Siapakah Imam Salat Jenazah Rasulullah SAW?

Siapakah Imam Salat Jenazah Rasulullah SAW?

Lusiana Mustinda - detikHikmah
Selasa, 22 Sep 2026 18:30 WIB
Pengunjung berdoa di depan makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar as Siddiq dan Umar bin Kattab di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Sabtu (15/7/2023). Ziarah di makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya tersebut menjadi tujuan umat Islam yang beribadah di Masjid Nabawi. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nym.
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Jakarta -

Wafatnya Rasulullah SAW menjadi duka mendalam bagi para sahabat. Setelah beliau wafat, muncul sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan, termasuk mengenai tempat pemakaman dan siapa yang akan mengimami salat jenazah Rasulullah SAW.

Persoalan siapa yang menjadi imam salat jenazah Rasulullah SAW menjadi pembahasan tersendiri. Sebab menjadi imam salat jenazah Rasulullah tentu dipandang menjadi suatu kehormatan yang sangat besar bagi para sahabat.

Wafatnya Rasulullah SAW

Dikutip dalam buku Kitab Fikih Sehari-hari tulisan A.R. Shohibul Ulum, Nabi Muhammad SAW wafat pada hari Senin bertepatan dengan 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah, saat itu beliau berusia 63 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imam At-Tirmidzi dalam bukunya Asy-Syamail Al Muhammadiyah menjelaskan hadits dari Muhammad bin Abu Umar yang meriwayatkan kepada kami dari Sufyan bin Uyaynah, dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya yang berkata, "Rasulullah SAW wafat pada hari Senin. Jasad beliau disemayamkan pada hari Senin tersebut hingga malam Selasa (dan hari Selasa), lalu dimakamkan pada malam hari."

Pada hari yang sama, sebelum Rasulullah SAW dimandikan, para sahabat bergegas menyiapkan pemilihan khalifah untuk mengurusi urusan kaum muslimin, sementara para Ahlul Bait mengurus jenazah Rasulullah SAW untuk melakukan perjalanan panjang menghadap pencipta-Nya.

ADVERTISEMENT

Di sekitar jasad Rasulullah, telah berkumpul sepupu dan menantu beliau, Ali bin Abi Thalib, paman beliau Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan putranya Al-Fadhl bin Al Abbas serta orang-orang Bani Hasyim lainnya.

Dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib

Dalam Muhammad The Messenger : Periode Futuh Mekah tulisan Samih Athf Az-Zain menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib memandikan jasad Rasulullah SAW, ia mencium aroma yang wangi semerbak setiap kali ia menyirami jasad Rasulullah SAW dengan air.

Ia berkata, "Tebusanmu ibu dan bapakku, betapa wanginya engkau baik ketika hidup maupun setelah wafat, wahai Rasulullah. Seandainya engkau tidak memerintahkan aku untuk bersabar dan melarang untuk berkeluh kesah! Tebusanmu ibu dan bapakku, kesabaran itu teramat indah kecuali jika musibah itu menimpa dirimu. Berkeluh kesah itu amatlah buruk kecuali berkeluh kesah atas apa yang menimpa dirimu. Sebutkanlah kami di sisi Tuhanmu dan jadikanlah kami bagian dari perhatianmu."

Ali bin Abi Thalib mengatakan ketika ia memandikan jenazah Nabi SAW, "Rasulullah SAW mewasiatkan agar tidak ada yang memandikan jasadnya kecuali aku, sementara Al Fadhl bin Al Abbas dan Usamah bin Zaid menuangkan air dari balik tirai. Aku membuka pakaian beliau dari arah depan dadanya hingga bagian pusar. Kemudian aku memandikannya dan mengafaninya sementara Al Fadhl membantuku membawakan air.

