Biografi Imam Bukhari: Dari Lahir hingga Menjadi Perawi Hadits Terpercaya

Biografi Imam Bukhari: Dari Lahir hingga Menjadi Perawi Hadits Terpercaya

Tia Kamilla - detikHikmah
Kamis, 26 Mar 2026 05:00 WIB
Biografi Imam Bukhari: Dari Lahir hingga Menjadi Perawi Hadits Terpercaya
Ilustrasi Imam Bukhari (Foto: Getty Images/iStockphoto/Mahfud2015)
Jakarta -

Imam Bukhari adalah salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Dikenal sebagai perawi hadits sahih, ia menorehkan karya monumental yang menjadi rujukan umat Islam hingga kini.

Perjalanan hidupnya penuh ketekunan, pengorbanan, dan cinta pada ilmu, membuat kisahnya layak ditelusuri dari masa kecil hingga puncak prestasinya.

Dari latar belakang keluarganya di Bukhara, masa kecil yang dipenuhi belajar Al-Qur'an, hingga perjalanan panjang menuntut ilmu ke berbagai negeri, biografi Imam Bukhari menyimpan banyak pelajaran berharga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini rangkaian kehidupan dan pencapaian beliau yang membentuknya menjadi perawi hadits paling terpercaya sepanjang masa.

Awal Kehidupan Imam Bukhari

Nama lengkap Imam Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari. Beliau lahir pada 13 Syawal 194 H atau 21 Juli 810 M di Bukhara, Uzbekistan. Hal ini mengutip dari buku Studi Kitab Hadis: Dari Muwaththa' Imam Malik hingga Mustadrak Al Hakim oleh Muhammad Misbah, dkk.

ADVERTISEMENT

Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, adalah seorang ulama dan murid Imam Malik bin Anas. Beliau dikenal taat beragama dan sangat berhati-hati terhadap hal-hal yang masih belum pasti hukumnya. Sayangnya, ayah Bukhari wafat ketika beliau masih kecil.

Saat berusia 10 tahun, Imam Bukhari belajar kepada Syekh Ad-Dakhili, seorang ulama ahli hadits terkenal di Bukhara. Sejak kecil, ia menunjukkan kecerdasan luar biasa dan hafalan yang kuat.

Setahun kemudian, ia mulai mendalami ilmu hadits dan sudah diberi tanggung jawab untuk mengoreksi kesalahan penghafalan hadits gurunya. Ketekunan ini membuatnya berhasil menghafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun.

Perjalanan Mengumpulkan dan Menyusun Hadits Sahih

Saat berusia 16 tahun, Imam Bukhari sudah menyelesaikan hafalan hadits-hadits dari kitab Waki al-Jarrah dan Ibnu Mubarak. Di usia itu juga, beliau mulai melakukan perjalanan ke Mekkah dan Madinah untuk mendalami ilmu hadits lebih dalam.

Dua tahun setelahnya, Bukhari menerbitkan kitab hadits pertamanya yang berjudul Kazaya Shahabah wa Tabi'in. Sejak itu, beliau menghabiskan banyak tahun untuk berkeliling kota demi bertemu para periwayat hadits dan memastikan kebenaran setiap riwayat.

Imam Bukhari terkenal gigih dan teliti. Jika beliau mendengar sebuah hadits, ia ingin mendapatkan informasi secara lengkap. Artinya, ia harus bertemu sendiri dengan orang yang meriwayatkan hadits tersebut agar sanadnya jelas dan terpercaya.

Dalam perjalanannya, beliau mengunjungi banyak tempat, termasuk Syam, Mesir, Ajazair, Basra, menetap di Mekkah dan Madinah selama enam tahun, Kufah, hingga Baghdad.

Menurut Ensiklopedia Islam: Gambaran Surga Hingga Mengenal Imam Bukhari karya Hafidz Muftisany, selama 16 tahun perjalanan panjang itu, Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sekitar 600 ribu hadits dari 80.000 perawi. Dari jumlah tersebut, 300 ribu dihafalnya sendiri.

Hadits-hadits yang dihafal itu terdiri dari 200 ribu hadits tidak sahih dan 100 ribu hadits sahih. Dari hadits sahih ini, beliau memilih 7.275 hadits untuk dimasukkan ke dalam kitabnya, Jami'as-Shahih, atau yang kita kenal sebagai Sahih Al-Bukhari.

Setiap hadits yang dimasukkan melalui seleksi yang sangat ketat dan berhati-hati. Inilah yang membuat Sahih Bukhari menjadi kitab utama dan paling dipercaya oleh para ulama.

Selain Jami'as-Shahih, Imam Bukhari juga menulis beberapa kitab lain, seperti Tarikh as-Sagir, Asami as-Sahabah, al-Kuna, dan al-'Illal, yang semuanya membahas tentang hadits.

Cara Imam Bukhari Menyusun Kitab Shahih

Kitab Shahih Al-Bukhari memiliki nama lengkap Al-Jami Al-Musnad as-Shahih Al-Mukhtasar min Umur Rasulillah wa Sunanih wa Ayyamih.

