Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 12 Mar 2026 11:42 WIB
gedung MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pada Senin lalu (9/3/2026), Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah wafatnya sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Berkaitan dengan itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberi tanggapan.

Dilansir dari situs resmi MUI, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menilai kepemimpinan Mojtaba berpotensi memperkuat posisi Iran dalam menghadapi tekanan politik internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mojtaba memperoleh lebih dari 85 persen suara anggota majelis. Pemilihan merujuk pada Pasal 107 dan 108 Konstitusi Republik Islam Iran dengan masa jabatan selama delapan tahun.

"Mojtaba bukan sekadar anak biologis Ayatollah Ali Khamenei, melainkan sekaligus anak ideologis yang akan selalu istiqamah mengusung ideologi perlawanan dan menghancurkan ketidakadilan serta kezaliman sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh Amerika dan Israel," katanya Sudarnoto.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut ia menuturkan, kepemimpinan Mojtaba berpotensi memperkuat posisi Iran dalam menghadapi tekanan dari Israel dan AS. Kekuatan perlawanan Iran akan semakin kuat di bawah pimpinan Mojtaba.

"Dengan dipilihnya Mojtaba Khamenei, Israel dan Amerika akan mengalami kebangkrutan secara moral, ekonomi, politik, dan militer. Kekuatan perlawanan dan pembalasan Iran ini akan semakin kuat di bawah kepemimpinan Mojtaba, dan ini artinya kehancuran Israel dan Amerika akan semakin mendekati titik kulminasinya," jelas Sudarnoto.

Dia juga menyinggung dinamika konflik yang terjadi antara Iran dan pihak yang berseberangan dengannya.

"Serangan brutal Israel-Amerika atas Ayatollah Ali Khamenei saat ini dibalas oleh serangan balik Iran dengan akibat kehancuran masif Israel dan pusat-pusat penting Amerika di berbagai negara. Artinya, perkiraan dan harapan Amerika dan Israel mengalami kegagalan yang sangat serius," sambung Sudarnoto.

Ia menyebut situasi inni dipengaruhi oleh dinamika internal di negara-negara yang berseberangan dengan Iran. Pertentangan internal yang semakin kuat di Israel dan Amerika serta sikap penentangan Eropa kepada Amerika jadi nasib buruk AS-Israel.

Sudarnoto berharap momen pergantian kepemimpinna Iran jadi titik penting bagi perubahan konstelasi politik global serta pengautan solidaritas dunia Islam, termasuk keruntuhan Board of Peace (BoP) bentukan AS, kemerdekaan Palestina, hingga penguatan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Saya berharap ini menjadi momentum historis yang sangat penting bagi runtuhnya hegemoni imperialistik Amerika-Israel, rontoknya BoP, dan kemerdekaan Palestina. Saya juga berharap terpilihnya Mojtaba menjadi peluang bagi persatuan dunia Islam, penguatan OKI, dan reformasi PBB," katanya menguraikan.

Sudarnoto juga menyampaikan ucapan selamat dan harapan kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya.

"Kepada Mojtaba Khamenei saya menyampaikan selamat menjalankan tugas suci mengawal kepemimpinan untuk menghancurkan penjajahan Israel-Amerika dan menciptakan perdamaian serta keadilan. Semoga senantiasa diberi kekuatan lahir dan batin serta kemudahan oleh Allah," tandasnya.




(aeb/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads