Ka'bah adalah kiblat suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Berdiri megah di tengah Masjidil Haram, bangunan ini menjadi saksi bisu sejarah peradaban Islam sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Namun, tahukah bahwa secara geografis kota Makkah pernah mengalami musibah banjir besar yang merendam bangunan Ka'bah hingga berkali-kali?
Beberapa Peristiwa Banjir yang Melanda Ka'bah
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dalam buku Misteri Mukjizat Makkah & Madinah karya Nanim Asimah Asizun, lima tahun sebelum masa kenabian, Makkah dilanda banjir yang sangat besar hingga meluap ke Masjidil Haram.
Hal ini dikhawatirkan dapat meruntuhkan Ka'bah, karena sejak zaman Nabi Ibrahim hingga Quraisy, Ka'bah dibangun dengan menggunakan tumpukan batu tanpa perekat tanah atau yang lainnya.
Salah satu bencana alam yang sering terjadi di wilayah Makkah adalah banjir. Dalam beberapa riwayat disebutkan banjir besar terjadi pada masa Nabi Nuh AS yang menyebabkan bangunan Ka'bah mengalami kerusakan. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad SAW.
Bahkan, sepeninggalan Nabi Muhammad, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka'bah. Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941.
Kisah Banjir Besar yang Melanda Ka'bah
Masih merujuk dari sumber sebelumnya, pada tanggal 19 Syaban 1039 H turun hujan lebat yang cukup lama, yakni mulai dari jam 2 malam hingga waktu menjelang Ashar dan disambung hingga keesokan harinya.
Banjir tidak hanya menggenangi Ka'bah dan Masjidil Haram saja, melainkan seluruh wilayah penduduk kota Makkah. Kira-kira 1.000 orang meninggal pada saat itu dan banyak juga binatang ternak yang mati tenggelam.
Pada sore hari tanggal 20 Syaban 1039, sebagian dinding Ka'bah mengalami keruntuhan, yaitu dinding Syami, sebagian dinding Timur dan Barat, serta loteng atap yang ambruk. Hingga akhirnya, menjelang Maghrib dinding serambi Ka'bah pun mengalami keruntuhan.
Pada saat itu, kepanikan melanda masyarakat Makkah. Penguasa Makkah saat itu, Mas'ud bin Idris bin Hasan, segera memerintahkan agar tanggul pintu Ibrahim yang menjadi saluran air Masjidil Haram segera dibuka. Maka, air pun mengalir ke hilir kota Makkah.
Penjaga Ka'bah diperintahkan untuk segera masuk ke dalam dan mengeluarkan semua pelita dan 22 lampu yang terbuat dari emas. Salah satu di antaranya, bertahtakan permata dan mutiara mutu manikam.
Barang-barang tersebut diselamatkan kemudian disimpan ke rumah Syekh Jamaluddin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.
Menurut para ahli, peristiwa banjir di Makkah terjadi dikarenakan letak geografis kota tersebut yang diapit oleh beberapa bukit.
Hal ini menjadikan Makkah berada di dataran rendah yang letaknya berupa cekungan. Air hujan tidak dapat dengan mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan tanah di Arab yang sangat kering.
Selain bencana banjir besar di masa Nabi Nuh, Makkah juga pernah beberapa kali mengalami bencana banjir.
Salah satu yang dianggap paling besar terjadi ketika Nabi Muhammad masih berusia 35 tahun. Menurut Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah hidup Muhammad, akibat banjir tersebut, Masjidil Haram terendam air dan terancam runtuh.
Untuk mengantisipasi situasi tersebut, para tokoh Quraisy sepakat untuk memperbaiki Ka'bah dan menyewa seorang arsitek Romawi bernama Baqum.
Setelah peristiwa tersebut, peristiwa banjir tidak banyak tercatat. Hingga akhirnya, pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, banjir datang kembali.
Akibatnya, Ka'bah mengalami kerusakan parah. Pada saat itu, Ka'bah dibangun dengan bahan batu dan direkat dengan menggunakan tanah/lumpur, bukan semen seperti saat ini.
Meski begitu, beberapa peristiwa yang terdokumentasi dengan baik antara lain pada tahun 1941 dan 2012. Banjir pada 1941 menyebabkan bagian dalam Masjidil Haram terendam hingga hampir setengahnya menyentuh Ka'bah. Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa.
Banjir yang berulang menyebabkan beberapa tiang Masjidil Haram yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha
Jadwal Libur Idul Adha 2026 Berdasarkan SKB 3 Menteri