Salat Tarawih bukan sekadar ibadah tambahan di bulan suci, melainkan penanda bahwa pintu ampunan telah dibuka lebar oleh Allah SWT. Namun, seiring dengan adanya potensi perbedaan awal Ramadan, banyak umat Islam yang mempertanyakan, kapan Tarawih Ramadan 2026 dimulai?
Mengetahui kapan dimulainya Tarawih, menjadi hal penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri melaksanakan ibadah tersebut. Untuk itu, berikut prediksi Tarawih Ramadan 2026 dimulai, lengkap dengan tata cara salat Tarawih sesuai tuntunan.
Kapan Tarawih Ramadan 2026 Dimulai?
Untuk mengetahui kapan Tarawih Ramadan 2026 dimulai, umat Islam harus mengetahui terlebih dahulu kapan awal puasa akan dimulai. Pemerintah akan menentukan awal puasa melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Thomas Djamaluddin memprediksi pemerintah akan menetapkan awal puasa 2026 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 karena posisi hilal pada 17 Februari 2026 masih di bawah ufuk.
"Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria 'hilal lokal', yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026," kata Thomas saat dihubungi, Kamis (5/2/2026), dilansir detikNews.
Jika hasil sidang isbat sesuai dengan hasil prediksi tersebut, Tarawih Ramadan 2026 akan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026 malam setelah salat Isya.
Sementara itu, warga Muhammadiyah akan mulai Tarawih pada Selasa, 17 Februari 2026 malam karena 1 Ramadan 1447 H telah ditetapkan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Ketetapan awal Ramadan ini mengacu hasil hisab hakiki dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.
Jumlah Rakaat Salat Tarawih
Dijelaskan dalam Fiqih Sunnah Jilid 1 oleh Sayyid Sabiq, para perawi meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak mengerjakan salat malam lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun lainnya.
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahihnya, dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW mengerjakan salat bersama kaum muslim sebanyak delapan rakaat. Kemudian kaum muslim menunggu beliau di malam berikutnya. Namun, pada malam tersebut beliau tidak datang.
Abu Ya'la dan Thabrani meriwayatkan dengan sanad hasan bahwa Jabir berkata, "Ubai bin Ka'ab datang menemui Rasulullah SAW dan ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku mengalami suatu hal di malam Ramadan ini.'
Beliau bertanya, 'Apa itu wahai Ubai?' Ubai berkata, 'Kaum perempuan berkumpul di rumahku dan mereka berkata, 'Kami tidak dapat membaca Al-Qur'an. Boleh kami mengerjakan salat dengan bermakmum di belakangmu?'
Lalu aku mengerjakan salat bersama mereka sebanyak delapan rakaat. Kemudian mengerjakan salat witir. Lalu beliau mengangguk-angguk seakan memberikan persetujuan dan tidak mengucapkan apa-apa'."
Berdasarkan hadits di atas, jumlah rakaat yang disunnahkan dalam salat Tarawih adalah delapan rakaat.
Sementara itu, terdapat riwayat shahih yang menjelaskan bahwa pada masa Khalifah Umar, Utsman, dan Ali, kaum muslim mengerjakan salat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Ini adalah pendapat mayoritas dari kalangan madzhab Hanafi dan Hanbali, juga pendapat Dawud azh-Zhahiri.
Imam At-Tirmidzi berkata, "Mayoritas ulama berpegang kepada riwayat dari Umar, Ali, dan para sahabat Nabi SAW yang lain yang menjelaskan bahwa salat Tarawih dikerjakan sebanyak dua puluh rakaat." Ini adalah pendapat Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Syafi'i. Syafi'i berkata, "Aku mendapati kaum muslim di Makkah mengerjakan salat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat."
Jumlah rakaat salat Tarawih baik 8 rakaat maupun 20 rakaat, sama-sama memiliki dasar hukum yang kuat. Dengan begitu, umat Islam dapat memilih jumlah rakaat salat Tarawih sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Bacaan Niat Salat Tarawih
Salat Tarawih bisa dilakukan sendiri maupun berjamaah. Dijelaskan dalam buku Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik oleh Titi Suwarni, berikut bacaan niat salat Tarawih untuk imam, makmum, dan sendiri:
Niat Salat Tarawih Imam
أُصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak'atayni mustaqbilal qiblati adā'an imāman lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku berniat salat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT."
Niat Salat Tarawih Makmum
أُصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak'atayni mustaqbilal qiblati ada'an ma'muman lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku berniat salat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT."
