Islam mengajarkan mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan berlandaskan nilai-nilai dalam Al-Qur'an dan hadits. Sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib RA, menerapkan prinsip ini dengan rumus 7x3.
Rumus tersebut merupakan pembagian tahapan mendidik anak berdasarkan kategori usia. Sayyidina Ali membagi pendidikan dalam tiga kelompok, 7 tahun pertama (0-7 tahun), 7 tahun kedua (7-14 tahun), dan 7 tahun ketiga (14-21 tahun).
Dirangkum dari buku Islamic Hypno Parenting oleh Septian el Syakir dan buku Meraih Cinta-Nya karya Lia Harnita, Ali bin Abi Thalib RA memperlakukan anak usia 0-7 tahun layaknya raja, tujuh tahun berikutnya layaknya tawanan, dan tujuh tahun berikutnya lagi layaknya sahabat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
7 Tahun Pertama (0-7 Tahun): Perlakukan Anak sebagai Raja
Pada tujuh tahun pertama, anak lebih dominan menggunakan otak kanannya. Mereka memiliki keinginan yang kuat dan tidak takut akan risiko yang ditimbulkan. Fase ini menjadi waktu anak belajar melakukan dan memahami sesuatu.
Menurut Ali bin Abi Thalib RA, mendidik anak pada fase ini ibaratkan seperti raja. Asuh anak dengan lemah lembut, tulus, dan sepenuh hati. Namun, ini bukan berarti memanjakan anak. Orang tua harus tetap tegas tapi penuh kasih sayang.
Orang tua sebaiknya menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak. Selain itu, pada usia 7 tahun pertama, anak banyak meniru orang di sekitarnya. Sehingga, orang tua harus memberikan teladan baik untuk membentuk kepribadian anaknya.
Nilai-nilai tauhid juga ditanamkan pada fase ini. Orang tua bisa memperkenalkan sosok Rasulullah SAW sebagai role model sebagai fondasi menjadikan mereka sebagai anak saleh dan salihah.
7 Tahun Kedua (7-14 Tahun): Perlakukan Anak sebagai Tawanan
Saat anak memasuki fase tujuh tahun kedua, yakni usia 7-14 tahun, cara mendidik tak lagi seperti raja, melainkan layaknya tawanan. Aturan baik kewajiban maupun larangan mulai diterapkan betul di fase ini. Namun, anak tetap harus mendapatkan haknya.
Rasulullah SAW sendiri menganjurkan orang tua mengajarkan salat kepada anak saat berusia 7 tahun. Dalam beberapa riwayat, orang tua boleh memukul anaknya yang meninggalkan salat apabila telah memasuki umur 10 tahun.
Pemikiran anak berkembang pesat pada fase kedua ini. Anak juga mulai memasuki pubertas sehingga orang tua harus menyiapkan mereka supaya disiplin. Orang tua harus mendidik anak dengan keteladanan dan memberi batasan mana yang baik dan mana yang buruk serta apa yang memberikan manfaat maupun mudharat.
Tak heran jika Ali bin Abi Thalib RA mengibaratkan mendidik anak layaknya tawanan perang pada fase ini karena untuk mempersiapkan mereka supaya disiplin menjalankan syariat Islam.
7 Tahun Ketiga (14-21 Tahun): Perlakukan Anak sebagai Sahabat
Tujuh tahun ketiga anak mulai memasuki akil balig. Menurut Ali bin Abi Thalib RA, orang tua bisa memposisikan diri sebagai sahabat dan memberikan teladan baik ketika anak berumur 14-21 tahun.
Orang tua bisa mengajak anak berdiskusi tentang banyak hal untuk membuka wawasan mereka. Selain itu, orang tua bisa mengajarkan tanggung jawab yang lebih besar sebagai persiapan anak di kehidupan dewasa.
Pada fase ini, orang tua boleh membebaskan anaknya bertindak sesuai keinginannya sendiri, tapi harus tetap dalam pengawasan agar tak terjerumus ke hal-hal negatif.
Pesan Ali bin Abi Thalib: Didiklah Anak Sesuai Zamannya
Salah satu pesan penting dari Ali bin Abi Thalib RA dalam parenting islami adalah mendidik anak sesuai zamannya karena anak tidak hidup di masa lalu melainkan masa kini.
"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup di zaman mereka, bukan di zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian."

Komentar Terbanyak
MUI Usul Istilah LGBT Diubah Jadi LGSP
MUI Minta Koruptor Segera Tobat agar Tidak Menyesal
MUI Minta Pembayaran Zakat Diakui sebagai Pajak