Kisah Tobat Habib al-'Ajami, Dari Rentenir hingga Menjadi Wali Allah

Kisah Tobat Habib al-'Ajami, Dari Rentenir hingga Menjadi Wali Allah

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 04 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Tobat Habib al-Ajami, Dari Rentenir hingga Menjadi Wali Allah
ilustrasi kisah Foto: Getty Images/f9photos
Jakarta -

Nama Habib bin Muhammad al-'Ajami al-Bashri dikenal dalam sejarah Islam sebagai salah satu tokoh sufi besar. Namun, sedikit yang tahu bahwa sebelum mencapai derajat mulia tersebut, hidup Habib al-'Ajami justru dipenuhi kesombongan, kekayaan, dan praktik riba yang membuat banyak orang menjauh darinya.

Habib al-'Ajami adalah seorang Persia yang menetap di Bashrah. Pada masa mudanya, ia hidup bergelimang harta. Kekayaannya bukan hanya membuatnya berkuasa, tetapi juga angkuh. Ia dikenal sebagai penagih utang yang kejam. Setiap hari ia berkeliling kota, menagih piutang dari orang-orang yang berutang kepadanya. Jika mereka tak mampu membayar, ia mencari-cari alasan agar tetap mendapatkan uang, bahkan dengan dalih sepatunya aus karena perjalanan.

Kisah pertobatannya direkam oleh sufi besar Fariduddin Attar dalam kitab Tadzkiratul Auliya, yang hingga kini menjadi rujukan dalam literatur tasawuf.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa Daging yang Berubah Menjadi Darah

Suatu hari, Habib al-'Ajami mendatangi rumah seorang debitur. Namun, orang yang ia cari tak ada di rumah. Yang ditemuinya hanyalah sang istri, seorang perempuan sederhana yang mengaku tidak memiliki apa-apa. Ia hanya menyebutkan sisa leher kambing yang baru saja disembelih.

ADVERTISEMENT

Habib al-'Ajami menerima sisa daging itu dan meminta perempuan tersebut memasaknya. Masalahnya, sang perempuan tidak memiliki minyak dan roti. Habib pun menyediakannya, namun dengan syarat biaya itu harus diganti.

Ketika daging telah matang dan hendak dihidangkan, datang seorang pengemis yang meminta makanan. Alih-alih iba, Habib al-'Ajami justru menghardik pengemis itu dengan kata-kata kasar, khawatir hartanya berkurang jika dibagi.

Pengemis itu pun pergi dengan kecewa. Namun, sebelum hidangan disajikan, sang perempuan membuka tutup belanga dan terperanjat. Daging yang dimasak berubah menjadi darah hitam. Dengan tubuh gemetar, ia memanggil Habib dan menegurnya sambil menangis, menyebut peristiwa itu sebagai akibat dari riba dan kekerasan hatinya.

Momen itu menjadi titik balik dalam hidup Habib al-'Ajami. Dadanya seakan terbakar penyesalan yang tak pernah padam.

Keesokan harinya, Habib al-'Ajami kembali berkeliling untuk menagih utang. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan anak-anak yang sedang bermain. Namun, bukannya menyambut, anak-anak itu justru berteriak ketakutan dan saling mengajak menjauh, menyebut Habib al-'Ajami sebagai lintah darat yang membawa kutukan.

Ucapan polos itu menusuk jauh ke relung hati Habib al-'Ajami. Ia terjatuh dan menangis. Di saat itulah, ia bersimpuh dan bertobat kepada Allah SWT dengan sepenuh jiwa.

Habib al-'Ajami kemudian mengumumkan kepada warga bahwa siapa pun boleh datang dan mengambil hartanya. Orang-orang pun berbondong-bondong ke rumahnya. Seluruh kekayaannya habis, bahkan ia sampai memberikan cadar istrinya dan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Dalam keadaan hampir tanpa busana, Habib meninggalkan rumah dan menyepi di sebuah pertapaan di tepi Sungai Eufrat. Ia mengabdikan hidupnya untuk ibadah dan menimba ilmu dari Hasan al-Bashri.

Namun, kehidupan fakir itu bukan tanpa ujian. Istrinya masih menuntut nafkah, sementara Habib pulang setiap hari dengan tangan kosong. Ketika ditanya dari mana ia bekerja, Habib hanya menjawab bahwa ia bekerja pada Zat Yang Maha Pemurah, yang akan memberi upah pada waktunya.

Hari kesepuluh menjadi hari yang mengguncang batinnya. Ia bingung, apa yang bisa ia bawa pulang?

Tanpa diduga, Allah SWT mengutus para pesuruh-Nya dalam rupa manusia. Mereka datang membawa gandum, domba, minyak, madu, dan berbagai bahan makanan. Pesan yang disampaikan sederhana namun sarat makna: jika Habib melipatgandakan jerih payahnya, Allah akan melipatgandakan balasan-Nya.

Saat Habib al-'Ajami pulang dengan perasaan sedih, ia justru disambut aroma masakan dan sikap lembut istrinya. Mendengar penjelasan sang istri, Habib terperangah. Ia menyadari bahwa janji Allah SWT benar adanya.

Sejak peristiwa itu, Habib al-'Ajami sepenuhnya memalingkan diri dari urusan dunia. Ia menapaki jalan sufi dengan kesungguhan. Doa-doanya menjadi mustajab, dan berbagai karamah pun mengiringi hidupnya.

Habib al-'Ajami, yang dahulu dikenal sebagai rentenir dan lintah darat, akhirnya dikenang sebagai hamba Allah SWT yang dekat dengan-Nya. Kisah hidupnya menjadi pelajaran bahwa pintu taubat selalu terbuka, bahkan bagi mereka yang pernah terjerumus paling dalam.

Wallahu a'lam.




(dvs/lus)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads