Mengenal Darb Zubaydah, Jalur Bersejarah yang Hubungkan Irak dan Makkah

Mengenal Darb Zubaydah, Jalur Bersejarah yang Hubungkan Irak dan Makkah

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Minggu, 18 Okt 2026 11:00 WIB
Rute haji kuno Darb Zubaydah
Rute haji kuno Darb Zubaydah. (Foto: Saudi Press Agency)
Jakarta -

Di masa lalu, penghormatan terhadap lingkungan serta kepedulian terhadap air sebagai sumber kehidupan utama tercermin jelas dalam sejarah peradaban Islam awal. Salah satu bukti nyata keberhasilan dan kecerdasan rekayasa air umat Islam dapat dilihat pada jalur haji Kufah-Makkah yang sangat terkenal di Jazirah Arab, yakni Darb Zubaydah.

Jalur yang membentang sepanjang kurang lebih 1.400 km ini menghubungkan Kota Kufah di Irak, sekitar 170 km di selatan Baghdad, langsung menuju kota suci Makkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah dan Perkembangan Jalur Darb Zubaydah

Secara historis, sebagian dari jalur Darb Zubaydah memang telah digunakan sejak era pra-Islam. Namun, sebagaimana disebutkan dalam buku Underground Aqueducts Handbook oleh Andreas N. Angelakis, penetapan Darb Zubaydah sebagai jalur tetap jemaah Mesopotamia yang hendak menuju Makkah secara resmi dibangun pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yakni pada pemerintahan Khalifah Harun al-Rashid.

Nama rute ini diambil dari nama sang istri, Ratu Zubaydah binti Ja'far, yang sangat memperhatikan kesejahteraan para jemaah. Kesulitan perjalanan akibat badai debu dan kelangkaan air mendorong Ratu Zubaydah membenahi fasilitas di sepanjang jalur Darb Zubaydah, seperti memasang penanda jalan, tempat persinggahan yang dilengkapi kolam, bendungan, istana, rumah, dan jalan berbatu.

ADVERTISEMENT

Merangkum buku The Archaeology of Irrigation Technology and Water Management in the Islamic World oleh Timothy Insoll dkk, jalur ini terus berkembang sejak era Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah, hingga mencapai puncak kejayaannya pada era awal Abbasiyah di bawah kepemimpinan para khalifah seperti Abu Abbas al-Saffah, Abu Jafar al-Mansur, al-Mahdi, al-Hadi, dan Harun al-Rashid.

Meskipun Khilafah Abbasiyah runtuh pada 656 H (1258 H) akibat serangan Bangsa Mongol, Darb Zubaydah tetap ada sebagai bukti kejayaan peradaban Islam.

Bahkan pada bangsa modern, Kerajaan Arab Saudi dan Irak pernah menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama mengamankan dan memfasilitasi perjalanan kafilah haji di sepanjang jalur Darb Zubaydah pada 18 Zulkaidah 1358 H (1935 M).

Lintasan Geografis dan Fasilitas Persinggahan Jalur Darb Zubaydah

Darb Zubaydah membentang dari Kufah di Irak, melintasi perbatasan Saudi di dekat Rafha, menuju Mahd Ad Dahab, hingga berkelok-kelok melewati berbagai lembah menuju Thaif dan Makkah. Jalur ini melintasi kondisi topografi yang sangat beragam, mulai dari dataran rendah, wilayah perbukitan berbatu, gurun pasir, hingga lembah-lembah sempit.

Di sepanjang jalur utama dan cabang-cabang Darb Zubaydah, telah diidentifikasi sekitar 54 persinggahan atau pemukiman. Jarak di antaranya sekitar 12 hingga 30 km yang disesuaikan dengan kondisi medan serta jarak tempuh harian para jemaah. Setiap titiknya dilengkapi dengan fasilitas sumur, kolam air, dan pemukiman untuk jemaah lokal maupun penduduk gurun.

Keunggulan Teknologi Rekayasa Air dan Arsitektur Darb Zubaydah

Teknologi paling menakjubkan dari Darb Zubaydah adalah jaringan penampung air tawar (birqat). Mengingat kawasan ini sangat minim mata air tanah maupun oase, para insinyur muslim masa itu membangun reservoir besar dan tangki penampung air (cistern) di area cekungan atau sepanjang aliran wadi untuk menangkap air banjir bandang.

Keberhasilan proyek rekayasa hidrologi ini didukung oleh para insinyur dan pekerja yang dibentuk oleh para khalifah untuk memelihara fasilitas jalur Darb Zubaydah secara berkala, terutama menjelang musim kafilah haji.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads