Salat Jumat sepanjang 4 kilometer pernah terjadi dalam sejarah Islam. Momen ini berlangsung saat penaklukan Konstantinopel sekitar 500 tahun silam.
Sosok di balik ini adalah Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin ketujuh Kesultanan Utsmaniyah yang berhasil merebut ibu kota Romawi Timur. Dia mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menembus benteng pertahanan Bizantium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diceritakan dalam buku Osmanlı History and Institutions oleh Prof Mehmet Maksudoğlu, pengepungan Konstantinopel dimulai pada hari Jumat, 6 April 1453 M. Pengepungan berlangsung selama 50 hari.
Satu yang menarik dalam peristiwa penaklukan ini, Muhammad Al-Fatih mengukir sejarah melaksanakan salat berjamaah terbesar yang pernah ada. Disebutkan dalam buku Esai Intelektual dalam Perspektif Agama dan Pendidikan karya Prof Samsul Nizar, jemaah yang melaksanakan salat Jumat bersama Muhammad Al-Fatih mencapai 80.000 orang dan membentang hingga 4 kilometer.
Salat Jumat Pertama di Hagia Sophia
Setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Utsmani di bawah Muhammad Al-Fatih, katedral Hagia Sophia dialihkan sebagai masjid. Diceritakan dalam buku Living Islam karya Herry Nurdi, Muhammad Al-Fatih mengumpulkan seluruh pasukannya di tanah lapang untuk satu tujuan: memilih imam salat Jumat.
Setelah seluruh pasukan kumpul, Muhammad Al-Fatih mengajukan tiga pertanyaan. Semuanya tentang salat.
Pertama, "Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat fardhu, meski sekali, silakan duduk!"
Ternyata tak ada satu pun yang duduk. Setelah itu, Muhammad Al-Fatih mengajukan pertanyaan kedua, "Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat sunnah rawatib, meski sekali, silakan duduk!"
Setengah pasukan kemudian duduk. Artinya, setengah pasukan Muhammad Al-Fatih menjaga salat rawatibnya.
Pertanyaan ketiga kemudian diajukan. "Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan qiyamul lail, meski hanya semalam, silakan duduk!"
Ternyata semua pasukan pernah meninggalkan qiyamul lail, mereka lantas duduk. Satu-satunya orang yang tetap berdiri adalah Muhammad Al-Fatih.
Muhammad Al-Fatih kemudian menjadi imam dan mempercayakan khutbah Jumat kepada Syekh Aaq Syamsuddin, salah satu gurunya yang berperan besar dalam memberikan motivasi dan semangat untuk menaklukkan Konstantinopel.
(kri/erd)

Komentar Terbanyak
Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian
Orang Miskin Masuk Surga 500 Tahun Lebih Dulu Sebelum Orang Kaya
Kisah Nabi Musa Protes ke Nabi Adam Sebabkan Manusia Hidup di Bumi