Ternyata Ada Orang Iran yang Jadi Sahabat Dekat Nabi, Ini Sosoknya

Ternyata Ada Orang Iran yang Jadi Sahabat Dekat Nabi, Ini Sosoknya

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Sabtu, 11 Apr 2026 07:00 WIB
Symbol of the Shia Muslim religion with an Ayatollah who prays and preaches in front of his followers by stretching a finger upwards.
Ilustrasi sahabat nabi dari Iran. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pict Rider
Jakarta -

Nabi Muhammad SAW memiliki begitu banyak sahabat yang setia, salah satunya adalah pemuda asal Iran. Dulu, wilayah Iran masih bernama Persia.

Sahabat Nabi Muhammad SAW dari Persia itu adalah Salman Al Farisi. Sosoknya dikenal karena kegigihannya dalam mencari kebenaran, hingga akhirnya ia memeluk Islam.

Mengenal Sosok Salman Al Farisi, Sahabat Dekat Nabi

Mengutip dari buku Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad SAW karya Ummu Syesha, Salman Al Farisi berasal dari Persia, tepatnya daerah Isfahan, dari desa Ji. Meski ayahnya adalah kepala daerah, Salman lebih suka membaktikan dirinya pada agama Majusi yang dianut masyarakat Persia pada saat itu. Salman memiliki tugas untuk menjaga api pemujaan agar tidak padam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suatu hari, saat menjalankan perintah ayahnya, Salman melewati sebuah gereja. Ia merasa seperti ditarik untuk mendekati gereja bahkan masuk ke dalamnya. Melihat cara ibadah yang dilakukan orang-orang dalam gereja, Salman penasaran, kemudian ia bertanya, "Apakah nama agama kalian?"

Orang gereja menjawab, "Agama Kristen (Nasrani)." Salman bertanya lagi, "Dari manakah agama tersebut?" Orang gereja menjawab, "Dari Syam (Palestina)."

ADVERTISEMENT

Setelah kembali, Salman menceritakan pengalaman bersama orang-orang Syam kepada ayahnya. Ia berkata kepada ayahnya bahwa agama orang-orang Syam itu lebih baik daripada menyembah api.

Mendengar perkataan Salman, sang ayah marah. Bagi ayahnya, Salman merupakan sosok anak yang dibanggakan karena ketaatannya dalam beribadah. Jika Salman ingin pindah keyakinan, tentunya akan banyak pertanyaan dan tuduhan kepada dirinya.

Maka, dia memutuskan untuk mengurung Salman dengan harapan Salman akan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk mengikuti ajaran Kristen.

Namun, tekad Salman sangatlah kuat, dia mengirimkan sebuah pesan kepada orang-orang di gereja. Salman juga mengatakan bahwa dirinya telah memeluk agama Kristen dan berharap bisa ikut ke Syam. Pada akhirnya, keinginan Salman terpenuhi, ia memutuskan pergi meninggalkan keluarga dan ayahnya.

Perjalanan Salman Al Farisi Menuju Madinah

Dinukil dari buku Kisah Seru Para Sahabat Nabi karya Lisdy Rahayu, setelah lama memeluk Kristen, Salman diperintahkan oleh seorang pendeta untuk mencari sosok nabi terakhir yang akan datang di wilayah Arab.

Dengan keteguhan hati, Salman akhirnya datang ke Kota Madinah. Dia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Salman membawa makanan dan mengatakan bahwa itu adalah sedekah. Nabi pun tidak mau memakannya dan menyerahkan makanan tersebut kepada para sahabat.

Namun, ketika Salman membawa makanan yang berikutnya, ia mengatakan bahwa makanan tersebut adalah hadiah. Maka, Nabi SAW pun memakannya. Kemudian, Salman melihat tanda kenabian pada pundak Nabi Muhammad SAW. Hingga akhirnya, Salman pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Nabi Muhammad SAW dan memeluk Islam.

Sejak saat itu, Salman Al Farisi menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa membela Islam dan turut andil dalam berbagai peperangan. Salah satunya adalah Perang Khandaq, Salman mengusulkan untuk membuat parit sebagai strategi perang tersebut.

Pada saat itu, pasukan muslimin menghadapi musuh dalam jumlah yang jauh lebih besar. Berkat ide cemerlang Salman Al Farisi tersebut, pasukan kaum muslimin meraih kemenangan.

Di kemudian hari, Salman Al Farisi ditunjuk sebagai Gubernur Madinah. Salman menjalankan amanahnya dengan baik dan tetap hidup dalam kesederhanaan. Sehingga, orang yang tak mengenalnya tidak akan menduga bahwa dirinya adalah seorang gubernur jika hanya melihat dari penampilannya saja.

Hikmah di Balik Kisah Salman Al Farisi

Dijelaskan dalam buku Manisnya Iman Damainya Ibadah: Perjalanan Menuju Hati yang Tenang karya Moh Nur Sholeh, kisah Salman Al Farisi mengajarkan bahwa keimanan bukan hanya sekadar mengikut-ngikut agama saja, tetapi merupakan pencarian mendalam dan penuh pengorbanan.

Keimanan Salman Al Farisi memberikan inspirasi bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia selama kita mencari kebenaran dengan niat yang tulus. Bahkan ia mengorbankan kedudukan dan kehidupannya demi menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Setelah memeluk Islam, Salman Al Farisi dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat setia dan bijaksana. Ia menjadi contoh nyata bahwa keimanan yang kuat dapat mengubah hidup seseorang, bahkan membawa seseorang dari kesesatan menuju kebenaran.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads