Pakar Unpad Minta RK-Yana Belajar ke Jokowi Soal 'Unggahan GBLA'

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 12 Mei 2022 20:30 WIB
Puluhan petugas membersihkan kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung. Operasi kebersihan ini rutin digelar agar Stadion GBLA tetap terawat
Stadion GBLA (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wali Kota Bandung Yana Mulyana saling berbalas unggahan di medsos mengenai polemik Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

RK yang mengawali unggahan tentang GBLA dan langsung disambut tagar #GBLAForPersib oleh warganet, sementara Yana secara blak-blakan menyampaikan permasalahan GBLA kenapa hingga kini belum bisa digunakan.

Komunikasi RK-Yana ini pun dinilai tak efektif sama sekali, apalagi menyangkut tentang kebijakan publik. Seharusnya, kedua pihak bisa bisa saling bertemu untuk mendiskusikan permasalahan GBLA, lalu mencari jalan keluarnya secara bersama-sama.


"Karena persepsi yang akan ditangkap oleh publik itu pasti enggak sama, akan banyak sudut pandang sendiri. Dan akhirnya, itu akan memperkeruh suasana karena memang medsos itu terbatas," kata Guru Besar Universitas Padjajaran (Unpad) Muradi saat berbincang dengan detikJabar via telepon, Bandung, Rabu (11/5/2022).

Muradi pun menyebut RK-Yana harus bisa mencontoh komunikasi politik Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam memanfaatkan media sosial. Menurut Muradi, Jokowi akan cenderung mengunggah hal apapun yang menyangkut pemerintahan di media sosial karena hal itu sudah terlebih dahulu disampaikan dalam rapat kenegaraan ataupun pernyataan resmi kepada publik.

"Kalau kita belajar pola komunikasi Jokowi, yang saya lihat Jokowi sampaikan dulu ke publik baru biasanya diupdate di medsosnya. Harusnya polanya begitu, karena dengan cara begitu maka akan mengurangi benturan politik yang malah membuat hubungannya tidak harmonis diantara keduanya," ujarnya.

Muradi pun kembali mengulangi penilaiannya tentang pola komunikasi antara RK dengan Yana. Bagi Muradi, komunikasi melalui medsos bukan menjadi pilihan utama karena memang kedua belah pihak harus bertemu dan mendiskusikan secara langsung mengenai permasalah GBLA.

"Medsos sekali lagi bagi saya bukan jadi first layer. Medsos akan terbatas karena menang keduanya harus bertemu dulu terus ngobrol, diskusi baru hasil obrolan itu diupload ke medsos," pungkasnya.

(bbn/yum)