Gus Mus: Pesantren Jadi Tempat Pendidikan Karakter, Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Gus Mus: Pesantren Jadi Tempat Pendidikan Karakter, Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Minggu, 30 Agu 2026 07:00 WIB
Gus Mus saat menghadiri Halaqah Pengurus Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) se-Indonesia, di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026).
Gus Mus saat menghadiri Halaqah Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) se-Indonesia, di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026). Foto: Dok PBNU
Jakarta -

Pesantren tak hanya sekadar tempat pengajaran, melainkan juga lembaga pendidikan. Pernyataan ini disampaikan oleh Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.

Dia menilai pengajaran hanya berfokus pada proses penyampaian atau pemindahan informasi dari guru kepada murid. Orang yang mendapat pengajaran tentang Al-Qur'an, fikih, atau hadits akan mengetahui berbagai informasi, tetapi pengetahuan itu belum tentu tercermin dari perilakunya.

"Pengajaran jangan sekadar memindahkan informasi, tapi perilaku juga harus mencerminkan Al-Qur'an," kata Gus Mus saat menghadiri Halaqah Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) se-Indonesia, di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendidikan di pesantren, lanjutnya, memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membentuk karakter dan memastikan ilmu yang dipelajari tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

"Pendidikan yang sejati itu ada pada keselarasan antara ucapan dan perbuatan, antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan," tegas Gus Mus.

Dia berharap RMI sebagai wadah pesantren nahdliyin harus senantiasa menjaga esensi pesantren sebagai lembaga tarbiyah. Gus Mus menilai figur kiai dan nyai memiliki posisi penting dalam membentuk karakter santri.

Oleh karenanya, RMI perlu memperbanyak ruang pertemuan antarpengasuh supaya terjalin ikatan kuat antarpesantren.

"RMI harus sering mempertemukan para pengasuh pesantren agar terjalin tabithah ma'ahid yang sebenarnya," ungkap Gus Mus.

Lebih lanjut dia menuturkan pertemuan antarpengasuh bukan berarti menyeragamkan seluruh metode pendidikan pesantren. Setiap pesantren tetap memiliki kekhasan dan cara masing-masing dalam mendidik santri. Akan tetapi, perbedaan metode tersebut perlu berada dalam satu kesatuan nilai, ideologi, tujuan dan keyakinan.

"Dengan itu ada kesatuan ideologi, tujuan, dan keyakinan di antara santri-santrinya, meskipun metode dan cara pengajarannya bisa berbeda-beda," ujarnya menjelaskan.

Gus Mus mengingatkan pada masa lalu kiai berperan sangat luas di tengah masyarakat. Tak hanya sebagai pengajar agama, kiai juga jadi tempat masyarakat berkonsultasi mengenai berbagai persoalan kehidupan, mulai dari urusan keluarga, spiritual, hingga persoalan pertanian.

"Dulu kiai merangkul seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kiai menjadi pengajar, pembimbing sampai tempat berkonsultasi mengenai masalah pertanian," tandasnya.



(aeb/erd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads