Ma'idatur Rahman: Tradisi Buka Bersama di Masjid-masjid Libya Saat Ramadan

Ramadan di Negeri Rantau

Ma'idatur Rahman: Tradisi Buka Bersama di Masjid-masjid Libya Saat Ramadan

Ahmad Sholahuddin Al Adibi - detikHikmah
Jumat, 27 Feb 2026 11:45 WIB
Suasana Maidatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026.
Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026. Foto: Dok Ahmad Sholahuddin Al Adibi
Zliten -

Ramadan di berbagai belahan dunia memiliki keunikan dan tradisi yang beragam. Di Libya, bulan suci ini tidak hanya diisi dengan ibadah puasa dan salat berjamaah di masjid, tetapi juga diwarnai dengan tradisi kebersamaan yang mengakar kuat di tengah masyarakat.

Salah satu tradisi tersebut adalah Ma'idatur Rahman. Secara harfiah, istilah ini berarti "Hidangan dari Allah Yang Maha Pengasih". Tradisi ini merujuk pada kegiatan buka puasa bersama yang digelar di halaman-halaman masjid dan terbuka bagi siapa saja yang ingin membatalkan puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap masjid memiliki pengaturan yang sedikit berbeda. Di Masjid Sidi Syekh Abdussalam Al Asmar yang berada di Kota Zliten misalnya, jemaah duduk di karpet yang digelar memanjang di pelataran masjid. Sementara itu, di Masjid Jam'iyyat ad-Da'wah al-Islamiyah yang berada di jantung ibu kota Tripoli, buka bersama dilakukan dengan menggunakan kursi dan meja yang disusun rapi berjajar.

Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026.Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026. Foto: Dok Ahmad Sholahuddin Al Adibi

Menjelang waktu Magrib, masyarakat Libya mulai berdatangan ke masjid. Anak-anak dan remaja turut membantu membagikan kurma dan air mineral, sementara para relawan menyusun dan membagi hidangan agar tetap rapi dan cukup untuk semua jemaah.

ADVERTISEMENT

Saat azan berkumandang inilah, kita bisa melihat suasana kebersamaan yang terlihat jelas, semua duduk sejajar, saling berdoa dan mendoakan, lalu berbuka bersama. Tidak ada perbedaan status antara masyayikh, pedagang, mahasiswa, maupun pekerja migran, semua berbaur dalam satu majelis berbuka.

Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026.Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026. Foto: Dok Ahmad Sholahuddin Al Adibi

Menu yang disajikan umumnya sederhana namun beragam, seperti kurma, susu, air mineral, jus (ashir), syurba, couscous, nasi, makroni, hingga makanan khas rumahan lainnya. Menariknya, jenis makanan yang disajikan tidak selalu sama setiap hari, melainkan berganti sesuai jadwal ataupun tergantung pihak penyelenggara di masing-masing masjid.

Pelaksanaan Ma'idatur Rahman biasanya berlangsung dalam dua sesi:

Sesi pertama, berbuka dengan makanan pembuka seperti kurma, susu, dan makanan ringan saat azan Magrib berkumandang. Setelah itu, jemaah menunaikan salat Magrib berjamaah di masjid.

Sesi kedua, usai salat, jemaah kembali berkumpul untuk menyantap hidangan utama, baik itu nasi, couscous, makroni, atau makanan lainnya. Biasanya, satu nampan besar diperuntukkan bagi empat orang. Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan makanan ringan dan minuman pelengkap yang sudah disediakan sebelumnya.

Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026.Suasana Ma'idatur Rahman, tradisi buka bersama di masjid-masjid Libya, Ramadan 2026. Foto: Dok Ahmad Sholahuddin Al Adibi

Ma'idatur Rahman bukan sekadar tentang makanan berbuka. Ia adalah pelukan hangat bagi mereka yang lelah, penenang bagi yang asing, dan bukti bahwa di bawah naungan menara masjid, tak ada seorang pun yang dibiarkan berbuka sendirian.

Tradisi ini juga mencerminkan nilai persatuan yang sejalan dengan ajaran Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ali 'Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Artinya: "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

--

Ahmad Sholahuddin Al Adibi

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Alasmarya Islamic University Libya

Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)



(kri/kri)
Puasa di Tanah Rantau

Puasa di Tanah Rantau

30 konten
Nuansa Ramadan di negeri orang tentunya berbeda dengan suasana Ramadan di tanah air. Hal itu dilatarbelakangi banyak faktor terutama budaya lokal setempat.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads