Pesantren merupakan lingkungan pendidikan tempat santri menimba ilmu agama, mempelajari kitab-kitab klasik, serta membentuk akhlak dan kedisiplinan.
Di lingkungan pesantren, ada pemandangan yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari para santri yaitu mengenakan sarung dan peci saat mengaji, beribadah, maupun beraktivitas di sekitar pesantren.
Sarung dan peci bahkan telah menjadi identitas tersendiri yang melekat dalam diri para santri di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, mengapa santri identik dengan sarung dan peci? Untuk diketahui, sarung dan peci bukan sekadar pakaian sehari-hari, melainkan ada sejarah dan makna di balik pakaian tersebut. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Sejarah Sarung dan Peci sebagai Simbol Perlawanan
Menurut penjelasan Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag RI dalam unggahan di akun Instagram resminya @penais.kemenag, sarung berasal dari Yaman yang di negara tersebut dikenal dengan nama "futah". Di negara lain, sarung dikenal dengan nama berbeda, seperti "izaar" di Arab Saudi, dan "wizaar" di Oman. Sarung masuk ke Indonesia pertama kali pada abad ke-14, dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Arab dan Gujarat.
Dalam perkembangannya, sarung identik dengan kebudayaan Islam. Di era penjajahan Belanda, sarung menjadi simbol perlawanan terhadap budaya Barat. Hingga saat ini, sarung menjadi simbol kehormatan dan kesopanan yang digunakan dalam berbagai macam ucapara yang sakral.
Dalam tulisan yang dimuat di NU Online Jawa Timur berjudul Sarung dan Peci, Simbol Perlawanan Santri terhadap Penjajah, dijelaskan bahwa pakaian menjadi salah satu penanda identitas sekaligus sarana perlawanan terhadap dominasi kolonial.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, penggunaan jas dan celana bergaya Eropa semakin didorong dalam kehidupan masyarakat. Di tengah situasi tersebut, para kiai dan santri tetap mempertahankan pakaian yang telah menjadi bagian dari tradisi mereka, termasuk sarung dan peci. Pilihan berpakaian ini kemudian dimaknai sebagai bentuk penegasan identitas dan penolakan terhadap dominasi budaya kolonial.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu diwujudkan melalui pertempuran fisik. Mempertahankan tradisi dan kebudayaan sendiri juga dapat menjadi cara untuk menjaga jati diri bangsa di tengah tekanan kekuasaan asing.
Salah satu contoh yang disoroti dalam tulisan tersebut adalah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-2 pada 1927. Tradisi bersarung yang dikenakan para ulama dan pemimpin pesantren menjadi bagian dari identitas yang dibawa dalam ruang sosial dan organisasi. Dengan demikian, pakaian sederhana yang dikenakan santri memiliki makna lebih luas daripada sekadar kebutuhan sehari-hari.
Makna Sarung sebagai Simbol Fleksibilitas Santri
Dalam artikel Kementerian Agama berjudul Sarung dan Simbol Fleksibilitas Santri, Imam Safei yang saat menulis artikel tersebut menjabat sebagai Kepala Biro pada Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa sarung dapat dimaknai sebagai simbol fleksibilitas dalam kehidupan santri.
Ia menerangkan, bentuk sarung yang sederhana dan tidak dilengkapi kancing atau resleting membuat sarung mudah digunakan dalam berbagai situasi. Karakter ini dapat menjadi pengingat agar santri memiliki sikap yang luwes dalam menghadapi persoalan dan berinteraksi dengan masyarakat.
Makna tersebut, menurut Imam Safei, sejalan dengan kehidupan pesantren yang mengajarkan santri untuk tidak bersikap kaku dalam menghadapi perbedaan. Santri diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip dan nilai agama yang dipelajarinya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa sarung mencerminkan kesederhanaan. Santri tidak harus mengenakan pakaian mahal untuk menunjukkan kehormatan atau kedudukannya. Justru, kesederhanaan menjadi bagian dari keseharian yang mengajarkan bahwa proses menuntut ilmu dan pembentukan akhlak lebih penting daripada penampilan luar.
Sarung juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan pesantren. Pakaian ini dapat dikenakan ketika mengaji, salat, maupun menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Karena itu, Imam Safei menyimpulkan, sarung bukan hanya simbol identitas, melainkan bagian dari tradisi yang tumbuh dan bertahan dalam kehidupan santri dari generasi ke generasi.
Lebih lanjut, dijelaskan oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag RI mengenai makna filosofis di balik motif kotak-kotak pada sarung yang identik dikenakan para santri di Indonesia, yaitu:
- Setiap langkah --kanan, kiri, atas, bawah-- memiliki konsekuensi
- Melangkah ke mana pun, ada perbedaan yang menghadang (makna dari sarung kotak-kotak khas Bali)
- Orang yang berani menghadang cobaan akan cepat menuai harapannya.
