Aneh tapi Nyata: Jejak 'Tak Kasat Mata' Bocah Pendaki di Gunung Guntur

Aneh tapi Nyata: Jejak 'Tak Kasat Mata' Bocah Pendaki di Gunung Guntur

Hakim Ghani - detikJabar
Senin, 14 Mar 2022 13:30 WIB
Tim detikcom bersama Sat Samapta Polres Garut berserta Ade Leji (Kuncen) Gunung Guntur berkesempatan menelusuri Curug Cikoneng tempat Gibran pertama ditemukan.
Tim detikcom bersama Sat Samapta Polres Garut berserta Ade Leji (Kuncen) Gunung Guntur berkesempatan menelusuri Curug Cikoneng tempat Gibran pertama ditemukan. (Foto: Muhammad Ridho)
Garut -

Masyarakat sempat dihebohkan dengan peristiwa yang dialami M Gibran (14), seorang pendaki asal Garut. Bocah tersebut hilang misterius saat tengah mendaki Gunung Guntur akhir 2021 lalu.

Minggu, 19 September 2021. Saat itu, Gibran dan sejumlah temannya melancong ke gunung yang berada di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut tersebut. Pendakian saat itu berjalan seperti biasa, tidak ada hal-hal aneh mengiringi mereka.

Lantaran hari sudah gelap, Gibran dan teman-temannya memutuskan untuk menghentikan sementara pendakian dan mondok terlebih dahulu di sekitaran pos pendakian.


Di hari berikutnya, Senin, 20 September 2021, di awal pagi, rombongan kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Anehnya, Gibran saat itu memilih bertahan di tenda dan tidak ikut melanjutkan perjalanan.

"Di tenda itu ada lima orang yang tidur. Yang lain bangunin yang sedang tidur, saya gak ikut ke puncak," kata Gibran kepada detikJabar beberapa waktu lalu.

Keanehan kemudian terjadi. Saat teman-temannya kembali dari puncak ke kawasan pos 3, tempat Gibran dan kolega mondok, Gibran sudah tidak ada di dalam tenda. Saat itu, tak ada jejak sama sekali Gibran pergi kemana. Semua barang-barang miliknya lengkap ditinggal di dalam tenda.

Teman-temannya yang panik kemudian berupaya melakukan pencarian. Namun, hingga Senin sore kala itu, Gibran tak juga ditemukan. Temannya kemudian memutuskan untuk melaporkan kejadian itu dan meminta bantuan ke pemukiman warga.

Pencarian kemudian dilanjutkan oleh petugas SAR gabungan di Gunung Guntur mulai Selasa, 21 September 2021. Mulai dari petugas kepolisian, TNI, masyarakat, pecinta alam hingga armada Basarnas dikerahkan menuju lokasi untuk mencari keberadaan Gibran.

Namun, dari ratusan orang yang terlibat dalam pencarian saat itu, tak ada satupun yang bisa menemukan Gibran. Hingga akhirnya pada Jumat, 24 September 2021, Gibran berhasil ditemukan di sebuah aliran sungai, bernama Cikoneng yang lokasinya cukup jauh dari tempat Gibran nge-camp.

Adalah Ade Leji (55), tokoh masyarakat sekaligus kuncen Gunung Guntur yang berhasil menemukan Gibran. "Atas izin Allah, ada petunjuk saya terpaksa nge-pakuin (paku bumi) itu di atas (batu). Jarak 15 menit ketemu Gibran. Dari situ saya bawa Gibran ke bawah, dipangku," kata Ade Leji.

Hilangnya Gibran, hingga kini pun masih menjadi misteri. Lantas, kemana dia selama kurang lebih 5 hari menghilang misterius. Ade menjelaskan, selama menghilang, Gibran berada di alam gaib.

"Dibawa ke alam gaib. Lima hari itu kalau di alam gaib hanya satu hari. Saya pun pernah mengalaminya, satu hari rasanya. Sampai ke rumah (rasanya) seperti satu hari," ujar Ade.

Terlepas dari apapun yang dialami Gibran selama waktu kehilangannya di Gunung Guntur, Gibran diketahui ditemukan dalam keadaan selamat. Saat pertama ditemukan oleh Ade Leji, Gibran terduduk dan sedang melamun di sebuah batu yang ada di aliran Curug Cikoneng.

Saat dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas, Gibran dinyatakan tidak mengalami gangguan apa pun di tubuhnya. Dia hanya mengalami dehidrasi dan sedikit luka lecet di kakinya. Lantas, bagaimana bisa Gibran bertahan selama lima hari tanpa makan dan minum?

Gibran sendiri mengaku pernah bertemu seseorang yang memberinya makanan saat hilang itu. "Tapi enggak saya makan karena enggak kenal," tutup Gibran.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah mengatakan, Gibran bertahan karena memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu survival.

"Dia tau apa yang harus dimakan dan diam di dekat sumber air. Artinya dia mengerti air sebagai modal untuk bertahan," kata Deden kepada detikJabar.

Deden mengatakan, seseorang yang tersesat sangat mungkin untuk bertahan di hutan selama lima hari. Bahkan, kata Deden, berdasarkan pengalamannya, ada yang mampu bertahan selama puluhan hari.

"Kalau di pegunungan sangat memungkinkan, beda cerita kalau di laut. Pengalaman saya dulu, di Makassar bahkan ada yang bisa bertahan sampai 40 hari," tutup Deden.



Simak Video "Ada Kampung TKW di Majalengka, 60 Persen Warganya Kerja di Luar Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/bbn)