Sepanjang September 2026, setidaknya tujuh masjid di berbagai wilayah India telah dihancurkan. Sementara itu, sejumlah masjid lain menghadapi surat perintah penggusuran, tantangan hukum, serta ancaman dari kelompok nasionalis Hindu.
Dilansir dari situs Muslim Network TV, baru-baru ini terdapat laporan yang mendokumentasikan meningkatnya tekanan terhadap tempat ibadah umat Islam yang dirilis oleh Islamophobia Monitor. Dua masjid di India dihancurkan sepenuhnya, sedangkan lima lainnya dihancurkan sebagian selama September 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelima bangunan itu memiliki nilai sejarah penting, masjid-masjid tersebut bahkan telah berdiri sejak beberapa abad lalu. Dalam laporan berjudul India's Mosques Under Attack (Masjid-masjid di India di Bawah Serangan) juga mendokumentasikan delapan kasus lainnya yang melibatkan pemberitahuan administratif, denda, hingga pembatasan pembangunan dan sengketa lahan masjid.
Tujuh kasus terjadi di Uttar Pradesh, wilayah yang diperintah oleh partai nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP) dan satu kasus lainnya terjadi di Maharashtra. Pihak berwenang juga membenarkan adanya tindakan penghancuran tersebut dengan alasan adanya pembangunan tanpa izin, penyerobotan lahan, serta kebutuhan untuk pelebaran jalan.
Di sisi lain, komunitas muslim mempertanyakan legalitas dan urgensi dari sejumlah tindakan itu. Di kota Ujjain, Madhya Pradesh, beberapa masjid bersejarah mengalami penghancuran sebagian demi kepentingan perluasan jalan menjelang Simhastha Kumbh Mela 2025, sebuah ziarah besar umat Hindu.
Kemudian Masjid Shahi yang usianya sekitar 600 tahun juga dihancurkan pada 28 September setelah pihak muslim setuju membongkar sendiri bagian bangunan sepanjang tiga kaki (sekitar 90 cm). Ketika proses pembongkaran berlangsung, sebuah menara runtuh, merusak bagian dalam masjid dan memicu aksi protes.
Dua masjid lainnya termasuk Masjid Medina yang berusia satu abad juga mengalami kerusakan pada sebagian bangunannya selama September 2026. Di Delhi, otoritas kota menghancurkan sebagian Madina Masjid pada 23 September dengan alasan kebutuhan pelebaran jalan.
Perwakilan komunitas muslim mempertanyakan waktu pelaksanaan pembongkaran tersebut, mengingat sidang pengadilan terkait masjid itu sempat ditunda. Kemudian di Saharanpur, Uttar Pradesh, pihak berwenang menghancurkan sebuah masjid berusia sekitar 150 tahun pada 5 September 2026 menyusul adanya pengaduan dari seorang mantan pejabat, Bajrang Dal.
Pihak pengurus masjid menegaskan bangunan tersebut berdiri di atas lahan wakaf muslim yang diakui secara hukum, serta memiliki dokumen sejarah yang mendukung kepemilikannya. Penghancuran ini dilakukan setelah pengadilan menolak banding terhadap perintah penggusuran tersebut. Pengadilan Tinggi Allahabad kemudian menangguhkan penagihan denda yang nilainya melebihi 64 juta rupee India ($670.000).
Sebuah masjid lain yang sedang dalam proses pembangunan di distrik Faridabad, Haryana, dirobohkan. Menurut warga muslim setempat, tindakan tersebut didahului pengaduan dari pihak-pihak yang berafiliasi dengan organisasi Hindutva.
Selain pembongkaran, pihak berwenang juga mengeluarkan surat pemberitahuan atau memulai proses hukum terhadap sejumlah masjid lainnya. Di Agra, sebuah yayasan Muslim menerima surat perintah penggusuran serta denda sebesar 300 juta rupee India ($3,14 juta) terkait sebuah masjid yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun.
Masjid-masjid lain di Sambhal, Meerut, Moradabad, dan Mumbai menghadapi sengketa kepemilikan lahan, tuntutan untuk melakukan investigasi arkeologis, atau pembatasan administratif.
Laporan tersebut juga mendokumentasikan pidato provokatif oleh kelompok ekstremis Hindu, ancaman untuk menempatkan arca Hindu di dalam masjid, serta serangan yang terjadi selama prosesi keagamaan.
Pada tanggal 29 September 2026, berbagai organisasi muslim menggelar unjuk rasa di New Delhi untuk memprotes penargetan terhadap masjid-masjid. Polisi menahan beberapa pengunjuk rasa, termasuk tiga anggota parlemen dari kalangan muslim.
Council on American-Islamic Relations dan Indian American Muslim Council secara terpisah mendesak adanya intervensi internasional untuk melindungi warisan keagamaan Muslim di India. Islamophobia Monitor menyatakan temuan mereka didasarkan pada laporan yang tersedia untuk umum dan bukan merupakan penghitungan menyeluruh secara nasional.
Organisasi tersebut menyerukan dilakukannya investigasi independen, perlindungan terhadap masjid-masjid bersejarah, penguatan langkah pencegahan terhadap pembongkaran sewenang-wenang, serta penegakan hukum yang setara terkait properti keagamaan.
