Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram. Menurut mitos yang beredar, Safar adalah bulan pembawa sial. Bagaimana pandangan Islam?
Menurut buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan, MA, kata Safar berarti "sepi" atau "sunyi". Nama ini berasal dari kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian atau berperang sehingga permukiman menjadi lengang.
Di balik asal-usul namanya, bulan Safar juga pernah dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan. Namun, Islam membantah anggapan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bantahan Islam Terkait Mitos Kesialan Bulan Safar
Dijelaskan dalam buku 1001 Pertanyaan Soal Jawab Agama karya Ustaz Abu Muslim, kepercayaan tentang kesialan di bulan Safar, terutama pada Rabu terakhir bulan Safar, merupakan khurafat atau takhayul warisan Jahiliah.
Rasulullah SAW menolak keyakinan itu. Dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda:
"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Oleh sebab itu, Islam tidak mengenal pantangan khusus pada bulan Safar. Umat Islam tetap diperbolehkan menikah, bepergian, memulai pekerjaan, membuka usaha, maupun menjalankan berbagai amal saleh sebagaimana pada bulan-bulan lainnya.
Hal ini dijelaskan dalam buku Bekal Dai Kontemporer dari Al-Quran dan As-Sunnah As-Shahihah karya Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto yang menyebut seluruh bulan dalam Islam memiliki kedudukan yang sama dan tidak ada yang identik dengan kesialan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Janganlah mencela masa, karena sesungguhnya Allah Ta'ala adalah (pengatur) masa." (HR Muslim)
Nabi Tidak Pernah Menyebut tentang Mitos Bulan Safar
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Yahya Zainul Maarif atau Buya Yahya, menjelaskan bahwa tidak ada riwayat yang menyatakan Safar merupakan bulan petaka.
"Apakah nabi pernah menyebutkan bulan Safar bulan petaka? Selagi tidak, maka kita tidak perlu berurusan dengan berita-berita semacam itu," ujar Buya Yahya dalam cuplikan video di kanal youtube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip tayangan dalam kanal tersebut.
Buya Yahya juga mengingatkan bahwa baik atau buruknya suatu waktu bergantung pada perbuatan manusia, bukan pada nama bulannya.
"Bulan musibah adalah bulan kita melakukan maksiat, berarti kita yang buat maksiat. Bulan Safar untuk salat, untuk umrah, untuk haji, untuk nikah ya pahala dong. Kebaikan kok jadi bulan sengsara," tandasnya.
Karena itu, mitos tentang bulan Safar tidak sejalan dengan ajaran Islam. Bagi umat Islam, Safar tetap menjadi waktu untuk beribadah, bekerja, menikah, dan melakukan berbagai amal saleh tanpa perlu merasa khawatir terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat.

Komentar Terbanyak
Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian
Orang Miskin Masuk Surga 500 Tahun Lebih Dulu Sebelum Orang Kaya
Kisah Nabi Musa Protes ke Nabi Adam Sebabkan Manusia Hidup di Bumi