Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa persatuan umat Islam tidak berarti menghapus identitas masing-masing organisasi kemasyarakatan (ormas). Setiap ormas, menurutnya, tetap dapat mempertahankan jati dirinya dan hidup rukun dalam keberagaman.
"Ketika kita bersatu, itu juga berarti kemudian merukun. Yang NU biarlah menjadi NU, yang Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah, yang Al-Washliyah ya Al-Washliyah, Al-Wahdah biarlah menjadi mereka. Tidak usah yang NU harus jadi Muhammadiyah atau yang sebaliknya," ujar Kiai Anwar dalam penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Minggu (26/7/2026), dilansir dari kantor berita Antara.
Ia mengibaratkan keberagaman ormas Islam seperti sapu lidi. Menurutnya, sebatang lidi tidak memiliki kekuatan. Namun, ketika banyak lidi disatukan menjadi sapu, semuanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, semangat kebersamaan itu perlu diwujudkan dalam upaya mendukung pembangunan nasional. Persatuan umat, kata dia, dapat menjadi modal untuk mendampingi pemerintah mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, serta bebas dari praktik korupsi, sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Anwar juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk bergotong royong membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, dan melahirkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi.
Ia menilai persatuan di tengah keberagaman menjadi modal penting untuk mendukung pembangunan dan kemajuan bangsa.

Komentar Terbanyak
MUI Usul Istilah LGBT Diubah Jadi LGSP
MUI Minta Koruptor Segera Tobat agar Tidak Menyesal
MUI Minta Pembayaran Zakat Diakui sebagai Pajak