Rasulullah SAW meninggal dunia pada 12 Rabiulawal tahun 11 H. Peristiwa penuh duka itu menandakan berakhirnya periode kenabian dan menyisakan warisan ajaran Islam hingga kini.
Sang rasul meninggal di usia ke-63 tahun lebih empat hari. Dilansir dari Sirah Nabawiyah susunan Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri yang diterjemahkan Kathur Suhardi, Rasulullah SAW menunjukkan tanda-tanda perpisahan ketika sedang melaksanakan haji wada'.
Setelah haji wada', kesehatan Nabi SAW mulai menurun. Awal bulan Safar tahun 11 Hijriah, Nabi SAW pergi ke Uhud. Beliau melaksanakan salat atas orang-orang yang mati syahid seperti orang yang hendak berpisah dengan orang yang masih hidup dan orang yang sudah wafat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, beliau naik ke atas mimbar dan berpidato, "Sesungguhnya aku lebih dahulu meninggalkan kalian, karena aku menjadi saksi atas kalian, dan demi Allah aku benar-benar akan melihat tempat kembaliku saat ini. Aku telah diberi kunci-kunci gudang dunia atau kunci-kunci dunia, dan demi Allah, aku tidak takut kalian akan musyrik sepeninggalku. Tetapi aku takut kalian akan bersaing dalam masalah ini."
Pada Senin, 29 Safar tahun 11 Hijriah, sepulang dari Baqi', beliau mengeluhkan sakit kepala dan suhu tubuhnya meningkat. Rasulullah SAW mengalami sakit selama beberapa hari.
Pada pekan terakhir masa sakitnya, beliau memutuskan pindah ke rumah istrinya, Aisyah RA. Tepat lima hari sebelum wafat, suhu tubuh Nabi SAW semakin tinggi, beliau lalu bersabda: "Guyurkan air dari manapun ke tubuhku, agar dapat menemui orang-orang dan memberikan nasihat kepada mereka."
Setelah merasa agak membaik, beliau masuk ke dalam masjid dengan kondisi kepala yang terikat, lalu beliau duduk di atas mimbar dan berpidato di hadapan orang-orang yang duduk di hadapan beliau.
Hari Kamis, tepat empat hari sebelum kepergiannya, sakit yang diderita oleh Nabi Muhammad SAW tidak kunjung membaik. Di tengah sakitnya, Nabi Muhammad SAW tetap mengimami salat lima waktu.
Namun, menjelang salat Isya kondisi Nabi Muhammad SAW semakin bertambah parah, sehingga beliau tidak sanggup lagi untuk pergi ke masjid. Dan beliau meminta Abu Bakar untuk menggantikannya sebagai imam.
Pada detik-detik terakhir, Aisyah RA menarik tubuh Rasulullah SAW ke pangkuannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Sebab, Rasulullah SAW meninggal pada saat hari gilirannya, berada di rumahnya.
Baca juga: Siapakah Imam Salat Jenazah Rasulullah SAW? |
Orang yang Memandikan Jenazah Rasulullah SAW
Dilansir dari buku Kisah-kisah dalam Al-Qur'an yang disusun Quraish Shihab, jasad Nabi Muhammad SAW dimandikan pada Selasa, 13 Rabiulawal tahun 11 H. Jenazah beliau dibasuh menggunakan air sumur tempat beliau sering mandi dan minum.
Orang-orang yang terlibat dalam prosesi pemandian jasad Nabi SAW adalah Ali bin Abi Thalib RA bersama, Fadhal bin Abbas, Abbas bin Abdul Muthalib, Qustam bin Abbas, Usamah bin Zaid, dan pembantu Nabi SAW, yaitu Syuqran yang menuangkan air. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib memandikannya dengan baju yang dipakainya.
Dikisahkan dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW karya K H Moenawar Chalil, sebelum memandikan Nabi SAW terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat mengenai pakaian yang sedang dipakai. Apakah pakaian itu harus dibuka sebagaimana kebiasaan jenazah-jenazah lain yang dimandikan atau langsung dimandikan bersama pakaian beliau.
Perbedaan pendapat itu segera diselesaikan dengan datangnya ilham atau suara yang terang dari orang yang tidak diketahui rupanya. Ilham itu menyatakan agar jenazah Nabi SAW dimandikan dengan pakaian yang beliau kenakan sewaktu wafat.
Pada waktu jenazah Nabi SAW dimandikan, Ali menyandarkan tubuh beliau ke dadanya sedangkan Abbas dan Qustam membolak-balikkan tubuh beliau bersama Ali. Sementara itu, Usamah dan Syuqran menyiramkan air.
Karena jenazah Nabi SAW bersandar pada Ali bin Abi Thalib, maka Ali-lah yang menggosok jenazah sang rasul dari luar baju. Dengan begitu, aurat Nabi SAW tidak tampak sedikit pun sebagaimana jenazah-jenazah lain yang sedang dimandikan.
Menurut beberapa riwayat, pada waktu jenazah Nabi SAW dimandikan datanglah seorang sahabat dari kaum Anshar yang bernama Aus bin Khauli dari suku Khazraj. Dia memohon kepada Ali agar diperkenankan ikut serta memandikan jenazah beliau, Ali mengiyakan permintaan tersebut.
Dalam riwayat lain, air yang digunakan untuk memandikan jenazah Rasulullah SAW yang pertama adalah air bersih, yang kedua adalah air dan daun bidara, dan yang ketiga dengan air dan kapur. Jenazah beliau dimandikan tiga kali.
Pada waktu mereka sedang memandikan jenazah Nabi SAW, dikatakan tercium bau semerbak yang keluar dari tubuh beliau. Ali berkata, "Demi ayahku, engkau dan ibuku, alangkah harumnya baumu selagi hidup dan sesudah wafat."
Nabi SAW Dimakamkan di Kamar Aisyah RA
Mulanya, para sahabat berdebat mengenai lokasi pemakaman jasad Rasulullah SAW. Namun, pada akhirnya Abu Bakar angkat suara menyampaikan sabda Rasulullah SAW bahwa seorang nabi yang meninggal dunia hendaknya dimakamkan di tempat wafatnya. Peristiwa ini tercantum dalam hadits berikut:
Aisyah berkata, "Ketika Rasulullah SAW wafat, mereka berselisih tentang tempat penguburannya. Maka Abu Bakar berkata, 'Aku mendengar Rasulullah SAW berkata sesuatu yang tidak aku lupakan, beliau berkata: Allah tidak mengambil (nyawa) seorang Nabi kecuali di tempat yang Dia inginkan untuk dikuburkan.' Maka mereka menguburkan beliau di tempat tidurnya." (HR Tirmidzi)
Pada malam Rabu, 14 Rabiulawal, Rasulullah SAW dimakamkan persis di kamar tempat pembaringan beliau di kamar Sayyidah Aisyah RA. Saat itu, posisi kamar Sayyidah Aisyah RA berada di samping dinding Masjid Nabawi. Namun karena adanya pembangunan dari masa ke masa, kamar tersebut kini terletak di dalam area Masjid Nabawi, tepatnya di sudut tenggara. Lokasinya tidak jauh dari mihrab utama dan menjadi salah satu area yang paling dijaga.
Makam Nabi Muhammad SAW kini ditandai dengan kubah hijau, yang terlihat dari luar masjid.
Wallahu a'lam.
