Peringati Nuzulul Quran, Menag: Saat Ramadan, Satu Huruf Bisa 30 Pahala

Peringati Nuzulul Quran, Menag: Saat Ramadan, Satu Huruf Bisa 30 Pahala

Devi Setya - detikHikmah
Sabtu, 07 Mar 2026 14:00 WIB
Peringati Nuzulul Quran, Menag: Saat Ramadan, Satu Huruf Bisa 30 Pahala
Menag Nasaruddin Umar Foto: Dok. Kemenag
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam agar tidak hanya membaca Al-Qur'an, tetapi juga berusaha memahami serta mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan saat ia memberikan tausiyah dalam peringatan malam Nuzulul Quran yang digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada Jumat (6/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Menag menekankan bahwa membaca Al-Qur'an memiliki keutamaan yang sangat besar, terlebih pada bulan Ramadan. Namun menurutnya, kesempurnaan dalam beragama tidak cukup jika seseorang hanya berhenti pada kemampuan membaca tanpa memahami makna firman Allah.

"Al-Qur'an ini dua-duanya (membaca dan memahami) harus diamalkan secara paralel. Mengamalkan satu di antaranya tanpa yang lain tidak membuat keislaman kita sempurna. Karena itu kita perlu benar-benar memahami apa makna Al-Qur'an," kata Menag seperti dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (7/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an tetap merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Bahkan, pada bulan Ramadan pahala membaca Al-Qur'an disebut jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an selama bulan suci ini.

ADVERTISEMENT

"Penting kita baca, apalagi di Ramadan. Satu huruf bisa tiga puluh pahala. Kalau di luar Ramadan hanya tiga pahala," ujarnya.

Menag menegaskan bahwa kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an saja tidak cukup. Pemahaman terhadap makna ayat-ayat Al-Qur'an juga harus menjadi perhatian umat Islam agar pesan-pesan ilahi tersebut benar-benar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Bukan saja pintar membaca Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an, makhrajnya, tajwidnya, tetapi juga paham artinya," jelas Menag.

Dalam tausiyahnya, Menag Nasaruddin Umar juga menyinggung suasana spiritual yang terasa lebih kuat selama bulan Ramadan. Menurutnya, bulan suci ini menghadirkan energi emosional yang membuat umat Islam lebih mudah untuk membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Ia menilai bahwa pada bulan Ramadan, banyak orang mampu membaca Al-Qur'an dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa.

"Di bulan Ramadan ada energi emosional. Satu juz, dua juz itu gampang dibaca. Di luar Ramadan satu halaman saja kadang susah karena banyak urusan," ujarnya.

Lebih jauh, Menag menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran seharusnya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

"Untuk apa kita memperingati Nuzulul Quran? Supaya semua problem kehidupan kita bisa kita sandarkan, kita selesaikan, kita uraikan melalui ayat-ayat Al-Qur'an," kata Menag.

Menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya berisi petunjuk ibadah, tetapi juga memberikan panduan moral, sosial, dan spiritual bagi manusia dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

"Mari kita maju bersama Al-Qur'an, menyesuaikan kehidupan modern dengan Al-Qur'an. Selama kita berpegang teguh pada Al-Qur'an, jalan kehidupan kita pasti tidak akan sesat," pungkas Menag.




(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads