Sejarah Perang Khaibar: Penyebab dan Kisah Kemenangan Umat Islam

Sejarah Perang Khaibar: Penyebab dan Kisah Kemenangan Umat Islam

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 15 Feb 2026 05:00 WIB
Ilustrasi perang khaibar
Ilustrasi Perang Khaibar (Foto: Gemini AI)
Jakarta -

Sejarah Perang Khaibar menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan dakwah Islam yang sarat dengan makna dan pelajaran berharga. Peristiwa ini tidak hanya dicatat sebagai konflik bersenjata, tetapi juga sebagai momentum strategis yang menentukan posisi kaum muslimin di Jazirah Arab.

Lebih dari itu, Perang Khaibar mencerminkan kemampuan strategi Rasulullah SAW sekaligus menjadi bukti nyata bahwa keyakinan penuh terhadap janji Allah SWT akan membawa kemenangan.

Dalam catatan sejarah Islam, perang ini menunjukkan perpaduan antara kekuatan iman, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta keberanian pasukan muslimin dalam menghadapi tantangan besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab Terjadinya Perang Khaibar

Diceritakan dalam buku Kisah-kisah Manusia Suci karya Sayyid Mahdi Ayatullah, latar belakang terjadinya Perang Khaibar tidak lepas dari peran tokoh-tokoh Bani Nadhir yang bermukim di Khaibar dan aktif menghasut penduduk setempat untuk merusak citra Rasulullah SAW.

Rasa cemas akan berkembangnya umat Islam di Madinah mendorong suku-suku Yahudi Khaibar terlibat dalam berbagai konspirasi, termasuk memberikan dukungan kepada kaum Quraisy Mekkah dalam Perang Khandaq.

ADVERTISEMENT

Bani Nadhir sendiri merupakan salah satu suku Yahudi yang diusir dari Madinah pada tahun ke-4 Hijriah akibat pelanggaran terhadap Piagam Madinah.

Selain itu, penduduk Khaibar juga berperan memprovokasi Bani Quraizhah agar ikut melanggar perjanjian tersebut, serta menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang memusuhi umat Islam, seperti kaum munafik, suku Gathafan, dan kelompok Arab Badui.

Jauh sebelum Perang Khaibar pecah, hubungan antara umat Islam dan penduduk Khaibar sudah diwarnai ketegangan akibat serangkaian konflik yang berkepanjangan. Beberapa aksi penyerangan berskala kecil yang dilakukan oleh kaum Yahudi Khaibar terhadap kaum muslimin turut memperkeruh keadaan dan memperbesar potensi terjadinya peperangan.

Tekad kaum muslimin di Madinah untuk menghadapi penduduk Khaibar semakin menguat setelah turunnya firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath ayat 20.

وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ۝٢٠

Artinya: Allah telah menjanjikan kepadamu rampasan perang yang banyak yang (nanti) dapat kamu ambil, maka Dia menyegerakan (harta rampasan perang) ini untukmu. Dia menahan tangan (mencegah) manusia dari (upaya menganiaya)-mu (agar kamu mensyukuri-Nya), agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin, dan agar Dia menunjukkan kamu ke jalan yang lurus.

Kisah Berlangsungnya Perang Khaibar

Dicertikan dari buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, sekitar 1.600 orang pasukan muslimin, termasuk 200 prajurit berkuda yang menjadi kekuatan utama, bergerak menuju Khaibar dengan keyakinan kuat akan terwujudnya janji kemenangan dari Allah SWT

Langkah ini dilandasi keimanan yang kokoh bahwa pertolongan Allah pasti menyertai perjuangan kaum mukmin.

Sebelum keberangkatan, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa panji utama peperangan akan diserahkan kepada seorang pejuang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keesokan harinya, Ali bin Abi Thalib yang saat itu mengalami sakit mata dipanggil menghadap Nabi Muhammad SAW.

Melalui doa Rasulullah SAW, Ali pun sembuh dan kemudian dipercaya memegang bendera perang. Ia juga menerima pesan agar terlebih dahulu mengajak musuh kepada Islam sebelum terjadinya pertempuran, sebagai penegasan bahwa dakwah selalu diutamakan meski dalam situasi perang.

Dalam perjalanan menuju Khaibar, Rasulullah SAW bertemu dengan seorang penggembala kambing yang tertarik pada ajaran Islam dan akhirnya memeluk agama tersebut. Penggembala itu sempat merasa khawatir terhadap kambing-kambing yang digembalakannya karena merupakan milik orang Yahudi.

Rasulullah SAW lalu menasihatinya untuk menyebut nama Allah dan menepuk kambing-kambing itu. Atas izin Allah, kambing-kambing tersebut kembali ke kandang pemiliknya dengan sendirinya, tanpa pengawalan, sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Pertempuran di Khaibar berlangsung dengan sengit karena benteng-bentengnya memiliki sistem pertahanan yang kuat dan persenjataan yang lengkap.

Meski demikian, berkat strategi yang cermat, semangat juang yang tinggi, dan tentunya pertolongan Allah, pasukan muslimin berhasil menaklukkan pertahanan musuh dan meraih kemenangan, disertai perolehan harta rampasan sebagaimana dijanjikan Allah SWT dalam Al-Qur'an.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan keutamaan Ali bin Abi Thalib yang peran dan keberaniannya menjadi bagian penting dalam keberhasilan tersebut.

Secara keseluruhan, sejarah Perang Khaibar menjadi pelajaran bahwa kemenangan bersumber dari keimanan kepada Allah SWT, kesabaran dalam perjuangan, serta komitmen untuk mendahulukan dakwah di atas kepentingan pribadi, sekaligus menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari iman dan kebijaksanaan.




(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads