Kesalahan kecil yang tidak disengaja ternyata dapat membawa dampak besar. Hal ini pernah dialami Ibrahim bin Adham rahimahullah, seorang ulama dan ahli zuhud yang dikenal luas.
Kisah tersebut dirangkum dalam buku Kumpulan Kisah Teladan karya Prof. Dr. HM Hasballah Thaib, MA dan H. Zamakhsyari Hasballah, Lc, MA, Ph.D, yang mengutip dari kitab Siyar A'lam an-Nubala karya Imam Az-Zahabi.
Peristiwa ini bermula seusai Ibrahim bin Adham menunaikan ibadah haji di Makkah. Berniat melanjutkan perjalanan ziarah menuju Masjid Al-Aqsa, ia menyempatkan diri membeli satu kilogram kurma dari seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram sebagai bekal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu transaksi selesai dan kurma dibungkus, pandangan Ibrahim tertuju pada sebutir kurma yang tergeletak tepat di dekat timbangan. Ia mengira kurma tersebut merupakan bagian dari kurma yang telah dibelinya. Ibrahim kemudian memungut dan memakan kurma tersebut. Selesai memakan kurma itu, ia pun melangkahkan kaki meninggalkan kota Makkah.
Empat bulan berlalu hingga akhirnya Ibrahim tiba di Palestina. Seperti biasa, ia memilih sebuah ruangan tenang di bawah Kubah Sakhra, Kompleks Masjid Al-Aqsa, untuk berkhalwat. Di sana ia melaksanakan salat dan memanjatkan doa dengan amat khusyuk. Namun, di tengah kesendiriannya, Allah SWT memperdengarkan percakapan dua malaikat mengenai dirinya.
"Itu Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara' yang doanya selalu dikabulkan Allah SWT," tutur malaikat pertama.
"Tetapi sekarang tidak lagi," balas malaikat kedua. "Doanya ditolak karena empat bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram," lanjutnya.
Mendengar percakapan ghaib itu, dada Ibrahim terasa sesak. Ia pun terperanjat menyadari bahwa selama empat bulan terakhir, ibadah, salat dan doa-doanya terhalang hanya karena sebutir kurma yang belum sah menjadi haknya.
Sambil mengucap istighfar berkali-kali, ia langsung berbenah. Tanpa menunda waktu, Ibrahim melangkahkan kembali kakinya menempuh perjalanan menuju Makkah demi mencari pedagang tua itu.
Sesampainya di sudut Masjidil Haram, Ibrahim tak lagi mendapati sang pedagang tua, melainkan seorang pemuda yang sedang melayani pembeli. Pemuda itu mengabarkan bahwa ayahnya telah berpulang ke rahmatullah sebulan yang lalu.
Dengan hati yang cemas, Ibrahim menceritakan kekhilafannya empat bulan lalu dan memohon agar pemuda tersebut berkenan menghalalkan sebutir kurma milik almarhum ayahnya.
"Bagi saya tidak masalah, Insya Allah saya halalkan," ujar pemuda itu santun.
"Namun saya memiliki 11 orang saudara. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka karena kami semua memiliki hak waris yang sama," lanjutnya.
Ibrahim tak berkecil hati. Ia pun segera meminta alamat seluruh saudara pemuda tersebut, lalu mendatangi mereka satu per satu meski harus menelusuri pemukiman yang saling berjauhan. Kegigihan dan ketulusan Ibrahim meluluhkan hati seluruh ahli waris, hingga akhirnya mereka semua ikhlas menghalalkan sebutir kurma tersebut.
Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham telah kembali berada di bawah Kubah Sakhra, Masjid Al-Aqsa. Di tengah sujud dan kekhusyukan ibadahnya, suara dua malaikat yang dulu kembali terdengar bercakap-cakap.
"Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain," ujar malaikat pertama.
"Sekarang doanya sudah makbul. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma tersebut. Diri dan jiwanya pun kembali bersih dari kesalahan itu. Kini ia telah terbebas," jawab malaikat lainnya.
Kisah Ibrahim bin Adham ini menjadi pengingat untuk selalu memastikan bahwa apa yang dikonsumsi atau dimiliki benar-benar diperoleh secara halal dan atas izin pemiliknya.
Wallahu a'lam.
