Pondok pesantren memiliki tradisi pendidikan yang khas dalam mengajarkan ilmu agama Islam. Di dalamnya, santri belajar mengaji, mendalami kitab kuning, mengikuti pengajian bersama kiai, hingga membiasakan diri menjalani kehidupan yang disiplin. Namun, tahukah detikers bahwa santri di pesantren juga dikenal dengan istilah santri mukim dan santri kalong?
Kedua istilah tersebut merujuk pada kelompok santri yang dibedakan berdasarkan tempat tinggal dan kebiasaan mereka dalam mengikuti kegiatan pesantren. Santri mukim tinggal di pondok atau asrama, sedangkan santri kalong umumnya tinggal di rumah sendiri dan datang ke pesantren untuk belajar.
Pembagian ini telah dikenal dalam tradisi pesantren di Indonesia. Meski sama-sama menuntut ilmu agama, kehidupan sehari-hari santri mukim dan santri kalong memiliki sejumlah perbedaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa pengertian santri mukim dan santri kalong? Bagaimana karakteristik keduanya dalam kehidupan pesantren? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Santri Mukim?
Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai menjelaskan santri mukim adalah santri yang tinggal menetap di lingkungan pondok pesantren selama mengikuti pendidikan. Mereka biasanya berasal dari daerah yang jauh sehingga memilih tinggal di asrama yang disediakan pesantren.
Karena tinggal di pondok, kehidupan santri mukim umumnya tidak hanya diisi dengan kegiatan belajar di kelas atau mengikuti pengajian. Mereka juga menjalani aktivitas sehari-hari bersama santri lainnya, mulai dari beribadah, makan, beristirahat, hingga mengikuti kegiatan yang telah diatur oleh pengelola pesantren.
Kebiasaan tinggal bersama ini menjadi salah satu ciri kehidupan pesantren. Santri belajar mengatur waktu, menaati tata tertib, menjaga kebersihan lingkungan, serta membangun hubungan sosial dengan teman-teman dari berbagai daerah.
Di sejumlah pesantren, santri mukim yang sudah lama menetap juga dapat memperoleh tanggung jawab tambahan. Mereka bisa membantu mengurus kebutuhan pesantren sehari-hari atau membimbing santri yang lebih muda dalam mempelajari materi dasar, termasuk mengaji kitab.
Tanggung jawab tersebut biasanya diberikan sesuai dengan kebijakan dan tradisi masing-masing pesantren. Dengan demikian, menjadi santri mukim tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kemandirian dan tanggung jawab.
Apa Itu Santri Kalong?
Berbeda dengan santri mukim, santri kalong adalah santri yang mengikuti kegiatan belajar di pesantren tanpa menetap di asrama. Mereka umumnya berasal dari desa atau wilayah yang berada di sekitar pesantren sehingga dapat pulang ke rumah setelah kegiatan belajar selesai.
Dalam buku Tradisi Pesantren, Zamakhsyari Dhofier menjelaskan bahwa santri kalong merupakan murid yang tinggal di desa-desa sekitar pesantren dan bolak-balik dari rumah untuk mengikuti pelajaran.
Pola belajar ini memungkinkan santri tetap mendapatkan pendidikan agama dari kiai atau ustaz tanpa harus tinggal di lingkungan pondok.
Sebagai contoh, seorang anak yang tinggal di desa dekat pesantren dapat datang pada sore hari untuk mengikuti pengajian. Setelah kegiatan selesai, ia kembali ke rumah dan menjalani aktivitas bersama keluarganya.
Kegiatan belajar santri kalong bisa berlangsung pada waktu-waktu tertentu sesuai jadwal pengajian yang diselenggarakan pesantren. Karena itu, mereka tetap perlu mengatur waktu agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Meski tidak tinggal di asrama, santri kalong tetap menjadi bagian dari lingkungan pendidikan pesantren. Mereka dapat mempelajari ilmu agama, mengikuti pengajian kitab, dan memperoleh bimbingan dari guru sesuai program yang tersedia.
Apakah Semua Pesantren Memiliki Santri Mukim dan Santri Kalong?
Tidak selalu. Komposisi santri di setiap pesantren dapat berbeda, bergantung pada sistem pendidikan, ketersediaan asrama, lokasi, dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Zamakhsyari Dhofier menjelaskan bahwa komposisi santri mukim dan santri kalong dapat menjadi salah satu gambaran mengenai karakter pesantren. Pesantren yang memiliki banyak santri dari daerah jauh umumnya membutuhkan fasilitas tempat tinggal lebih besar. Sebaliknya, pesantren yang melayani masyarakat di sekitarnya dapat memiliki banyak santri yang pulang-pergi.
Dalam perkembangannya, ada pula pesantren yang menggabungkan pendidikan berasrama dengan kegiatan belajar bagi santri yang tinggal di luar pondok. Model ini memungkinkan pesantren melayani kebutuhan pendidikan agama masyarakat dengan kondisi yang beragam.
Oleh karena itu, istilah santri mukim dan santri kalong perlu dipahami sebagai dua pola keikutsertaan dalam pendidikan pesantren, bukan sebagai ukuran tingkat keilmuan atau kesungguhan seseorang dalam menuntut ilmu.