Setelah jenazah Rasulullah SAW selesai dipersiapkan, aku berdiri dan menyalatinya sendirian, sementara kaum muslimin masih memperbincangkan siapa yang akan mengimami salat jenazah Rasulullah sebagaimana mereka memperbincangkan di mana beliau akan dimakamkan."

Perdebatan Siapa yang Mengimami Jenazah Rasulullah SAW

Setelah salat, Ali bin Abi Thalib keluar menemui mereka dan berkata, "Rasulullah SAW adalah imam kita baik semasa hidup maupun setelah mati. Hendaknya sekelompok dari kalian masuk secara bergantian dan menyalatkan jenazah beliau lalu digantikan yang lain.

Allah SWT tidak mungkin mengambil ruh seorang utusan di sebuah tempat kecuali tempat itu sudah diridainya sebagai tempat penguburannya dan aku akan mengubur Rasulullah di kamar beliau tempat beliau diwafatkan."

Orang-orang pun menerima hal itu dan menyetujuinya. Kaum muslimin menyalati jenazah Rasulullah SAW secara bergantian tanpa ada seorang pun yang mengimami salat jenazah tersebut.

Pertama-tama masuklah kaum Muhajirin, kemudian orang-orang Anshar lalu kaum wanita dan anak-anak. Kemudian Abu Bakar datang setelah urusan pengangkatan khalifah selesai dan menyalati jenazah Rasulullah SAW lalu ia berkata, "Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah, demikian pula rahmat dan keberkahan Allah. Kami bersaksi, engkau adalah nabi dan utusan Allah. Engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dan berjihad di jalan-Nya hingga Allah menyempurnakan kemenangan untuk agama-Nya. Dia telah menyempurnakan janji-Nya dan memerintahkan agar kami tidak menyembah kecuali kepada Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya."

Sementara itu kaum muslimin yang memenuhi tempat tersebut menjawab semua kalimat yang diucapkan Abu Bakar dengan penuh kekhusyukan, "Amin Amin."

Jasad yang mulia itu tetap di tempatnya hingga Zuhur keesokan harinya, yaitu Selasa, tanggal 13 Rabiulawal tahun 11 Hijriah. Ali mengutus Al-Fadhl bin Al-Abbas untuk menemui Zaid bin Sahl untuk datang dan menggali kubur Rasulullah SAW seperti lazimnya. Tibalah detik-detik perpisahan. Orang-orang sudah ramai berdiri di luar. Ali, Al-Abbas, Al-Fadhl bin Al-Abbas, dan Usamah bin Zaid mengurusi pemakaman Rasulullah SAW.

Tiba-tiba, orang Anshar berkata dari balik pintu, "Wahai Ali, kami ingin mengingatkan engkau bahwa kami juga memiliki hak hari ini atas Rasulullah SAW, sertakan satu orang saja dari kami dalam proses pemakaman ini."

Ali bin Abi Thalib meminta Aus bin Khauli dari Bani Auf dari Kabilah Khazraj untuk masuk. Ia veteran Badar yang utama dan terkenal berani dalam berjihad. Sesudah ia masuk, Ali menyuruhnya masuk ke liang kubur untuk menerima jasad mulia Rasulullah SAW. Ia segera mengerjakannya.

Sejenak, Ali memeluk kekasihnya, membawanya dengan kedua tangannya, dan memberikannya kepada Aus yang sudah berada di liang lahad. Aus meletakkan jasad beliau dengan perlahan di liang lahad, lalu Ali turun dan membuka kafan dari wajah Rasulullah SAW, yang bercahaya, menempelkan pipi beliau ke tanah dan menghadapkan beliau ke arah kiblat, yaitu Baitullah di Makkah, dengan membaringkan beliau di sisi kanan beliau.

Lahad Rasulullah SAW, kemudian ditutup dengan labin (bantalan dari tanah liat), lalu diurug hingga kuburnya tegak sempurna. Kemudian, Ali meratakannya dan meletakkan labin di atas tanah hingga setinggi satu jengkal atau empat jari.



(lus/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads