Kisah Ulama yang Selalu Meminta Doa Orang Tua sebelum Belajar

Kisah Ulama yang Selalu Meminta Doa Orang Tua sebelum Belajar

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Kamis, 01 Okt 2026 05:00 WIB
Umat Muslim membaca kitab suci Alquran di masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024). Memasuki bulan suci Ramadan 1445 Hijriah, umat Muslim diwajibkan melakukan ibadah berpuasa dan memperbanyak ibadah wajib dan sunah kepada Allah SWT.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Perjalanan menuntut ilmu kerap kali diselimuti liku dan rasa putus asa. Ada kalanya akal terasa buntu, hafalan sulit menempel, dan lisan mendadak kelu di hadapan guru. Namun, di balik kecemerlangan para ulama besar yang namanya abadi melintasi zaman, terselip rahasia langit yang melampaui sekadar kepintaran logika, yakni ketulusan doa dan ridha dari orang tua.

Kisah Ulama yang Selalu Meminta Doa Orang Tua sebelum Belajar

Kisah dari abad ke-5 Hijriyah tentang seorang ulama terkemuka bermazhab Syafi'i bernama Syaikhul Islam Al-Imam Abul Fath Sulaim bin Ayyub Ar-Razi. Dalam buku ParenTeam: Bersinergi Mendidik Anak karya Nur Najmi Muthia menjelaskan beliau dikenal sebagai pakar fiqih mazhab Syafi'i, ahli ilmu Al-Qur'an, qiraat, tafsir, hadits, dan ahli bahasa.

Saat masih kanak-kanak berusia sekitar sepuluh tahun di Kota Ar-Rayy, sebuah kawasan di Persia dekat Teheran sekarang, Sulaim kecil hadir dalam majelis seorang syekh di kampungnya. Saat majelis berlangsung, sang syekh tiba-tiba menunjuk ke arahnya dan berkata, "Majulah kamu dan bacalah ini!"

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendengar perintah itu, Sulaim tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang, lututnya lemas karena gugup bercampur takut. Kitab disodorkan, dan ia diminta melafalkan Surat Al-Fatihah. Meski berusaha sekuat tenaga memusatkan konsentrasi, lisannya mendadak membeku. Mulutnya serasa terkunci rapat dan tak sepatah kata pun mampu ia suarakan.

Menyaksikan anak itu tertunduk menahan malu, sang syekh tidak memarahinya. Beliau menatapnya dengan penuh kasih lalu bertanya, "Apakah kamu masih punya seorang ibu?"

ADVERTISEMENT

"Ya," sahut Sulaim singkat.

Sang syekh lantas memberikan wejangan yang kelak mengubah garis hidupnya: "Kalau begitu, pulanglah, Nak! Mintalah kepada ibumu agar beliau mendoakanmu supaya Allah mengaruniakan kemudahan membaca Al-Qur'an dan meraih ilmu agama kepadamu."

Dengan rasa malu yang masih membekas di dada, Sulaim bergegas pulang. Ia menemui sang ibunda dan menceritakan seluruh peristiwa di halaqah tersebut. Mendengar penuturan putranya, hati sang ibu terenyuh.

Tanpa menunda, sang ibu mengangkat kedua tangannya ke langit, bermunajat sungguh-sungguh memohon taufik bagi buah hatinya. Sejak detik itu, doa bagi Sulaim tak pernah luput dari bibir sang ibu.

Mengutip buku Ibu, Isteri dan Anak Saleha: Sungguh Doamu Tak Pernah Sia-sia karya Nurul Asmayani, ada sebuah hadits tentang dahsyatnya doa orang tua. Bahkan dijelaskan bahwa rida Allah SWT terletak pada rida orang tua.

Rasulullah SAW bersabda mengenai kemakbulannya, "Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemabulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi." (HR. Abu Dawud)

Pintu kepahaman Sulaim perlahan terbuka lebar. Beranjak dewasa, ia berkelana ke Baghdad, pusat peradaban ilmu dunia Islam kala itu, untuk menimba ilmu bahasa, fiqih, dan Al-Qur'an. Bertahun-tahun kemudian, setelah menguasai berbagai cabang ilmu, ia kembali ke tanah kelahirannya di Ar-Rayy.

Di Masjid Jami', ia duduk mengajar murid-murid yang berduyun-duyun mengerumuninya seraya mengkaji kitab Mukhtashar Al-Muzani. Di tengah kajian, seorang lelaki tua melangkah masuk dan mengucap salam. Ia adalah syekh yang dahulu menegur Sulaim di masa kecil.

Sang guru menyimak bahasan kitab yang begitu rumit dan mendalam, namun ia tak lagi mampu memahaminya, apalagi mengenali sosok ulama besar di hadapannya. Dengan takjub sang syekh bertanya, "Kapankah ilmu seperti ini bisa dipelajari dan didapat?"

Dalam buku Aneh dan Lucu, 100 Kisah Menarik Penuh Ibrah karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dijelaskan bahwa Sulaim teringat kenangannya saat kecil. Ingin sekali ia berkata santun, "Jika Syekh masih memiliki seorang ibu, pulanglah dan mintalah beliau mendoakan Syekh." Namun karena rasa hormat dan takzimnya, ia menahan lisan tersebut.

Kisah ini menorehkan pesan berharga bagi siapa pun yang sedang berjuang menuntut ilmu. Janganlah hanya menyandarkan keberhasilan pada ketajaman otak diri sendiri. Ketuklah pintu langit melalui doa dan ridha orang tua sebelum melangkahkan kaki belajar, sebab keberkahan ilmu sejati bermula dari ketulusan air mata dan doa restu mereka.



(lus/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads