- Apa Itu Arah Kiblat?
- Dalil Perintah Salat Menghadap Kiblat
- Cara Menentukan Arah Kiblat 1. Menggunakan Posisi Matahari 2. Menggunakan Kompas 3. Menggunakan Aplikasi di Ponsel 4. Menggunakan Peta atau Google Maps 5. Mengikuti Arah Kiblat Masjid Terdekat
- Kondisi yang Membolehkan Salat Tidak Menghadap Kiblat 1. Saat dalam Keadaan Sangat Takut 2. Salat Sunnah Saat Bepergian
Menentukan arah kiblat adalah hal penting bagi setiap muslim saat akan melaksanakan salat. Meski berada di tempat baru, arah kiblat tetap bisa diketahui dengan mudah.
Kini, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menentukan arah kiblat dengan tepat, baik secara tradisional maupun dengan bantuan teknologi. Simak penjelasannya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Arah Kiblat?
Arah kiblat adalah arah menuju Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Umat Islam wajib menghadap kiblat saat melaksanakan salat. Menghadap kiblat menjadi salah satu syarat sah salat.
Dalil Perintah Salat Menghadap Kiblat
Perintah untuk menghadap kiblat dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 144,
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab) benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."
Cara Menentukan Arah Kiblat
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui arah kiblat:
1. Menggunakan Posisi Matahari
- Melihat Arah Terbit dan Terbenam Matahari
Cara yang pertama adalah dengan melihat arah terbit dan terbenam matahari. Matahari terbit dari arah timur dan terbenam di barat. Ini bisa menjadi patokan awal untuk menentukan arah kiblat.
Bagi umat Islam yang berada di Indonesia, arah kiblat adalah barat laut. Cara mudahnya, hadap ke arah barat lalu sedikit bergeser ke arah utara. Namun, cara ini hanya sebagai perkiraan karena posisi matahari berubah sepanjang tahun.
- Menggunakan Bayangan Matahari
Cara yang kedua adalah dengan menggunakan bayangan matahari pada waktu tertentu. Cara yang lebih akurat adalah melihat bayangan matahari saat terjadi peristiwa istiwa a'zham, yaitu ketika matahari tepat berada di atas Ka'bah.
Peristiwa ini biasanya terjadi dua kali dalam setahun. Menurut data tiga tahun terakhir terjadi pada:
- 27-28 Mei
- 15-16 Juli
Waktunya sekitar pukul 16.00 atau setelah asar.
Pada waktu tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak akan langsung mengarah ke kiblat. Berikut ini cara menentukan arah kiblatnya:
- Siapkan benda yang bisa berdiri tegak, seperti tongkat atau botol.
- Letakkan di tempat yang datar dan terkena sinar matahari langsung.
- Perhatikan arah bayangan tepat pada waktu istiwa a'zham.
- Arah bayangan itulah arah kiblat yang akurat.
Cara ini bisa dilakukan tanpa alat khusus dan hasilnya cukup tepat jika waktunya sesuai.
2. Menggunakan Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah yang bekerja berdasarkan medan magnet bumi. Saat ini tersedia kompas khusus kiblat yang sudah disesuaikan dengan arah Ka'bah dari berbagai wilayah.
Dengan kompas, seseorang bisa mengetahui arah barat, lalu menyesuaikannya dengan arah kiblat sesuai lokasi masing-masing.
3. Menggunakan Aplikasi di Ponsel
Teknologi memudahkan umat Islam dalam menentukan arah kiblat. Kini tersedia banyak aplikasi Android dan iOS yang dapat menunjukkan arah kiblat secara akurat.
Beberapa aplikasi yang sering digunakan antara lain:
- Muslim Pro
- Qibla Finder (Google)
- Umma
- Muslim Assistant
- Qibla Compass
Agar hasilnya tepat, pastikan GPS aktif dan ponsel tidak berada dekat benda berbahan logam atau sumber medan magnet.
4. Menggunakan Peta atau Google Maps
Arah kiblat juga bisa ditentukan melalui peta digital seperti Google Maps. Berikut langkah-langkahnya:
- Buka aplikasi Google Maps.
- Pastikan GPS ponsel Anda aktif agar lokasi bisa terdeteksi.
- Cari dan tandai lokasi Anda saat ini.
- Cari lokasi Ka'bah atau Masjidil Haram.
- Tarik garis lurus dari lokasi Anda ke arah Ka'bah.
- Garis tersebut menunjukkan arah kiblat.
Cara ini cukup mudah dan bisa dilakukan kapan saja selama terhubung ke internet.
5. Mengikuti Arah Kiblat Masjid Terdekat
Cara paling sederhana adalah mengikuti arah kiblat masjid atau musala setempat. Umumnya, arah kiblat masjid sudah diukur secara resmi oleh Kementerian Agama atau lembaga falak.
Namun, pada beberapa masjid lama, arah kiblat bisa saja kurang tepat karena keterbatasan alat ukur pada masa lalu. Sementara itu, masjid yang baru dibangun biasanya sudah menggunakan alat ukur yang lebih akurat.
Kondisi yang Membolehkan Salat Tidak Menghadap Kiblat
Pada dasarnya, salat wajib harus dilakukan dengan menghadap kiblat. Namun, dalam kondisi tertentu, ada keringanan untuk tidak menghadap kiblat.
1. Saat dalam Keadaan Sangat Takut
Dalam kitab Al Umm, Imam Syafi'i menjelaskan seseorang boleh salat tanpa menghadap kiblat ketika berada dalam kondisi sangat takut atau darurat, seperti saat perang.
Salat dalam kondisi ini disebut salat khauf. Jika situasi sangat genting dan musuh mengancam, salat boleh dilakukan sambil berjalan atau berkendaraan, baik menghadap kiblat maupun tidak.
Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar RA, ia menjelaskan bahwa jika rasa takut semakin besar, maka salat bisa dilakukan sambil berjalan atau di atas kendaraan sesuai keadaan yang memungkinkan.
2. Salat Sunnah Saat Bepergian
Keringanan juga diberikan kepada musafir yang sedang dalam perjalanan. Menurut Imam Syafi'i, Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan salat sunnah di atas kendaraan dan mengikuti arah kendaraan tersebut.
Dalam sebuah riwayat, Ibnu Umar RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW salat di atas tunggangannya sesuai arah perjalanannya. Riwayat lain juga menyebutkan Nabi SAW pernah salat di atas keledai.
Dalam Fiqh As Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan salat sunnah di atas kendaraan dengan memberi isyarat gerakan salat. Namun, hal ini tidak dilakukan untuk salat fardhu.
Dengan demikian, tidak menghadap kiblat hanya dibolehkan dalam kondisi tertentu, seperti keadaan darurat atau saat melaksanakan salat sunnah ketika bepergian.
