Syair berjudul Al-I'tiraf tentu sudah akrab di telinga kaum muslim. Syair yang berisi bait-baik merdu nan syahdu ini kerap dilantunkan di masjid menjelang azan dikumandangkan. Syair Al-I'tiraf merupakan kumpulan untaian Abu Nawas dalam menyiratkan kerendahan hati dan memohon belas kasih Sang Pencipta.
Lantas, bagaimana lirik dan makna Syair Abu Nawas?
Lirik Syair Abu Nawas
Mengutip buku Kontribusi Sejarah Peradaban Islam terhadap Masa Milenial pada Bidang Sastra karya Tenny Sudjatnika, berikut untaian lengkap Syair Abu Nawas:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bait 1:
إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً ۞ وَلاَ أَقْوَى عَلَى النَّارِ الجَحِيْمِ
Ilāhī lastu lil-firdawsi ahlā, wa lā aqwā 'alā nāril-jaḥīmi.
"Wahai Tuhanku, hamba-Mu ini tidaklah layak memasuki surga Firdaus-Mu, dan tidaklah sanggup menahan siksa api neraka-Mu."
Bait 2:
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي ۞ فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Fahab lī tawbatan waghfir dzunūbī, fa innaka ghāfirudz-dzanbil-'aẓīmi.
"Berilah hamba-Mu ini ampunan dan hapuskanlah dosa-dosaku, sungguh hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun."
Bait 3:
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ ۞ فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الجَلاَلِ
Dzunūbī mitslu a'dādir-rimāli, fahab lī tawbatan yā dzal-jalāli.
"Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai, anugerahilah ampunan-Mu wahai Yang Maha Agung."
Bait 4:
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ ۞ وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
Wa 'umrī nāqiṣun fī kulli yawmin, wa dzanbī zā-idun kaifa-ḥtimālī.
"Dan umurku berkurang setiap harinya sedang dosaku terus bertambah, adakah jalan selamat bagiku? Ya Allah."
Bait 5:
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ ۞ مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Ilāhī 'abdukal-'āṣī atāka, muqirran bidz-dzunūbi wa qad da'āka.
"Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadap-Mu, mengakui dosa-dosanya, memohon maghfirah-Mu."
Bait 6:
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ ۞ وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ
Fa in taghfir fa anta lidzāka ahlun, wa in tathrud faman narjū siwāka.
"Hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan, bila Engkau campakkan aku, kepada siapa dan kemana aku mesti berharap selain dari-Mu?. Ya Allah."
Makna Syair Abu Nawas
Mengutip buku Terampil Berbicara: Seni Menaklukkan Setiap Dimensi Wicara karya Emhaf, syair ini sangat masyhur karena memperlihatkan bagaimana Abu Nawas merayu Sang Pencipta, memohon belas kasih dan ampunan kepada Allah SWT.
Melalui bait-baitnya, Abu Nawas tidak bersikap sombong dan menganggap amal ibadahnya cukup untuk bisa mendapatkan Surga Firdaus. Bahkan ia merasa tidak layak untuk mendapatkan nikmat yang sangat mulia itu.
Kendati demikian, ia menyatakan bahwa dirinya tidak sanggup untuk menanggung siksa api neraka. Abu Nawas memohon belas kasih atas kelemahan dirinya dalam menghadapi ganjaran dosa. Ia berpasrah diri dan memohon ampunan agar Allah SWT mau memaafkan segala dosa yang telah diperbuatnya.
Mengenal Sosok Abu Nawas
Syair Al-I'tiraf merupakan kumpulan bait ciptaan Abu Nawas. Nama aslinya adalah Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami (750-810M), beliau merupakan seorang pujangga Arab yang lahir di Kota Ahvaz Persia dan menjadi penyair legendaris di masa pemerintahan khilafah Abbasiyah (762-814M/145-199H).
Ayahnya bernama Hanif, prajurit era Khalifah Marwan II dari Dinasti Umayyah, sedangkan ibunya bernama Golban, seorang penenun kain asal Persia. Usai ayahya wafat di usia 6 tahun, ibunya menyerahkan Abu Nawas pada penjaga toko asal Yaman bernama Sa'ad al-Yashira.
Masa remajanya dihabiskan dengan bekerja di toko di daerah Basrah, lalu hijrah ke Kufah dan mendalami beberapa bidang ilmu. Nama Abu Nawas harum sebagai penyair di era Sultan Harun ar-Rasyid. Beliau wafat pada usia 54 tahun di Baghdad dan dikenal sebagai penyair cendekia dan jenaka.
