40 Tahun Nabung untuk Haji, Uangnya Justru Diberikan Tetangga

40 Tahun Nabung untuk Haji, Uangnya Justru Diberikan Tetangga

Kristina - detikHikmah
Minggu, 06 Sep 2026 17:19 WIB
ilustrasi menabung
Ilustrasi menabung. Foto: iStock
Jakarta -

Tukang sol sepatu asal Damaskus, Ali bin al-Muwaffaq, yang hidup pada masa tabiin memilih mengurungkan pergi haji karena satu hal yang berkaitan dengan kehidupan tetangganya. Kisahnya menjadi perbincangan malaikat.

Diceritakan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, pada suatu musim haji, Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadits terkemuka yang tinggal di Bagdad, tertidur usai menunaikan haji. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan membicarakan jemaah haji yang mabrur tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam obrolan itu, salah satu malaikat menyebut dari 600 ribu jemaah haji, tidak satu pun dari mereka yang hajinya diterima. Namun, ada satu orang yang tidak berangkat ke Tanah Suci tapi hajinya diterima dan seluruh dosanya diampuni. Orang itu bernama Ali bin al-Muwaffaq, tukang sepatu di Damaskus.

Abdullah bin al-Mubarak lalu terbangun dengan gemetar. Dia lalu bergegas ke Damaskus mencari Ali bin al-Muwaffaq dari petunjuk yang dia dapat lewat mimpi. Seantero kota ia susuri hingga tibalah di sebuah rumah milik tukang sepatu itu.

ADVERTISEMENT

Abdullah bin al-Mubarak mengatakan maksud kedatangannya dan minta Ali bin al-Muwaffaq menceritakan apa yang terjadi padanya.

Tukang sepatu itu kemudian bercerita 40 tahun sudah dia menahan rindu untuk pergi haji. Selama itu, dia menyisihkan sedikit demi sedikit uang dari hasil sepatu untuk ongkos haji hingga terkumpullah 350 dirham. Dia pun memutuskan pergi haji pada musim tersebut.

Suatu hari, istrinya yang tengah mengandung mencium aroma masakan tetangga sebelah. Sang istri sangat ingin mencicipi masakan itu dan minta Ali bin al-Muwaffaq memintakan sedikit saja kepada tetangganya.

Ali bin al-Muwaffaq kemudian berjalan ke rumah tetangganya, mengutarakan maksud kedatangannya. Sontak, tetangga itu menangis dan berkata, "Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa. Hari ini kulihat ada seekor keledai mati tergeletak, maka kami mengambilnya, memotongnya, dan memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan halal bagimu."

Hati Ali bin al-Muwaffaq seolah terbakar ketika mendengar cerita tetangganya itu. Tanpa pikir panjang, dia bergegas ke rumah mengambil 350 dirham uang tabungan hajinya dan memberikan kepada keluarga tersebut.

"Demikianlah perjalanan hajiku," pungkas Ali bin al-Muwaffaq.



(kri/dvs)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads