Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur telah lama menjadi destinasi wisata religi dan budaya. Setiap tahun, banyak peziarah datang untuk mengunjungi makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono. Di sisi lain, kawasan ini juga telanjur dikenal masyarakat sebagai tempat mencari pesugihan atau kekayaan secara instan.
Padahal, jika menelusuri sejarahnya, kisah Eyang Djoego justru berawal dari perjuangan menyebarkan Islam setelah berakhirnya Perang Jawa.
Gunung Kawi, Destinasi Alam dan Ziarah
Gunung Kawi berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dilansir detikTravel, gunung ini memiliki ketinggian 2.860 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan Desa Wonosari yang berada di lerengnya terletak pada ketinggian sekitar 800 mdpl. Kondisi tersebut membuat kawasan ini memiliki udara sejuk dengan panorama pegunungan yang menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menjadi tujuan wisata alam, Gunung Kawi juga dikenal sebagai kawasan ziarah. Di lokasi ini terdapat makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono yang didatangi banyak peziarah. Popularitas tempat ini kemudian memunculkan anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan lokasi untuk mencari berkah, bahkan tidak sedikit yang menghubungkannya dengan praktik pesugihan.
Siapa Eyang Djoego?
Dalam buku Kisah Tanah Jawa karya Mada Zidan dan Bonaventura D. Genta dijelaskan bahwa Eyang Djoego adalah Kiai Zakaria II, salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Sesudah Perang Jawa berakhir pada 1830 dan Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, para pengikutnya berpencar untuk menghindari penangkapan. Demi keselamatan, mereka menggunakan nama samaran agar identitasnya tidak diketahui penjajah.
Perjalanan Kiai Zakaria II membawanya ke Desa Sanan, Kesamben, Blitar. Saat bertemu warga setempat, ia memperkenalkan diri dengan ucapan "Saya Sadjoego", yang bermaksud menjelaskan bahwa dirinya datang seorang diri. Namun, warga mengira Sadjoego adalah nama orang tersebut. Sejak saat itu, masyarakat mengenalnya sebagai Eyang Djoego.
Menyebarkan Islam di Wilayah Blitar
Kedatangan Eyang Djoego ke Jawa Timur bukan semata-mata untuk menyelamatkan diri dari kejaran Belanda. Ia juga memiliki tujuan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Setelah menetap di Kesamben, Eyang Djoego mendirikan sebuah padepokan. Tempat itu digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus lokasi belajar bagi para murid yang ingin mendalami ilmu agama.
Membantu Warga saat Wabah Penyakit
Masih berdasarkan buku Kisah Tanah Jawa, suatu ketika salah satu dusun di Kesamben dilanda wabah penyakit menular yang menyebabkan banyak korban jiwa.
Eyang Djoego kemudian membantu mengobati warga yang terserang penyakit. Berkat jasanya, dusun tersebut kemudian dikenal sebagai Dusun Djoego, yang saat ini bernama Desa Sanan Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar.
Wasiat Dimakamkan di Lereng Gunung Kawi
Menjelang akhir hayatnya, Eyang Djoego berpesan kepada R.M. Iman Soedjono agar jenazahnya dimakamkan di lereng Gunung Kawi, tepatnya di Desa Wonosari.
Eyang Djoego meninggal dunia pada 22 Januari 1871 di padepokannya di Desa Sanan Jugo. Tiga hari kemudian, jenazahnya dimakamkan sesuai wasiat.
Sedangkan Raden Mas Iman Soedjono wafat lima tahun setelah Eyang Djoego, yaitu pada 8 Februari 1876.
Dalam buku Pesarean Gunung Kawi yang dikutip dalam Kisah Tanah Jawa menjelaskan bahwa keduanya memang telah berwasiat agar dimakamkan dalam satu liang lahat. Keinginan tersebut didasari karena perjalanan hidup mereka yang sama-sama berjuang, menghadapi kesulitan bersama, serta memiliki tujuan yang sama.
Asal Mula Gunung Kawi Dianggap Tempat Pesugihan
Nama Gunung Kawi kini identik dengan cerita mengenai pesugihan. Padahal, anggapan tersebut bukan berasal dari ajaran Eyang Djoego, melainkan dari pemahaman yang berkembang di masyarakat. Sebab, makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono bukanlah lokasi ritual pesugihan.
Cerita tentang pesugihan justru berasal dari kawasan hutan yang berada di jalur antara makam kedua tokoh tersebut dan petilasan Prabu Kameswara I. Berbagai kisah mistis yang beredar dari kawasan itu kemudian membuat Gunung Kawi dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai tempat mencari kekayaan secara instan.
(inf/kri)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat