Mengapa Bulan Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Penjelasannya

Mengapa Bulan Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Penjelasannya

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 09 Jun 2026 05:45 WIB
Ilustrasi anak yatim
Foto: Getty Images/iStockphoto/shironosov
Jakarta -

Setiap kali bulan Muharram tiba, masyarakat muslim di Indonesia sering kali mengaitkannya dengan santunan anak yatim. Berbagai kegiatan sosial digelar, mulai dari pemberian bantuan, makan bersama, hingga pengajian yang menghadirkan anak-anak yatim sebagai tamu istimewa.

Tidak sedikit pula yang menyebut Muharram sebagai "Lebarannya Anak Yatim".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siapa yang Disebut Anak Yatim dalam Islam?

Merujuk buku Jangan Baca Buku Ini Jika Masih Senang Berbuat Dosa: 101 Fakta Dosa yang Pasti Membuatmu Takut Melakukannya karya Ibnu Abdul Hafidh, dijelaskan dalam Islam, anak yatim adalah anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum mencapai usia baligh.

Anak yatim dalam Islam adalah salah satu golongan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan bahkan sangat dicintai Rasulullah SAW.

ADVERTISEMENT

Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah merasakan kehidupan sebagai anak yatim.

Perhatian Besar Islam terhadap Anak Yatim

Al-Qur'an berkali-kali memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada anak yatim.

Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dhuha ayat 9,
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

Dalam ayat lain disebutkan,

فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah ayat 220)

Perintah menjaga dan menyantuni anak yatim tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Artinya, kepedulian terhadap anak yatim merupakan kewajiban sosial yang berlaku sepanjang tahun.

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang memelihara dan memperhatikan anak yatim.

Beliau bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini." Kemudian Rasulullah SAW mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. (HR. Bukhari)

Mengapa Muharram Dikaitkan dengan Anak Yatim?

Secara umum, tidak ada ayat Al-Qur'an maupun hadits sahih yang secara khusus menetapkan Muharram sebagai bulan santunan anak yatim.

Namun, ada beberapa alasan yang membuat Muharram akhirnya identik dengan anak yatim di berbagai negara muslim, termasuk Indonesia.

Dilansir dari laman Baznas sebagaimana dikutip dari kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi, disebutkan bahwa mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura dapat mendatangkan pahala besar.

Meskipun hadits ini dianggap dhaif oleh sebagian ulama, namun dapat menjadi motivasi bagi umat Islam untuk memperbanyak kasih sayang kepada anak yatim di bulan ini.

Secara umum berbuat baik kepada anak yatim tetap merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam.

Istilah "Lebarannya Anak Yatim" cukup populer di Indonesia. Namun istilah ini lebih merupakan ungkapan budaya dan tradisi masyarakat, bukan istilah yang berasal dari Al-Qur'an atau hadits Nabi SAW.

Tidak ada ketentuan syariat yang menyebut Muharram sebagai hari raya atau lebaran bagi anak yatim.

Salah satu pesan penting yang perlu dipahami adalah bahwa perhatian kepada anak yatim tidak boleh terbatas pada bulan Muharram saja.

Sering kali anak yatim mendapatkan banyak bantuan pada awal Muharram, tetapi setelah itu kembali menghadapi kesulitan hidup tanpa perhatian yang memadai.

Padahal Islam mengajarkan kepedulian yang berkelanjutan. Menyantuni anak yatim bukan sekadar memberikan uang atau makanan sesekali, melainkan juga membantu pendidikan, kesehatan, pembinaan akhlak, serta memberikan kasih sayang yang mereka butuhkan.

Wallahu a'lam.




(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads