Perkembangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia tidak pernah lepas dari peran krusial kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Nusantara. Jejak sejarah purbakala menuntun kita pada satu pertanyaan mendasar yang sering menjadi diskusi hangat di kalangan sejarawan: kira-kira apa kerajaan Islam pertama di Indonesia?
Selama ini, sebagian besar masyarakat secara umum mengenal Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Pantai Utara Aceh dan didirikan oleh Meurah Silu pada 1267 M sebagai kerajaan Islam tertua. Memang betul bahwa beberapa teori mencatat sejarah perkembangan politik Islam di Nusantara berakar kuat dari masyarakat Aceh di Pasai.
Namun, bukti dan data sejarah komprehensif menunjukkan bahwa jauh sebelum Samudera Pasai memegang tampuk kekuasaan, telah berdiri sebuah dinasti Islam yang jauh lebih tua di tanah Serambi Mekah, yaitu Kesultanan Perlak (Peureulak).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam yang pertama kali didirikan di Indonesia bukanlah sebuah klaim tanpa dasar. Fakta monumental ini disimpulkan melalui serangkaian seminar ilmiah formal yang dihadiri oleh para pakar sejarah terkemuka nasional dan internasional.
Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah oleh Imam Subchi, hasil Seminar Sejarah Islam di Medan pada 1963 secara resmi menyimpulkan bahwa kerajaan Islam yang pertama kali didirikan di Indonesia adalah Kerajaan Perlak.
Kesimpulan historis tersebut kemudian dikukuhkan kembali dalam Seminar Sejarah Islam di Banda Aceh pada 1978. Keputusan ini diperkuat dan ditetapkan secara definitif dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara pada 1980 di Banda Aceh.
Di samping hasil konsensus para sejarawan dalam seminar-seminar tersebut, pendapat mengenai keabsahan Kerajaan Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia turut didukung dan dijelaskan secara gamblang oleh Nana Supriatna dkk dalam buku IPS Terpadu.
Sejarah Kerajaan Perlak
Keberadaan Kesultanan Perlak didasarkan pada sumber literatur historis tertulis yang valid dan berusia ratusan tahun. Terdapat sejumlah naskah klasik kuno yang dijadikan rujukan utama oleh para ahli sejarah untuk merekonstruksi berdirinya kerajaan ini. Sumber-sumber tertulis tersebut di antaranya:
- Kitab Idharul Haqq (atau dalam catatan lain disebut Risalah Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi) karya Abu Ishak Makarani Al Fasy.
- Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sulthan As Salathin (atau Tazkirat Tabaqat Jumu' Sultan al-Salatin) karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al Asyi.
- Catatan Sayid Abdullah Ibn Sayid Habib Saifuddin mengenai Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai.
Dari sumber-sumber otentik tersebut, dinyatakan secara eksplisit bahwa Kerajaan Perlak berdiri di Aceh pada 1 Muharram 225 H atau bertepatan dengan tahun 840 M. Pada tanggal tersebut, Kerajaan Perlak secara resmi menjadi sebuah kerajaan Islam.
Pemerintahan pertama dipimpin oleh seorang kepala pemerintahan berdarah keturunan Sayid, yaitu Saiyid Abdul Aziz, yang kemudian dinobatkan menjadi raja pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Merujuk pada naskah klasik ini, para ahli sejarah seperti Ali Hasjmy menegaskan bahwa Kesultanan Perlak diakui sebagai satu kerajaan Islam ternama dan tertua di Nusantara sekaligus di kawasan Asia Tenggara, yang dalam rentang sejarahnya pernah dipimpin oleh 20 orang raja.
Bukti Arkeologis dan Peninggalan Sejarah
Untuk memperkuat legitimasi tekstual dari naskah-naskah kuno tersebut, para arkeolog dan sejarawan telah menemukan sedikitnya tiga bukti fisik material yang mengonfirmasi eksistensi kemajuan Kerajaan Perlak:
1. Mata Uang Kuno Kerajaan
Penemuan mata uang Kerajaan Perlak menjadi bukti material paling kuat. Mata uang ini diyakini sebagai mata uang tertua yang pernah ditemukan di Indonesia. Kerajaan Perlak telah meluncurkan sistem moneter yang sangat maju melalui tiga jenis mata uang, yakni emas (dirham), perak (kupang), serta mata uang dari tembaga atau kuningan.
Pada mata uang emas, satu sisinya tertulis huruf Arab "al-Ala" dan sisi baliknya tertulis "Sultan". Sementara itu, mata uang perak (kupang) memiliki satu sisi bertuliskan "Dhuribat Mursyidam" dan sisi sebaliknya bertuliskan "Syah Alam Barinsyah".
Adapun mata uang tembaga atau kuningan juga menggunakan huruf Arab tetapi hingga kini belum dapat dibaca secara menyeluruh. Keberadaan sistem mata uang yang terstruktur ini menunjukkan bahwa Kerajaan Perlak adalah sebuah kerajaan maritim dan perdagangan yang sangat maju.
