Kisah Umi Hanik, Guru RA Berhonor Rp 6.000 Per Hari

Kisah Umi Hanik, Guru RA Berhonor Rp 6.000 Per Hari

Erwin Dariyanto - detikHikmah
Kamis, 23 Jul 2026 14:45 WIB
Umi Hanik Wahyuni menerima insentif dari Baznas Rembang, Kamis (23/7/2026).
Umi Hanik Wahyuni menerima insentif dari Baznas Rembang, Kamis (23/7/2026). Foto: dok. Kemenag
Jakarta -

Matahari baru saja naik kira-kira setinggi tombak ketika pintu gerbang Raudhatul Athfal (RA) Tarbiyatul Athfal di Desa Gilis Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah terbuka. Di balik meja kayu dalam ruang kelas nan sederhana, Umi Hanik Wahyuni dengan senyum ramah keibuan menyambut puluhan anak kecil yang berjalan tergopoh-gopoh menuju meja belajarnya.

Tepat pukul 07.00 WIB pagi, kegiatan belajar mengajar dimulai. Diawali dengan membaca doa, bernyanyi, belajar sambil bermain, dijeda istirahat sejenak lalu kelas berakhir pukul 10.00 WIB.

Saat jam menunjukkan pukul 10.00 WIB pagi Umi Hanik seharusnya sudah boleh pulang. Namun seringkali ia masih tertahan di ruang kelas, merapikan mainan yang berantakan, menyeka lantai yang terkena tumpahan air minum, atau duduk tenang mendampingi anak yang masih menangis rindu pada ibunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Umi Hanik, mengajar anak usia dini tak pernah sekadar memberi tahu mana huruf alif, ba, ta dan sebagainya. Ia adalah pengganti orang tua selama beberapa jam sehari.

Saat anak-anak kecil nan lucu itu rewel, Umi Hanik dengan penuh kasih sayang memeluknya. Ketika mereka bertengkar, ia menjadi juru yang mendamaikan. Bahkan saat ada anak yang celananya basah karena ngompol atau buang air besar, ia yang membersihkan dengan tangan sendiri tanpa rasa jijik sedikitpun.

ADVERTISEMENT

Dan semua itu ia lakukan dengan imbalan yang sungguh tak masuk akal: Rp 6.000 setiap harinya.

Ketulusan yang Tak Dihitung Uang

Sudah sembilan tahun Umi mengajar di RA Tarbiyatul Athfal. Bagi mantan santriwati Ma'hadul 'Ulum Asy-Syar'iyyah Sarang ini, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara membayar ilmu yang pernah dia diterima selama belajar di pondok pesantren.

"Mengajar RA itu hiburan bagi saya. Kalau pagi saya menemani anak-anak di sini, sorenya saya mengajar TPQ. Cukup bagi saya bisa berbagi kebaikan," kata Umi Hanik saat menerima uluran tangan dari Baznas Rembang, Rabu kemarin seperti dikutip dari laman Kemenag, Kamis (23/7).

Umi Hanik tak pernah mengeluh. Meski penghasilannya dari mengajar di RA Tarbiyatul Athfal hanya Rp 6.000, yang bahkan belum cukup untuk membeli sebungkus nasi rames.

Dia menjalani hidup dengan kesederhanaan yang luar biasa. Suaminya tak memiliki pekerjaan tetap; kadang diminta memimpin doa tahlil, kadang membantu tetangga. Di rumah, delapan ekor kambing yang ia rawat menjadi penolong tambahan penghasilan keluarga.

Di RA tempatnya mengajar pun tak ada pungutan SPP. Yang ada hanya sumbangan sukarela jimpitan seribu rupiah per hari dari wali murid, jumlah yang seringkali pun tak sampai rutin masuk.

Umi Hanik hanyalah satu dari ribuan wajah guru Raudhatul Athfal di negeri ini. Rata-rata mereka hanya menerima honor Rp 150.000 hingga Rp 200.000 sebulan. Padahal di tangan merekalah masa emas pembentukan karakter anak-anak diletakkan pertama kali.

Melihat perjuangan yang tak pernah terucap itu, Kantor Kemenag Kabupaten Rembang bersama Baznas Rembang bergerak. Mereka menyalurkan bantuan insentif bagi 80 guru RA yang belum mendapatkan tunjangan atau sertifikasi.

Kepala Kankemenag Rembang, Moh. Mukson, tak kuasa menahan haru saat melihat wajah-wajah ceria para guru itu: "Perjuangan mereka sangat berat. Tapi tak pernah sekalipun mereka tampak lelah saat di hadapan anak-anak," kata dia.

Bantuan ini pun lahir dari zakat rutin yang disisihkan para ASN Kemenag Rembang setiap bulan. Ketua Baznas Rembang, Moh. Ali Anshory, mengakui bahwa sejauh ini kemampuan mereka masih terbatas. Dari anggaran tahunan sekitar Rp4-5 miliar, baru bisa menjangkau 80 orang.

"Seandainya dana kami mencapai Rp 10 - Rp 15 miliar setahun, pasti kami akan rangkul semuanya. Guru RA ini adalah pejuang jalan Allah, berhak mendapatkan perhatian lebih," kata Ali.

Kali ini, masing-masing dari mereka menerima bantuan Rp 750.000. Totalnya mencapai Rp 60 juta. Bukan angka yang seberapa besar, tapi setidaknya menjadi tanda bahwa pengabdian mereka dilihat, dihargai, dan didoakan.

Saat amplop itu berpindah ke tangan Umi Hanik, matanya berkaca-kaca. Bukan karena uangnya, melainkan karena ada orang luar yang akhirnya peduli pada apa yang ia lakukan setiap hari tanpa pamrih.

Sore itu, saat ia pulang melewati jalan setapak itu, mungkin tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya yang teduh, tersimpan kekuatan yang tak ternilai harganya: cinta pada anak-anak dan ketaatan pada Allah SWT yang jauh lebih mahal dari apapun.



(erd/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads