7 Sunnah yang Dilakukan kepada Orang yang Sakaratul Maut

7 Sunnah yang Dilakukan kepada Orang yang Sakaratul Maut

Tia Kamilla - detikHikmah
Jumat, 13 Mar 2026 18:30 WIB
Asian muslim girl worried of her father being sick in hospital, she holds her fathers hand and pray for his health, family health insurance concept
Ilustrasi menghadapi orang sakaratul maut. Foto: Getty Images/iStockphoto/airdone
Jakarta -

Sakaratul maut adalah detik-detik terakhir kehidupan seseorang sebelum meninggal dunia. Ada beberapa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Dalil tentang sakaratul maut dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Qaf ayat 19:

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "(Seketika itu) datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari."

ADVERTISEMENT

Lantas, apa saja sunnah yang dilakukan kepada orang yang sakaratul maut? Berikut penjelasan lengkapnya.

7 Sunnah yang Dilakukan kepada Orang yang Sakaratul Maut

Dijelaskan dalam kitab Fikih Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq, seseorang yang melihat orang lain sedang mengalami sakaratul maut dianjurkan melakukan beberapa hal berikut.

1. Menalqin Orang yang Sedang Sakaratul Maut

Orang yang berada di dekat seseorang yang sedang sakaratul maut dianjurkan menalqin, yaitu membantu atau menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid.

Imam Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَقَنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

Artinya: "Tuntunlah orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat: Tidak ada Tuhan selain Allah."

Dalam riwayat lain, Muadz bin Jabal RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya: "Siapa yang akhir dari ucapannya adalah kalimat: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka ia akan masuk surga." (HR Abu Daud, dishahihkan Imam Hakim)

Talqin dilakukan kepada orang yang masih sadar dan memungkinkan untuk berbicara. Jangan memaksakan jika kondisi orang tersebut sudah sangat lemah dan tidak mampu lagi untuk berbicara.

Para ulama juga menekankan agar tidak memaksa orang yang sedang sakaratul maut mengucapkan kalimat tauhid berulang kali. Hal ini dikhawatirkan membuatnya merasa jenuh hingga mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.

Mayoritas ulama berpendapat kalimat yang diajarkan adalah Lâ ilâha illallah, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Namun, sebagian ulama lain berpendapat yang diajarkan adalah kalimat syahadat secara lengkap, karena tujuan talqin adalah mengingatkan kembali kalimat syahadat yang pernah diucapkan sebelumnya.

2. Menghadapkan Tubuh ke Arah Kiblat dan Membaringkannya ke Kanan

Salah satu anjuran ketika seseorang sedang mengalami sakaratul maut adalah menghadapkannya ke arah kiblat dan membaringkannya pada sisi kanan tubuhnya.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan Imam Baihaqi dan Hakim dari Abu Qatadah. Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau menanyakan kabar Bara' bin Ma'rur. Para sahabat kemudian menyampaikan bahwa ia telah meninggal dunia.

Sebelum wafat, Bara' bin Ma'rur berwasiat agar sepertiga hartanya diberikan kepada Rasulullah SAW. Ia juga berharap agar saat sakaratul maut dirinya dihadapkan ke arah kiblat.

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Apa yang dilakukannya sesuai dengan fitrah dan sungguh aku telah mengembalikan sepertiga kekayaannya kepada anaknya."

Setelah itu, Rasulullah SAW menyalatkan jenazahnya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah dia, turunkan rahmat-Mu kepadanya dan masukkan dia ke surga-Mu. Sungguh Engkau telah melakukannya."

Hakim kemudian mengatakan bahwa ia tidak mengetahui sahabat lain yang berwasiat agar dihadapkan ke arah kiblat ketika sakaratul maut selain Bara' bin Ma'rur.

Riwayat lain dari Imam Ahmad juga menyebut ketika Fatimah binti Muhammad berada dalam keadaan sakaratul maut, ia menghadap ke arah kiblat sambil bertumpu atau berbantalkan pada tangan kanannya.

Cara tersebut sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW ketika hendak tidur, yaitu berbaring di sisi kanan sambil menghadap kiblat.

3. Membacakan Surah Yasin

Dianjurkan pula membacakan surah Yasin di dekat orang yang sedang sakaratul maut. Maqal bin Yasar mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Yasin adalah jantungnya Al-Qur'an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharapkan ridha Allah SWT, kecuali ia akan diampuni. Dan bacakanlah surah Yasin kepada orang yang meninggal dunia di antara keluarga kalian." (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa'i, Hakim, dan Ibnu Hibban)

Ibnu Hibban menjelaskan maksud hadits ini ditujukan kepada orang yang sedang mengalami sakaratul maut, bukan yang sudah meninggal dunia.

Penjelasan tersebut diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad. Dari Sufyan RA disebutkan bahwa beberapa syekh mengatakan, apabila surah Yasin dibacakan kepada orang yang sedang sakaratul maut, Allah SWT akan mempermudah proses pencabutan nyawanya.

Penulis kitab Musnad al-Firdaus juga menisbatkan riwayat kepada Abu Darda' dan Abu Dzar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah seseorang meninggal dunia, kemudian dibacakan kepadanya surah Yasin, kecuali Allah SWT akan meringankan baginya."

4. Memejamkan Mata Jenazah

Jika orang tersebut telah meninggal dunia, dianjurkan untuk memejamkan kedua matanya. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah SAW mendatangi Abu Salamah yang telah meninggal dunia. Ketika itu beliau melihat matanya terbuka, lalu Rasulullah SAW memejamkannya seraya bersabda, "Apabila roh dicabut, maka mata akan mengikutinya."

5. Menutup Seluruh Tubuh Jenazah

Jenazah dianjurkan untuk ditutup seluruh tubuhnya agar auratnya tidak terlihat dan perubahan pada tubuhnya tidak tampak.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ketika Rasulullah SAW wafat, tubuh beliau diselimuti dengan pakaian hibrah, yaitu kain khas Yaman.

Para ulama secara ijma juga membolehkan mencium tubuh orang yang telah meninggal dunia. Rasulullah SAW pun pernah mencium jasad Utsman bin Ma'tzun ketika ia wafat.

Begitu pula ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar mencium dahi beliau seraya berkata, "Wahai Nabi Allah, wahai pilihan Allah SWT."

6. Segera Mengurus Jenazah Setelah Dipastikan Meninggal

Jika keluarga telah benar-benar yakin bahwa orang yang sakit telah meninggal dunia, dianjurkan segera mengurus jenazahnya, seperti memandikan, menyalati, dan menguburkannya. Hal ini untuk mencegah perubahan pada jasad.

Abu Daud meriwayatkan dari Husain bin Wahwah bahwa ketika Thalhah bin Barrak sedang sakit, Rasulullah SAW menjenguknya dan bersabda:

"Sesungguhnya aku melihat Thalhah sudah meninggal dunia. Beritahu aku keadaannya dan bersegeralah mengurus jenazahnya, karena sesungguhnya mayat seorang muslim tidak patut ditahan di tengah-tengah keluarganya."

Jenazah tidak seharusnya dibiarkan terlalu lama hanya untuk menunggu orang lain, kecuali keluarga dekatnya. Penundaan diperbolehkan selama jasad tidak dikhawatirkan mengalami perubahan.

Imam Ahmad dan Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ali RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai Ali, tiga perkara yang tidak boleh kamu akhirkan; salat ketika waktunya tiba, seseorang yang benar-benar telah meninggal dunia, dan seorang janda yang telah mendapat jodoh yang setara dengannya."

7. Melunasi Utang Orang yang Meninggal

Keluarga juga dianjurkan untuk melunasi segala tanggungan utang orang yang telah meninggal dunia.

Dari Abu Hurairah RA ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Artinya: "Jiwa seorang Mukmin tergantung dengan utangnya sampai dibayar." (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

Pada awalnya Rasulullah SAW tidak mau menyalati orang yang meninggal dunia tetapi masih memiliki utang. Namun setelah Allah SWT memberikan banyak kemenangan dan harta rampasan, beliau bersedia menyalati mereka serta melunasi utangnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

"Aku lebih berhak terhadap orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri. Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki tanggungan utang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya, maka kami akan melunasinya. Dan jika ia meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya."

Itulah beberapa hal yang dianjurkan dilakukan ketika seseorang sedang mengalami sakaratul maut hingga setelah meninggal dunia. Anjuran ini menjadi bagian dari adab dalam Islam untuk memuliakan orang yang wafat.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads