Surat Asy-Syams merupakan salah satu surat yang terdapat dalam Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT kerap bersumpah dengan ciptaan-Nya untuk menegaskan pesan penting yang akan disampaikan, salah satunya melalui Surat Asy-Syams.
Dikutip dari buku Tafsir Al-Quran 9 (Asy-Syams) oleh Ustadz Dr Afif Muhammad, surat Asy-Syams termasuk dalam kelompok surat Makkiyah yang diturunkan pada fase awal dakwah Islam dengan berjumlah sebanyak 15 ayat.
Untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya, berikut penjelasan lengkap Surat Asy-Syams mulai dari teks, terjemahan, hingga kandungan maknanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan Surat Asy-Syams Lengkap Latin dan Artinya
وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ
Latin: Wasy-syamsi wa ḍuḥāhā.
Artinya: Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), (Asy-Syams: 1)
وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ
Latin: Wal-qamari iżā talāhā.
Artinya: demi bulan saat mengiringinya, (Asy-Syams: 2)
وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ
Latin: Wan-nahāri iżā jallāhā.
Artinya: demi siang saat menampakkannya, (Asy-Syams: 3)
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ
Latin: Wal-laili iżā yagsyāhā.
Artinya: demi malam saat menutupinya (gelap gulita), (Asy-Syams: 4)
وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ
Latin: Was-samā'i wa mā banāhā.
Artinya: demi langit serta pembuatannya, (Asy-Syams: 5)
وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ
Latin: Wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā.
Artinya: demi bumi serta penghamparannya, (Asy-Syams: 6)
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ
Latin: Wa nafsiw wa mā sawwāhā.
Artinya: dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, (Asy-Syams: 7)
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
Latin: Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā.
Artinya: lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, (Asy-Syams: 8)
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ
Latin: Qad aflaḥa man zakkāhā.
Artinya: sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (Asy-Syams: 9)
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
Latin: Wa qad khāba man dassāhā
Artinya: dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 10)
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ
Latin: Każżabat ṡamūdu biṭagwāhā.
Artinya: (Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (Asy-Syams: 11)
اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ
Latin: Iżimba'aṡa asyqāhā.
Artinya: ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah). (Asy-Syams: 12)
فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ
Latin: Fa qāla lahum rasūlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā.
Artinya: Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, "(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya." (Asy-Syams: 13)
فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ
Latin: Fa każżabūhu fa 'aqarūhā fa damdama 'alaihim rabbuhum biżambihim fa sawwāhā.
Artinya: Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah). (Asy-Syams: 14)
وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ
Latin: Wa lā yakhāfu 'uqbāhā.
Artinya: Dia tidak takut terhadap akibatnya. (Asy-Syams: 15)
Tafsir dan Kandungan Surat Asy-Syams
Berdasarkan tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, Surat Asy-Syams diawali dengan rangkaian sumpah Allah atas ciptaan-Nya, seperti matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi. Sumpah-sumpah ini menunjukkan keteraturan dan keseimbangan alam semesta yang berjalan sesuai ketetapan-Nya. Seluruh ciptaan tersebut menjadi bukti nyata kekuasaan Allah sekaligus penanda keteraturan waktu dan kehidupan manusia.
Setelah menggambarkan alam semesta, Allah mengarahkan perhatian pada manusia, khususnya pada jiwa. Manusia diciptakan dengan kesempurnaan fisik dan psikis, serta dibekali potensi untuk mengenal kebaikan dan keburukan. Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan, sehingga manusia memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab moral atas pilihan hidupnya.
Inti pesan surat ini ditegaskan pada ayat kesembilan dan kesepuluh, bahwa keberuntungan sejati diperoleh oleh orang yang menyucikan jiwanya, sedangkan kerugian menimpa orang yang mengotori dan menutupi potensi kebaikan dalam dirinya. Penyucian jiwa mencakup upaya menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan nilai-nilai keimanan, keikhlasan, serta akhlak mulia.
Untuk memperjelas konsekuensi dari pilihan manusia, Allah menghadirkan kisah kaum Tsamud sebagai contoh nyata. Kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh dan melampaui batas dengan membunuh unta mukjizat yang menjadi tanda kekuasaan Allah. Tindakan tersebut mencerminkan jiwa yang telah dikuasai kesombongan dan pembangkangan terhadap perintah Tuhan.
Akibat dari kedurhakaan itu, Allah menurunkan azab yang membinasakan kaum Tsamud secara menyeluruh. Kehancuran mereka menjadi peringatan bahwa pelanggaran terhadap aturan Allah dan pengabaian nilai-nilai kebenaran akan berujung pada kebinasaan. Allah menegaskan bahwa setiap keputusan-Nya adalah bentuk keadilan mutlak, dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menuntut atau menghalangi kehendak-Nya.
Secara keseluruhan, Surat Asy-Syams mengajarkan bahwa kehidupan manusia berada dalam keteraturan ciptaan Allah, dan keberhasilan hidup sangat bergantung pada kesediaan manusia untuk menyucikan jiwanya. Surat ini menegaskan pentingnya tanggung jawab moral, ketakwaan, serta ketaatan terhadap petunjuk Allah sebagai jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Cara Mengamalkan Surat Asy-Syams
Dikutip dari buku Tafsir Al-Qur'an Al-'Aziz Kelas VIII MI/MTs, diedit oleh Wafi Marzuqi Ammar, pengamalan Surat Asy-Syams dapat diwujudkan melalui sikap dan perbuatan yang mencerminkan upaya penyucian jiwa serta kesadaran akan tanggung jawab moral sebagai seorang Muslim.
Pertama, umat Islam dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan salat dua rakaat duha setiap hari. Anjuran ini selaras dengan sumpah Allah SWT dalam Surat Asy-Syams yang menyebut matahari dan waktu duha. Salat duha dikenal sebagai "shalatul awwaabiin", yaitu shalat yang dikerjakan oleh orang-orang yang senantiasa kembali dan bertaubat kepada Allah SWT.
Kedua, seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon kepada Allah agar jiwanya diberi ketakwaan dan disucikan dari segala keburukan. Salah satu doa yang dianjurkan untuk diamalkan adalah sebagai berikut:
اللَّهَمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا. وَزَكَهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَاهَا. أَنتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah ketakwaan kepada jiwaku, dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penolongnya."
Ketiga, manusia yang telah mencapai usia baligh dipandang telah memikul tanggung jawab penuh atas setiap perbuatannya. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Apabila terlanjur melakukan kesalahan, maka hendaknya segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT.
Kisah kaum Tsamud dalam Surat Asy-Syams dapat menjadi pelajaran bahwa azab Allah diturunkan akibat dosa dan kemaksiatan yang terus dilakukan tanpa penyesalan.
Perilaku menyakiti orang lain, mengganggu, atau melakukan perundungan terhadap sesama tidak boleh dianggap remeh. Setiap perbuatan akan memiliki dampak dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Kahfi ayat 49:
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ
Latin: Wa wuḍi'al-kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqūlūna yā wailatanā mā lihāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadū mā 'amilū ḥaḍirā(n), wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā(n).
Artinya: Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, "Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya." Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf: 49)

Komentar Terbanyak
Menbud Tetapkan Hari Kepercayaan kepada Tuhan YME, MUI Pertanyakan Urgensinya
Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ , Jaga Nilai Masyarakat Setempat
Kisah Keajaiban Sedekah 6 Dirham Sayyidina Ali Dibalas 50 Kali Lipat