Dikutip dari buku sebelumnya, yaitu buku Studi Kitab Hadits: dari Muwaththa' Imam Malik hingga Mustadrak Al Hakim, kitab ini lahir dari wasiat guru beliau, Syekh Ishaq, yang berkata, "Hendaklah engkau menyusun sebuah kitab yang khusus berisi sunnah rasul yang shahih."

Wasiat itu menjadi dorongan bagi Imam Bukhari untuk membuat kitab yang berbeda dari yang lain, yaitu hanya memuat hadits yang benar-benar shahih. Penyusunan kitab ini memakan waktu 16 tahun, dimulai di Masjidil Haram Mekah dan rampung di Masjid Nabawi Madinah.

Sebelum mencantumkan sebuah hadits, Imam Bukhari selalu melakukan salat Istikharah dua rakaat. Murid beliau, Al-Firbari, pernah mendengar beliau berkata:

"Aku menyusun Al-Jami' Al-Musnad Al-Shahih ini di Masjidil Haram. Aku tidak memasukkan sebuah hadits pun ke dalam kitab ini sebelum aku salat istikharah dua rakaat. Setelah itu, aku baru merasa yakin kalau hadits itu shahih."

Kriteria Hadits Shahih Menurut Imam Bukhari

Menurut Imam Bukhari, sebuah hadits bisa disebut shahih jika sanadnya bersambung langsung dari guru ke murid. Selain itu, orang yang meriwayatkan (rawi) harus adil, dhobit, teliti, jujur, dan memiliki pengalaman panjang dalam menuntut ilmu.

Ini sedikit berbeda dengan kriteria umum hadits shahih pada waktu itu, yang biasanya hanya menekankan sanad bersambung, rawi dhobit dan adil, serta tidak ada cacat atau syadz dalam hadits.

Selain itu, Imam Bukhari juga menata kitabnya dengan rapi. Hadits-hadits dibagi menjadi beberapa kitab, dan setiap kitab dibagi lagi menjadi bab-bab khusus. Para ulama muhaddisin sepakat bahwa Shahih Al-Bukhari merupakan kitab hadits paling shahih setelah Al-Qur'an.

Fitnah dan Tantangan yang Menimpa Imam Bukhari

Dikutip dari Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa, ketika Imam Bukhari berada di Naisabur, ia sempat menjadi sasaran fitnah orang-orang dengki. Mereka menuduhnya berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk. Tuduhan ini membuat gurunya, az-Zihli, marah besar.

Imam Bukhari sendiri membela diri dengan tegas. Ia berkata, "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW yang paling utama adalah Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, kemudian Ali RA. Dengan keyakinan inilah aku hidup, mati, dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah. Barang siapa menuduhku, ia pendusta."

Namun, gurunya tetap murka. Az-Zihli menegaskan bahwa Bukhari tidak boleh tinggal di negeri itu. Demi keselamatan diri, Imam Bukhari pun memilih meninggalkan Naisabur.

Ia pun kembali ke kampung halamannya, Bukhara, dan disambut luar biasa oleh masyarakat di sana. Di kampung halamannya, Bukhari mengadakan majelis pengajian dan pembelajaran hadits selama bertahun-tahun.

Sayangnya, fitnah kembali datang, kali ini dari penguasa Bukhara, Khalid bin Ahmad az-Zihli. Penyebabnya adalah sikap Bukhari yang menekankan pentingnya ilmu dan tidak mau merendahkannya.

Ketika diminta mengirimkan karyanya, Jami'us Shahih dan Tarikh, Imam Bukhari menolak, sambil berkata, "Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika Tuan keberatan, keluarkan larangan agar aku tidak mengadakan majelis. Dengan begitu, aku punya alasan di sisi Allah kelak bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu."

Akibatnya, ia diusir dari kampung halamannya. Meski berat, keputusan ini menunjukkan keteguhan Imam Bukhari dalam menjaga kebenaran dan martabat ilmu hadits.

Akhir Perjalanan Hidup Imam Bukhari

Pada tahun 864, Imam Bukhari melakukan perjalanan ke Nisyapur, Iran. Namun karena kondisi politik saat itu, beliau pindah ke Khartand, sebuah desa kecil dekat Samarkand, Uzbekistan, dan menetap di sana hingga sisa hidupnya.

Imam Bukhari wafat pada usia 62 tahun, tepatnya 31 Agustus 870 M atau 256 H. Beliau dimakamkan di Kompleks Imam al-Bukhari, Desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari Samarkand.

Dengan wafatnya Imam Bukhari, umat Islam kehilangan seorang ulama besar yang karyanya, terutama Shahih Al-Bukhari, tetap menjadi rujukan utama hingga hari ini.

Demikian biografi Imam Bukhari, ulama besar yang jasanya dalam mengumpulkan dan menyusun Shahih Al-Bukhari menjadikan beliau panutan bagi umat Islam hingga kini. Dengan mengenal perjalanan hidup dan metode penyusunan haditsnya, kita bisa lebih memahami pentingnya ilmu hadits yang shahih dalam Islam.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads