Allah SWT menganugerahkan akal kepada manusia sebagai salah satu keistimewaan yang membedakannya dari makhluk lain. Dengan kemampuan berpikir tersebut, manusia didorong untuk terus mencari, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu bukan hanya sekadar anjuran, tetapi juga bagian dari ibadah yang memiliki kedudukan tinggi. Karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk belajar sepanjang hayat agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bijaksana.
Setelah memiliki ilmu, Islam juga mengajarkan agar ilmu tersebut tidak disimpan untuk diri sendiri. Ilmu yang bermanfaat dan dibagikan kepada orang lain bahkan termasuk dalam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, tetap ada saja orang berilmu yang justru memilih untuk menyembunyikan pengetahuannya. Sikap ini sering muncul karena penyakit hati, seperti tidak ingin orang lain menjadi sepintar dan seberilmu dirinya, padahal Allah SWT sangat tidak menyukai orang-orang yang menyembunyikan ilmu.
Allah Melaknat Orang yang Menyembunyikan Ilmu
Dikutip dari buku Ensiklopedia Etika Muslim oleh Abdul Aziz, Allah tidak suka dengan orang yang berilmu, tetapi menyembunyikan ilmunya dan tidak mau membagikannya kepada orang lain. Padahal, ilmu yang dia dapat pun datangnya dari Allah SWT.
Allah SWT secara langsung mengingatkan hamba-Nya untuk tidak menyembunyikan ilmu dan mengancam untuk melaknat mereka yang menyembunyikan ilmu pengetahuan, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 159-160.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَاُولٰۤىِٕكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat. Kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan(-nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya. Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Dijelaskan dalam Tafsir Ringkas Kemenag, Allah SWT mengingatkan umat manusia agar tidak menyembunyikan kebenaran yang telah diturunkan melalui wahyu. Orang-orang yang menutupi keterangan dan petunjuk dari Allah setelah dijelaskan kepada manusia dalam kitab suci akan mendapatkan laknat dari Allah SWT.
Tafsir tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembunyikan kebenaran adalah tidak menyampaikan isi kitab-kitab samawi kepada masyarakat atau bahkan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Contohnya adalah menyembunyikan tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad SAW atau hukum-hukum syariat yang telah dijelaskan secara jelas dalam wahyu.
Akibat dari perbuatan tersebut, mereka tidak hanya dilaknat oleh Allah, tetapi juga oleh para malaikat dan orang-orang beriman. Laknat tersebut berarti dijauhkan dari rahmat Allah karena dengan sengaja menyembunyikan petunjuk yang seharusnya disampaikan kepada manusia.
Namun, Allah SWT tetap membuka pintu tobat bagi orang-orang yang mau menyesali perbuatannya. Mereka yang bertobat, memperbaiki diri dengan amal saleh, dan kembali menjelaskan kebenaran yang sebelumnya disembunyikan akan diterima tobatnya oleh Allah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Hukuman Bagi Orang yang Menyembunyikan Ilmu
Adapun hukuman bagi orang yang menyembunyikan ilmu sebagaimana dijelaskan oleh Buya Yahya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV berjudul Hukuman bagi yang Menyembunyikan suatu Ilmu. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki ilmu tetapi sengaja tidak menyampaikannya, terutama ketika dibutuhkan, dapat memperoleh ancaman hukuman berat di hari kiamat.
Buya Yahya mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang ditanya tentang ilmu lalu menyembunyikannya akan mendapatkan hukuman khusus. Ia mengatakan, "Barang siapa yang ditanya tentang satu ilmu lalu tidak mau menjawab, maka di hari kiamat mulutnya akan dipasangi belenggu dari api."
Belenggu tersebut digambarkan seperti alat yang dipasang di mulut hewan untuk mengendalikannya, tetapi dalam konteks ini menjadi bentuk azab di akhirat. Buya Yahya menjelaskan, "Nanti di hari kiamat mulutnya akan diberi keluh atau belenggu dari api sebagai hukuman karena menyembunyikan ilmu."
Namun, tidak semua ilmu yang tidak disampaikan langsung termasuk dalam ancaman ini. Para ulama menjelaskan bahwa yang paling ditekankan adalah ilmu yang bersifat wajib, terutama ilmu agama yang berkaitan dengan ibadah, halal, dan haram.
Sebagai contoh, jika seseorang mengetahui tata cara salat atau hukum yang penting dalam agama lalu enggan mengajarkannya kepada orang yang membutuhkan, maka ia berpotensi termasuk dalam peringatan tersebut. Karena itu, Buya Yahya menegaskan, "Kalau ditanya tentang ilmu yang wajib dan Anda tahu, maka hendaknya menjawab dan mengajarkannya."
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha