim sendiri dengan mengusir dan membakar pakaian dari perempuan yang viral lantaran memiliki dua suami tersebut.


"Dari kasus yang ramai belakangan ini, saya melihat bahwa ada pelanggaran agama dan norma sosial, tapi tidak boleh masyarakat main hakim sendiri. Apalagi sampai mengusir dan membakar pakaiannya," kata dia, Jumat (20/5/2022).

Menurutnya aksi tersebut dikhawatirkan dianggap benar dan ditiru oleh masyarakat di daerah lain.

"Yang dikhawatirkan sampai ada tindak kekerasan, meskipun kasus kemarin tidak sampai seperti itu, tapi bisa saja ada kasus berikutnya yang berujung pada kekerasan fisik," ucap dia.

Lidya menyebut jika kasus tersebut terjadi akibat kurangnya perhatian dari tokoh masyarakat. Sebab, kata dia, perbuatan seseorang dipicu oleh lingkungan salah satunya minimnya pembinaan.

"Jadi masyarakat, terutama tokoh masyarakat dan tokoh agama juga bertanggungjawab. Bagaimana harusnya memberikan pembinaan pada semua warga, supaya tidak melanggar norma serta aturan," ungkapnya.

Selain itu, peran tokoh masyarakat juga penting jika hal serupa terjadi, dimana harus ada kebijaksanaan dan upaya meredam agar masyarakat tidak main hakim sendiri.

"Ini yang lebih kami tekankan, bagaimana semua pihak bisa lebih bijak dalam menghadapi satu permasalahan. Peran tokoh yang akan sangat mempengaruhi. Saya berharap kasus poliandri tidak lagi terjadi, begitupun aksi main hakim sendirinya," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat dihebohkan dengan kasus seorang perempuan berinisial NN (28) asal Kabupaten Cianjur yang melakukan poliandri atau memiliki dua suami. Bahkan aksinya tersebut membuat warga geram hingga mengusir perempuan itu dari kampung dan seluruh pakaiannya dibakar.

(mso/mso)