Niat Salat Tarawih Sendiri (Munfarid)
أصَلَّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarawihi rak'atayni mustaqbilal qiblati ada'an lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku berniat salat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT."
Tata Cara Salat Tarawih
Dijelaskan dalam buku Shalat Sunnah: Hikmah dan Tuntunan Praktis oleh Nasrul Umam Syafi'i & Lukman Hakim, meski salat Tarawih dapat dilakukan dengan jumlah rakaat yang banyak, pelaksanaan dilakukan dua rakaat dengan satu salam.
Berikut tata cara salat Tarawih secara lengkap:
- Membaca niat salat Tarawih
- Takbiratul ihram
- Membaca surah Al-Fatihah
- Membaca surah lain dalam Al-Qur'an
- Rukuk
- Itidal
- Sujud pertama
- Duduk di antara dua sujud
- Sujud kedua
- Berdiri kembali untuk memulai rakaat kedua, dengan gerakan dan bacaan yang sama seperti rakaat pertama
- Tasyahud akhir dan salam
- Lakukan tata cara yang sama hingga 8 atau 20 rakaat
Salat Tarawih biasanya diakhiri dengan witir.
Doa Setelah Salat Tarawih
Dinukil dari buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari oleh KH Muhammad Habibillah. berikut bacaan doa setelah salat Tarawih:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِينَ. وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّينَ. وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِينَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِينَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِينَ. وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِينَ. وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِينَ. وَفِي الْآخِرَةِ رَاغِبِينَ. وَبِالْقَضَاءِ رَاضِينَ. وَبِالنَّعْمَاءِ شَاكِرِينَ. وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِينَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِينَ. وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِينَ. وَفِي الْجَنَّةِ دَاجِلِيْنَ. وَعَلَى سَرِيرَةِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِينَ. وَبِحُوْرِ عِيْنٍ مُتَزَوجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِينَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفِّيْنَ شَارِبِينَ. بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنِ. مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Allaahummaj'alnaa bil iimaani kaamiliin, walifaraaidhika muaddiin, wa 'alash shalawaati muhaafizhiin, wa lizzakaati faa'iliin, wa limaa 'indaka thaalibiin, wa li'afwika raajiin, wa bilhudaa mutamassikiin, wa 'anil laghwi mu'ridhiin, wa fiddunyaa zaahidiin, wa fil aakhirati raaghibiin, wa bil qadhaai raadiin, wa binna'maai syaakiriin, wa 'alal balaai shaabiriin, wa tahta liwaa-i sayyidina muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallama yaumal qiyaamati saairiin, wa 'alal hawdhi waaridiin, wa fil jannati daakhiliin, wa 'alaa sariiratil karaamati gaa'idiin, wa bihuurin 'iinin mutazawwijiin, wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin, wa min tha'aamil jannati aakiliin, wa min labanin wa 'asalin mushaffiina syaaribiin, biakwaabin wa abaariqa waka'sin min ma'iin, ma'alladziina an'amta 'alaihim minan nabiyyiina wash shiddiiqiina wasy syuhada-i wash shaalihiin, wa hasuna ulaaika raafiiqaa, dzaalikal fadhlu minallaahi wa kafaa billaahi 'aliimaa, wal hamdulilllaahi rabbil 'aalamiin.
Artinya: "Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala kewajiban, menjaga shalat, menunaikan zakat, menurut atau mencapai segala kebaikan di sisi-Mu, mengharap ampunan-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-Mu, terhindar dari segala penyelewengan dan zuhud di dunia dan mencintai amal sebagai bekal di akhirat dan tabah menerima cobaan, mensyukuri segala nikmat-Mu, dan semoga pada hari kiamat kami berada dalam satu barisan di bawah naungan panji junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan melalui telaga yang sejuk masuk ke dalam surga dan terhindar dari api neraka, dan duduk di tahta kehormatan didampingi oleh para bidadari surga dan mengenakan baju kebesaran, dari sutra yang berwarna-warni, menikmati santapan surga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih dalam gelas dan kendi yang tidak pernah kering, bersama dengan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, dari golongan para nabi, orang-orang yang bersedekah, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh, dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Semua itu adalah kemurahan dari Allah dan cukup dari Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Mengenang Thessaloniki, Kota Muslim di Yunani yang Hilang
Kisah Wanita Pemberani 'Sang Perisai Rasulullah' di Perang Uhud