4 Panggilan Mesra Rasulullah kepada Istrinya, Bikin Pasangan Makin Langgeng

4 Panggilan Mesra Rasulullah kepada Istrinya, Bikin Pasangan Makin Langgeng

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 13 Nov 2025 05:00 WIB
4 Panggilan Mesra Rasulullah kepada Istrinya, Bikin Pasangan Makin Langgeng
Ilustrasi Nabi Muhammad SAW (Foto: iStock)
Jakarta -

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia, termasuk dalam urusan rumah tangga. Beliau dikenal memiliki sikap yang sangat romantis, lembut, dan penuh kasih sayang terhadap para istrinya.

Di antara istri-istri beliau, Aisyah RA memiliki tempat istimewa di hati Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Khadijah RA, riwayat menyebutkan tidak ada istri yang lebih dicintai Rasulullah SAW selain Aisyah RA. Bentuk keromantisan beliau kepada Aisyah RA terlihat jelas dari panggilan-panggilan mesra yang beliau gunakan.

Panggilan sayang ini bukan hanya menunjukkan cinta, tetapi juga menjadi rahasia keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga Rasulullah SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panggilan Sayang Rasulullah SAW kepada Aisyah

Mengutip dari buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul karya Ustadzah Azizah Hefni dan Misteri Bidadari Surga karya Joko Syahban, berikut adalah empat panggilan mesra Rasulullah SAW kepada Aisyah RA yang bisa menjadi inspirasi bagi pasangan Muslim:

ADVERTISEMENT

1. Humaira (Si Pipi Kemerah-merahan)

Panggilan Humaira adalah yang paling terkenal dan sering diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah RA. Panggilan ini diambil dari kata "hamra" yang berarti si putih berambut pirang. Namun, Humaira adalah bentuk isim tasghir yang berfungsi memanjakan, bermakna "si pipi kemerah-merahan".

Aisyah RA memang memiliki kulit putih, dan pipinya akan merona merah saat ia tersipu, tertawa, atau bahkan sedikit marah.

Panggilan ini dibuktikan dalam sebuah kisah mesra ketika orang-orang Habsyah bermain tombak di dekat masjid:

"Wahai Humaira! Apakah engkau suka melihat mereka?" panggil Rasulullah SAW. Lalu, dijawab oleh Aisyah, "Ya." Kemudian beliau berdiri di pintu dan Aisyah RA mendatanginya, Aisyah RA pun meletakkan dagunya di atas bahu Nabi SAW dan disandarkan wajahnya pada pipi beliau." (HR An-Nasa'i di dalam As-Sunan Al-Kubra dan Ahmad)

Panggilan ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW memperhatikan detail fisik istrinya sebagai ungkapan cinta.

2. Muwaffaqah (Yang Diberi Petunjuk)

Panggilan mesra lain yang pernah diucapkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA adalah Muwaffaqah, yang berarti "orang yang diberi petunjuk" atau "orang yang mendapat taufik".

Panggilan ini diucapkan dalam konteks yang mengandung pelajaran berharga dan doa kebaikan.

Panggilan Muwaffaqah muncul dalam sebuah dialog mengenai orang yang meninggal mendahului keluarganya, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mempunyai dua orang pendahulu (maksudnya mayat) di antara umatku, Allah akan memasukkannya ke surga dengan dua orang tersebut." Aisyah berkata, "Dan orang yang mempunyai satu pendahulu (mayat) di antara umatmu." Rasulullah menjawab, "Ya, barang siapa mempunyai satu orang pendahulu, wahai Muwaffaqah?"

Ibnu Abbas bertanya, "Bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai satu orang pendahulu pun di antara umatmu?" Rasulullah SAW bersabda, "Aku adalah pendahulu umatku. Mereka tidak akan diuji sepertiku." (HR Tirmidzi)

Penggunaan kata ini adalah bentuk pujian dan doa dari suami kepada istri, mendoakan agar ia senantiasa berada dalam hidayah Allah SWT.

3. Aisy (Panggilan Pendek dari Nama)

Terkadang, Rasulullah SAW memanggil Aisyah RA dengan menyingkat namanya menjadi Aisy. Panggilan ini merupakan bentuk penyingkatan nama (takhfif) yang menunjukkan keakraban, kelembutan, dan kemanjaan (seperti nickname).

Panggilan sederhana ini menunjukkan bahwa sapaan mesra tidak selalu harus berupa kata-kata puitis, tetapi bisa berupa penyingkatan nama dengan nada penuh kasih sayang.

4. Ummu Abdullah (Ibu dari Abdullah)

Meskipun Aisyah RA tidak dikaruniai keturunan langsung dari Rasulullah SAW, beliau tetap memanggil istrinya dengan sebutan yang sangat terhormat, yaitu Ummu Abdullah, yang berarti "Ibu dari Abdullah".

Panggilan ini adalah bentuk penghargaan dan penghormatan luar biasa dari suami kepada istrinya, menjadikannya terasa lengkap dan mulia meskipun tidak memiliki anak kandung.

Panggilan ini diserukan Rasulullah SAW ketika Asma' (saudara Aisyah RA) melahirkan bayi yang kemudian dibawa Aisyah ke hadapan beliau.

Ibnu Hibban meriwayatkan hadits tentang ini dari Aisyah RA, "Ketika Abdullah bin Zubair lahir, Aisyah membawanya kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW membasahi bibir Abdullah bin Zubair dengan ludahnya dan itulah sesuatu yang pertama kali masuk ke perutnya. Rasulullah SAW lalu bersabda, 'Dia Abdullah dan engkau Aisyah adalah Ummu Abdullah'." (HR Ibnu Hibban)

Sejak saat itu, Aisyah RA dikenal dan dipanggil dengan sebutan Ummu Abdullah hingga wafat, menjadikannya sangat tersanjung dan terhormat.

Keempat panggilan mesra ini menunjukkan bahwa keromantisan adalah bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Beliau melakukannya dengan penuh cinta, kelembutan, dan penghormatan yang tulus.

Menggunakan panggilan sayang yang mengandung doa, pujian, atau bahkan sekadar manja seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dapat menjadi kunci untuk menjaga api cinta, menghindari kejenuhan, dan membuat hubungan pasangan suami istri menjadi lebih langgeng dan penuh berkah.

Wallahu a'lam.




(hnh/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads