Dalam Islam, amal perbuatan tidak hanya dinilai dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dari niat dan kondisi hati orang yang mengerjakannya. Seseorang bisa saja terlihat rajin beribadah, bersedekah, membantu orang lain, atau melakukan berbagai kebaikan. Namun, penyakit hati dapat merusak nilai amal tersebut di hadapan Allah SWT.
Mengutip buku Mencari Hidayah Tuhan: Berhijrah Menuju Jalan Allah karya Abdurrohim Harahap, dijelaskan penyakit hati dalam Islam bukan penyakit fisik yang menyangkut kesehatan, melainkan sifat buruk yang bersarang dalam hati manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 125,
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ
Artinya: "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir."
Terdapat juga ayat yang mengingatkan bahwa pada hari akhir, harta dan anak tidak dapat menyelamatkan manusia, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: "Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."(QS Asy-Syu'ara': 88-89)
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Nu'man bi Basyir RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh itu, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh itu, ketahuilah bahwa ia adalah hati." (HR Bukhari)
Penyakit Hati yang Membuat Amal Tertolak
Dirangkum dari buku Fiqih Dakwah karya Musthafa Masyhur dan buku Nasihat Untuk Orang-Orang Lalai karya Khalid Abdul Mu'thi K, berikut beberapa penyakit hati yang dapat merusak atau menghilangkan pahala amal seorang muslim:
1. Riya
Riya adalah melakukan amal dengan tujuan agar dilihat dan dipuji manusia. Seseorang mungkin bersedekah, membaca Al-Qur'an, salat, atau melakukan kebaikan lainnya, tetapi di dalam hatinya terdapat keinginan agar orang lain mengetahui dan memberikan pujian.
Riya termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya karena menggeser tujuan ibadah dari mencari ridha Allah menjadi mencari perhatian manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Ma'un ayat 4-6,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: "Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya."
2. Ujub
Ujub adalah perasaan kagum terhadap diri sendiri karena merasa memiliki kelebihan, termasuk merasa bangga dengan amal ibadah yang dilakukan.
Misalnya, seseorang merasa dirinya lebih rajin beribadah dibandingkan orang lain, lebih banyak bersedekah, lebih sering membaca Al-Qur'an, atau lebih banyak melakukan kegiatan keagamaan.
Masalahnya bukan pada rasa syukur atas kesempatan beramal, tetapi ketika seseorang menganggap amal tersebut semata-mata berasal dari kehebatan dirinya dan kemudian merendahkan orang lain.
Ujub dapat membuat seseorang lupa bahwa kemampuan beribadah juga merupakan nikmat dan pertolongan dari Allah SWT.
3. Sombong atau Takabur
Sombong merupakan penyakit hati yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain dan menolak kebenaran.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah." (HR Muslim)
Kesombongan dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk karena ilmu, harta, jabatan, keturunan, penampilan, bahkan amal ibadah.
4. Hasad dan Dengki
Hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik nikmat tersebut berupa harta, ilmu, kedudukan, keluarga, maupun keberhasilan.
Sifat ini berbeda dengan keinginan memperoleh kebaikan yang sama tanpa berharap nikmat orang lain hilang.
Hasad merupakan penyakit hati yang berbahaya karena dapat membuat seseorang tidak senang melihat keberhasilan saudaranya. Bahkan, perasaan tersebut dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Allah SWT mengajarkan manusia untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki:
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Artinya: "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki." (QS Al-Falaq: 5)
Cara mengobati hasad antara lain dengan memperbanyak syukur, mendoakan kebaikan bagi orang lain, serta menyadari bahwa setiap nikmat merupakan ketetapan Allah SWT.
(dvs/kri)
