Direktorat Jenderal Pendidikan Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng kalangan Gus dan Ning hingga influencer untuk menjalankan Program Quick Win pengembangan pesantren. Program ini disiapkan untuk menjawab berbagai tantangan pesantren, mulai dari pencegahan kekerasan, penguatan kemandirian, hingga adaptasi terhadap perkembangan digital.
Program ini juga dihadirkan guna mencegah kasus kekerasan tidak kembali terulang, sehingga pesantren terjaga sebagai lembaga pendidikan yang aman dan nyaman.
Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, mengatakan pihaknya telah menyiapkan lima program pengembangan pesantren. Program tersebut dirancang dengan melibatkan kalangan pesantren agar pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program ini didesain dari, oleh, dan untuk pesantren. Karenanya, dalam pelaksanaannya, Kemenag bersinergi dengan kalangan Gus dan Ning sebagai penerus perjuangan pesantren," ujar Basnang dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).
"Kemenag juga melibatkan sejumlah influencer untuk mengakselerasi proses adaptasi transformasi digital dan berbagi praktik baik di kalangan pesantren," sambungnya.
5 Program Pengembangan Pesantren
1. SafeSantri
SafeSantri hadir dalam rangka menguatkan eksistensi pesantren sebagai lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah. Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren.
Kementerian Agama telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) SafeSantri yang dirilis Menteri Agama Nasaruddin Umar pada momen Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2026. Melalui Satgas SafeSantri, Kemenag menghadirkan sistem pencegahan, kanal pengaduan, pendampingan, hingga respons cepat.
"Dalam program perlindungan ini, Kemenag melibatkan para Gus dan Ning sebagai figur teladan internal pesantren. Tokoh muda seperti Gus Kautsar serta beberapa Ning menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam Satgas SafeSantri," ungkap Basnang.
"Fokus kami, santri datang untuk menuntut ilmu dan membangun masa depan, bukan untuk membawa pulang trauma," sambungnya.
2. Rekognisi Ijazah
Program ini bertujuan menguatkan pengakuan atas pendidikan pesantren, sekaligus memperluas akses para santri untuk melanjutkan pendidikan di berbagai bidang. Penguatan rekognisi juga diharapkan memperbesar peluang kerja dan pengembangan karier lulusan pesantren. Dengan demikian, capaian pendidikan dan kompetensi santri dapat memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.
"Jangan sampai masa depan santri terhambat, bukan karena kurang ilmunya, melainkan karena belum diakui status pendidikannya," ucap Basnang.
3. Pesantren Adaptif & Mandiri
Program ini berfokus pada penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Pasalnya, pesantren masa kini dihadapkan pada tantangan AI dan perkembangan Science, Technology, Engineering & Mathematics.
Selain penguatan teknologi, program ini mencakup modernisasi tata kelola kelembagaan dan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren. Melalui pendekatan tersebut, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Basnang mengungkapkan pelaksanaan program ini melibatkan influencer dan praktisi bisnis/kewirausahaan seperti Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher, yang akan berbagi pengalaman manajemen dan kemandirian usaha kepada para santri.
"Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, melainkan juga ruang untuk menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja baru," ungkapnya.
4. Santri 5.0
Program ini bertujuan mencetak santri yang tidak hanya memahami khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berkembang. Untuk itu, penguatan keterampilan teknis dan digital, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, serta karakter keagamaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi santri yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Program kecakapan masa depan ini didukung oleh keterlibatan para influencer kreator konten seperti Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher untuk menginspirasi serta melatih kreativitas dan etos kerja santri di era digital.
"KIta ingin santri itu kuat ilmu agamanya, kuat pula keterampilannya," tambah Basnang.
5. Dakwah Digital
Dakwah Digital bertujuan menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama, memahami media sosial, algoritma, AI, dan konten kreatif agar dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda. Program ini menjadi respons terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan.
Dakwah pesantren diharapkan tidak hanya hadir melalui mimbar dan ruang pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Meski demikian, transformasi dakwah tetap harus berpijak pada kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.
Dalam menjalankan program ini, Basnang mengatakan pihaknya menggandeng tokoh dakwah muda serta kreator konten religi seperti Habib Husein Ja'far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher, bersama para Gus dan Ning yang aktif berdakwah di ruang digital.
"Kalau anak muda hari ini lebih banyak berada di depan layar daripada di depan mimbar, maka dakwah harus hadir secara kreatif di layar mereka," pungkas Basnang.
