Rukun Puasa Ramadan dan Syarat Wajib Pelaksanaannya dalam Islam

Rukun Puasa Ramadan dan Syarat Wajib Pelaksanaannya dalam Islam

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Sabtu, 24 Jan 2026 09:00 WIB
Rukun Puasa Ramadan dan Syarat Wajib Pelaksanaannya dalam Islam
Ilustrasi puasa. Foto: Getty Images/rachasuk
Jakarta -

Puasa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan menahan diri dari makan dan minum. Oleh karena itu, pelaksanaan puasa Ramadan tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan harus memenuhi rukun dan syarat wajib puasa yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.

Puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT kepada umat Islam sebagai bagian dari penyempurnaan keimanan dan ketakwaan. Perintah tersebut ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alal-lażīna min qablikum la'allakum tattaqūn(a).

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah: 183)

ADVERTISEMENT

Berdasarkan Tafsir Kemenag, ayat tersebut menjelaskan bahwa puasa diwajibkan kepada orang-orang beriman sebagai sarana melatih pengendalian diri dan ketaatan kepada Allah. Kewajiban ini juga berlaku bagi umat terdahulu dengan tujuan utama membentuk pribadi yang bertakwa.

Apa Itu Puasa Ramadan?

Berdasarkan buku Fiqhul Islam: Belajar Fikih Mazhab Syafi'i untuk Pemula karya Imam Syafi'i, puasa secara bahasa berasal dari kata as-shaum, yang berarti menahan diri dari suatu perbuatan. Secara syarak, as-shaum dimaknai sebagai menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dengan disertai niat serta memenuhi syarat-syarat tertentu.

Puasa tidak hanya terbatas pada menahan makan dan minum, tetapi juga mencakup pengendalian hawa nafsu, menjaga perbuatan dan perkataan dari hal-hal yang sia-sia, serta menjauhi segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Termasuk dalam hal ini adalah memasukkan benda konkret ke dalam rongga tubuh, seperti minum obat dan sejenisnya. Kewajiban puasa Ramadan dimulai setelah sempurnanya bulan Syaban selama 30 hari atau setelah terlihatnya masuk bulan Ramadan.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, awal puasa Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dengan demikian, puasa Ramadan tidak sekadar dipahami sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga, melainkan merupakan ibadah yang memiliki ketentuan khusus, baik dari segi rukun maupun syarat wajib pelaksanaannya.

Rukun Puasa Ramadan

Berdasarkan buku Fikih karya Udin Wahyudin dkk., rukun puasa merupakan unsur pokok yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim yang melaksanakan puasa. Apabila salah satu rukun tidak dipenuhi, maka puasa tersebut dinyatakan tidak sah. Rukun puasa Ramadan terdiri dari dua hal.

1. Berniat dalam Hati

Niat bermakna kesengajaan untuk menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dengan mengharap ridha-Nya. Niat puasa Ramadan harus dilakukan sebelum terbit fajar, yaitu pada malam hari selama bulan Ramadan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW dari Hafsah sebagai berikut.

مَنْ لَمْ يُجْمِحِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ (رواه الخمسة )

Artinya: Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. (H.R. al-Khamsah)

2. Menahan Diri dari Pembatal Puasa

Menjaga diri dengan tidak melakukan segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Syarat Wajib Puasa

Masih merujuk pada buku Fikih karya Udin Wahyudin dkk., terdapat beberapa syarat wajib puasa yang harus dipenuhi oleh seseorang agar dikenai kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Islam

Puasa diwajibkan bagi setiap orang yang beragama Islam. Sementara itu, orang yang tidak beragama Islam tidak termasuk dalam golongan yang dibebani kewajiban berpuasa.

2. Balig

Balig berarti telah mencapai usia dewasa menurut ketentuan syariat. Seseorang yang belum balig belum diwajibkan melaksanakan puasa Ramadan.

3. Berakal

Kewajiban berpuasa hanya berlaku bagi orang yang memiliki akal sehat. Orang yang sedang mengalami gangguan akal, seperti pingsan atau gila, tidak diwajibkan menjalankan puasa.

4. Mampu Berpuasa

Puasa diwajibkan bagi orang yang memiliki kemampuan fisik dan kekuatan untuk menjalankannya. Adapun orang yang sakit atau dalam kondisi lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berpuasa, tidak dikenai kewajiban tersebut.




(inf/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads