Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) menyoroti masih adanya riak-riak persoalan intoleransi di Tanah Air. Terkait hal tersebut, seluruh umat beragama diimbau untuk semakin dewasa dalam menyikapi berbagai perbedaan keyakinan.
Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad menegaskan merawat dan memupuk kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu tugas mendasar dari instansi yang dipimpinnya. Ia tidak menampik jika isu intoleransi masih menjadi tantangan yang nyata di lapangan.
"Yang terkait dengan intoleransi ini juga merupakan salah satu tugasnya Bimas Islam. Menjaga, merawat toleransi di antara umat beragama. Saya rasa memang ada persoalan-persoalan yang sifatnya itu intoleransi itu," ujar Abu Rokhmad saat ditemui di acara Peaceful Muharam 1448 H di Auditorium Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kemenag Dukung MUI Desak Regulasi Tegas LGBT |
Guna meredam potensi gesekan sosial, Abu Rokhmad mendorong lahirnya kedewasaan berpikir dari segenap pemeluk agama di Indonesia. Menurutnya, indikator utama dari kedewasaan tersebut adalah kerelaan untuk menghormati kelompok yang berbeda.
"Tetapi kami berharap semua umat beragama semakin dewasa di dalam menyikapi berbagai macam perbedaan di antara umat itu. Kedewasaan itu ditunjukkan paling tidak dengan cara bagaimana kita menghormati orang yang berbeda. Itu menjadi kunci," jelasnya.
Lebih lanjut, Abu Rokhmad memaparkan sebuah prinsip penting dalam menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Yaitu dengan menempatkan segala sesuatu secara proporsional tanpa harus memaksakan keseragaman ataupun memisah-misahkan apa yang sudah setara.
"Oleh karena itu memang yang berbeda tidak boleh disamak-samakan, yang sama juga tidak boleh dibedakan. Dan penghormatan, penghargaan terhadap orang yang berbeda itu adalah kunci kedewasaan," tutur Abu Rokhmad.
Ia menyelipkan pesan agar umat Islam serta pemeluk agama lainnya di Indonesia tidak bersikap reaktif atau mudah tersulut emosi ketika dihadapkan pada perbedaan dogma maupun ekspresi keagamaan di ruang publik.
"Sehingga saya berharap seluruh umat Islam dan seluruh umat beragama semakin dewasa dalam beragama, tidak juga mudah ngambek, tidak juga mudah marah. Kita saling menghormati terhadap berbagai macam perbedaan yang ada," pungkas Abu Rokhmad.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan