Sebuah hadits menyebut setan dibelenggu pada bulan Ramadan. Meski begitu, banyak umat Islam yang meragukan hal tersebut lantaran masih banyak kemaksiatan.
Dibelenggunya setan pada bulan Ramadan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّة وَخُلِقَتْ أَبْوَابَ النَّارِ وَصُفْدَتِ الشَّيْطَان (رواه مسلم)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Apabila datang bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta semua setan dibelenggu." (HR Muslim)
Untuk menjawab keraguan umat Islam terkait setan yang dibelenggu, penting memahami makna dari hadits di atas. Berikut penjelasan selengkapnya.
Makna Hadits Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan
Dalam Al-Jami' fii Fiqhi An-Nisa' karya Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah, Al-Qadhi mengatakan dibukanya semua pintu surga oleh Allah SWT bagi para hamba-Nya adalah agar senantiasa berbuat taat pada bulan tersebut, yang tidak akan didapat pada bulan lainnya. Sementara ditutupnya seluruh pintu neraka dan dibelenggunya setan, mengandung pengertian supaya manusia menghindari berbagai macam pelanggaran.
Al-Hulaimi turut menjelaskan mengenai makna hadits di atas. Menurutnya setan senantiasa mengintai umat Islam. Maka dari itu, setan-setan dibelenggu pada malam hari di bulan Ramadan dan bukan pada siang harinya. Seperti pada saat Al-Qur'an diturunkan, setan tidak diperbolehkan untuk mengintai. Jadi, makna dibelenggu pada hadits di atas merupakan kiasan dari ketatnya penjagaan.
"Selain itu, juga mengandung pengertian lain, setan tidak mudah mengganggu umat Islam pada saat berpuasa, seperti halnya dapat mengganggu mereka pada bulan-bulan lainnya. Sebab, umat Islam menyibukkan diri dengan ibadah, yang dengannya mereka menahan segala bentuk hawa nafsu, juga disibukkan membaca Al-Qur'an dan berzikir," lanjut Al-Hulaimi dalam Al-Jami' fii Fiqhi An-Nisa' seperti diterjemahkan M. Abdul Ghoffar.
Lebih lanjut, dalam kitab Taj al-Arûs al-Hawi li Tadzhib an-Nufûs karya Ibnu 'Athaillah as-Sukandari terjemahan Ahmad Farid RA, Imam Ibnu Baththal turut menjelaskan makna hadits setan dibelenggu saat Ramadan. Menurutnya, hadits tersebut bisa dimaknai dari dua sudut pandang.
Pertama, dipahami dengan makna letterlijk, pintu surga benar-benar dibuka dan setan dibelenggu dipahami bahwa intensitas godaan setan berkurang daripada bulan-bulan lainnya.
Kedua, dipahami secara majasi. Pada konteks ini, dibukanya pintu surga dipahami bahwa Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya dengan amal perbuatan yang dapat mengantarkan seorang hamba ke surga. Seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur'an.
Sehingga, jalan menuju surga pada bulan Ramadan lebih mudah dan amal tersebut lebih cepat diterima. Begitu pun dengan maksud ditutupnya pintu neraka adalah mencegah mereka dari kemaksiatan dan perbuatan yang mengantarkan menuju neraka.
Ad-Dawudi dan Al-Mahlab menjelaskan makna hadits setan yang dibelenggu adalah Allah SWT menjaga umat Islam atau mayoritas dari mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan menuruti bisikan setan.
Dari penjelasan di atas diketahui pemaknaan hadits setan dibelenggu ada yang secara tekstual, ada juga yang melalui pendekatan makna (majasi).
Kenapa Maksiat Masih Terjadi Saat Ramadan?
Menurut Al-Qurthubi, kejahatan dan maksiat saat Ramadan berkurang dari orang-orang yang berpuasa yang benar-benar memelihara syarat dan etikanya. Sedangkan yang dibelenggu itu hanya sebagian dari golongan setan, yaitu yang ingkar saja dan bukan keseluruhan dari mereka.
"Walaupun seluruh setan dibelenggu, maka bukan berarti tidak akan terjadi maksiat. Karena, maksiat itu dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, selain setan itu sendiri. Seperti oleh nafsu jahat, kebiasaan buruk dan juga setan-setan yang berwujud manusia," jelas Al-Qurthubi dikutip dari Al-Jami' fii Fiqhi An-Nisa' karya Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah.
Wallahu a'lam.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan