Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober berakar kuat dengan sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di balik peringatan ini, ada sosok ulama besar yang menjadi poros berdirinya satuan kekuatan dari kalangan santri dan ulama. Beliau adalah hadratus syaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Perjalanan hidup beliau tidak hanya mencerminkan keteguhan dalam menuntut ilmu, tetapi juga semangat dan ketulusan dalam membela agama dan tanah air. Lantas, bagaimanakah sejarah kisah KH Hasyim Asy'ari dan lahirnya resolusi jihad sebagai tonggak peringatan hari santri?
Kisah KH Hasyim Asy'ari
Mengutip buku berjudul KH. Hasyim Asy'ari karya Abdul Hadi, beliau lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Zulkaidah 1287 H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim, sementara nama Asy'ari dinisbatkan kepada ayahnya KH Asy'ari, seorang ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Keras di Jombang. Ibunya yang bernama Halimah merupakan putri Kiai Utsman, seorang ulama terkenal sekaligus pendiri Pondok Pesantren Gedang.
Dari jalur nasab Ibu, silsilah KH Hasyim Asy'ari bersambung hingga Sultan Pajang (Jaka Tingkir alias Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya) yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya VI. Sementara jalur nasab ayah, bersambung kepada Syaikh Maulana Ishak hingga Imam Ja'far Shadiq bin Muhammad al-Baqir.
Latar Belakang Pendidikan KH Hasyim Asy'ari
Mengutip buku Selayang Pandang KH. Hasyim Asy'ari karya Rizem Aizid, beliau dididik langsung oleh kakek dan ayahnya sejak usia 6 tahun. Berkat kecerdasannya, beliau telah menguasai berbagai kitab berbahasa Arab hingga pada usia 13 tahun sudah dipercaya membantu mengajar para santri.
Berkat kecintaannya akan mengemban ilmu, beliau memulai perjalanan pendidikannya di usia 15 tahun. Dari tahun 1886-1891, beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa hingga Madura, termasuk berguru kepada Syaikhona Khalil Bangkalan. Kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Mekkah dari tahun 1893-1899.
Pada tahun 1899/1900, KH Hasyim Asy'ari kembali ke Indonesia berbekal ilmu agama yang sangat mendalam disertai dengan hafalan 6 kitab hadits. Berkat bekal tersebutlah beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam besar di Indonesia.
Sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Resolusi Jihad lahir saat Indonesia masih berada di awal masa kemerdekaan. Sekitar dua bulan setelah proklamasi, pasukan Sekutu tiba di Indonesia. Kedatangan mereka memicu kekhawatiran akan ancaman terhadap kemerdekaan yang baru saja diraih.
Menanggapi situasi tersebut, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan seruan yang dikenal dengan nama Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi ini memuat seruan kepada umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ada tiga poin utama yang tercantum dalam naskahnya, yaitu:
- Memerangi pihak yang menghalangi kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ain bagi setiap muslim yang mampu, termasuk orang fakir.
- Muslim yang gugur saat berperang melawan musuh, yakni NICA beserta sekutu-sekutunya, dinyatakan mati syahid.
- Orang yang memecah belah persatuan bangsa wajib dibunuh.
Melalui seruan yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Peringatan ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan atas tindakan nyata para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