2. Stempel Resmi Kerajaan
Bukti arkeologis kedua adalah penemuan stempel kerajaan. Stempel ini bertuliskan huruf Arab dengan redaksi kalimat yang berbunyi: "Al-Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512". Berdasarkan penelusuran sejarah, Kerajaan Negeri Bendahara merupakan wilayah otonom atau negara bagian yang menjadi bagian integral dari kekuasaan Kerajaan Perlak.
3. Makam Raja Benoa
Bukti fisik ketiga adalah keberadaan kompleks makam kuno salah seorang Raja Benoa yang terletak di tepi Sungai Trenggulon. Pada batu nisan makam tersebut, terpahat tulisan dengan huruf Arab yang sangat jelas.
Ahli sejarawan terkemuka dari UIN Jakarta, Prof Dr Hassan Ambari, mengungkapkan berdasarkan analisis epigrafi dan arkeologis, nisan makam tersebut dibuat sekitar abad ke-4 H atau abad ke-11 M. Berdasarkan catatan Kitab Idharatul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi, Benoa dikonfirmasi sebagai wilayah negara bagian resmi dari Kerajaan Perlak.
Asal-usul Istilah Perlak
Secara etimologis, istilah Peureulak atau Perlak sejatinya berasal dari nama sejenis pohon kayu lokal yang batangnya biasa digunakan oleh para nelayan setempat untuk membuat perahu atau sekoci. Masyarakat Aceh menyebut tanaman tersebut dengan istilah Bak Peureulak.
Uniknya, dalam bahasa Parsi (Iran), kata Peureulak disebut sebagai Taj Alam, yang memuat arti mendalam, yaitu "mahkota alam". Secara geografis, Kesultanan Perlak ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Silsilah masuknya Islam di Peureulak bermula jauh sebelum kerajaannya diresmikan, yakni pada abad ke-1 Hijriah atau sekitar tahun 173 H (790 M). Dikutip dari jurnal ilmiah tahun 2022 bertajuk Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Hingga Lahirnya Kerajaan Islam di Aceh: Lembaga dan Tokohnya oleh Masruraini, dkk. dari UIN Alauddin Makassar (yang merujuk pada pemikiran Hasjmy dalam Asfiati, 2014), dicatat bahwa Khalifah Harun Al-Rasyid-pemimpin besar dari Kekhalifahan Bani 'Abbasiyah-mengirimkan satu armada dakwah yang tangguh berjumlah 100 orang.
Rombongan tersebut terdiri dari para pendakwah bangsa Arab, Parsi (sekarang Iran), dan India yang berlayar menuju Bandar Peureulak. Namun, dalam satu riwayat sejarah, sebelum tiba dan melebarkan sauh di Peureulak, mereka terlebih dahulu singgah di Barus, Sumatera Utara, sebuah wilayah yang terkenal sebagai bandar dagang internasional (dan di kemudian hari pernah menjadi wilayah kekuasaan Aceh).
Rombongan dakwah tersebut dipanggil oleh masyarakat setempat sebagai "Nakhoda Khalifah". Kedatangan tim dakwah internasional ini disambut dengan sangat baik, ramah, dan terbuka oleh penguasa lokal saat itu, yakni Maharaja Syahir Nuwi.
Mata Rantai Perkembangan Islam di Nusantara
Dari rahim Peureulak inilah, benih agama Islam tumbuh, mengakar, dan berkembang secara eksponensial. Keberhasilan dakwah dan stabilisasi politik di Perlak memicu lahirnya embrio kerajaan-kerajaan Islam baru di wilayah Barat dan Timur Aceh, seperti Kerajaan Pasai, Pedir, Lingga, Daya, hingga Kesultanan Aceh Darussalam. Pada perkembangannya, kerajaan-kerajaan tersebut sukses dipersatukan di bawah satu payung kepemimpinan besar oleh Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan pertama Kesultanan Aceh yang memerintah pada 1511-1530 M.
Adanya komunitas Muslim yang kuat di daerah Aceh ini memicu efek domino bagi pembentukan kerajaan Islam di wilayah Nusantara lainnya, yang membagi perkembangan sejarah Islam ke dalam fase baru:
- Pulau Sumatera: Diawali dari Perlak dan Samudera Pasai di Aceh.
- Pulau Jawa: Berdiri Kesultanan Islam Demak, Pajang, hingga Kesultanan Mataram.
- Wilayah Sulawesi: Berdiri Kerajaan Gowa, Tallo, dan Bone.
- Wilayah Maluku: Berdiri Kesultanan Ternate dan Tidore.
Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara tersebut menjadi pembuka fase emas bagi era perkembangan Islam berikutnya, yaitu fase perkembangan Islam dan politik praktis yang menyatukan Nusantara.
Melalui rincian naskah, keputusan seminar para ahli, serta penemuan arkeologis di atas, kini kita mendapatkan jawaban ilmiah yang valid dan kuat bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan