Sekitar 14 abad lalu, seorang muslimah pemberani ikut terjun ke medan Perang Uhud bersama barisan kaum muslim yang dipimpin Rasulullah SAW. Dia bertaruh nyawa, menahan belasan luka di tubuhnya.
Adalah Nusaibah binti Ka'ab. Sosok tangguh yang juga dipanggil Ummu Imarah itu menjadi satu-satunya perempuan yang ikut memerangi orang-orang musyrik dalam Perang Uhud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karangan Ali Muhammad Ash-Shallabi yang diterjemahkan Faesal Saleh dkk, Nusaibah awalnya bertugas memberi minum para tentara muslim yang kehausan. Seperti disebutkan dalam riwayat shahih, perempuan yang ikut serta dalam Perang Uhud bukan untuk berperang dan tidak dipersenjatai layaknya laki-laki. Namun, mereka akan memberikan bantuan sebisa mungkin dengan merawat korban luka atau memberi minum tentara yang kehausan.
Perempuan yang ikut dalam Perang Uhud adalah mereka yang suami dan anaknya menjadi pasukan perang. Mereka memiliki akhlak dan pendidikan agama yang baik, jauh dari fitnah.
Kala itu, Nusaibah ikut terjun ke medan perang untuk melindungi Rasulullah SAW. Sang Nabi dalam keadaan bahaya karena pasukan di sekelilingnya banyak yang terbunuh. Nusaibah berperang dengan tangguh, mengikat pakaiannya pada bagian tengah tubuhnya, dan menahan luka-luka di tubuhnya.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda, "Kedudukan Nusaibah binti Ka'ab hari ini lebih mulia daripada kedudukan si fulan dan si fulan."
Rasulullah SAW melihat Nusaibah berperang dengan begitu tangguh. Nusaibah mengalami 13 luka di tubuhnya. Luka paling parah berasal dari pukulan Ibnu Qam'ah, tokoh musyrikin Makkah yang berusaha keras membunuh Rasulullah SAW.
Penyeru perang kemudian minta pasukan geser ke Hamra' Al-Asad. Nusaibah kemudian mengikat luka pukulan di tengkuknya dengan kain, tetapi tetap tidak mampu menghentikan aliran darahnya. Rasulullah SAW sempat menanyakan kondisi Nusaibah.
Keberanian Nusaibah dalam medan Perang Uhud membuatnya dijuluki "Sang Perisai Rasulullah". Dia menahan sakitnya belasan luka di tubuhnya, berupaya sekuat tenaga agar Rasulullah SAW tetap aman.
Nusaibah menjadi satu-satunya wanita yang membela Rasulullah SAW langsung di medan perang. Kisahnya diceritakan dalam riwayat shahih.
Perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah, menurut para ulama ahli sejarah sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Jami'us Sirah. Usai Perang Uhud, kata Ibnu Qayyim, orang-orang musyrik berjanji kepada Rasulullah SAW untuk bertemu beliau pada tahun depan, tetapi mereka melanggarnya karena kegersangan tahun tersebut. Pada tahun kelima, mereka datang memerangi Rasulullah SAW. Perang ini kemudian dikenal dengan Perang Khandaq.
(kri/erd)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?