Tukang Tambal Ban yang Berhaji Sendiri dalam Keterbatasan

Tukang Tambal Ban yang Berhaji Sendiri dalam Keterbatasan

Rachmatunnisa - detikHikmah
Kamis, 11 Jun 2026 21:08 WIB
Mbah Chulaeli, seorang petani yang pernah menyambung hidup sebagai penarik becak motor.
Foto: Media Center Haji 2026
Jeddah -

Air mata Chulaeli Ali (73) tak terbendung saat berada di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026). Di atas kursi rodanya, tangan keriput lansia asal Pidodowetan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu tampak bergetar menerima sebuah amplop berisi uang dari petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara.

"Ini buat Mbah ya, rezeki untuk keluarga Mbah Chulaeli di rumah," ujar seorang petugas haji sembari menyerahkan amplop tersebut.

Sesaat kemudian, tangis sang kakek pecah. Tak banyak kata yang mampu terucap dari bibirnya, selain untaian rasa syukur yang teramat dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maturnuwun (terima kasih)," bisik Chulaeli lirih dengan suara bergetar, sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya yang mulai berkerut.

Mbah Chulaeli bukanlah sosok yang bergelimang harta. Di kampung halamannya, ia merupakan seorang petani yang pernah menyambung hidup sebagai penarik becak motor. Demi menopang ekonomi keluarga, sang istri juga membuka tempat tambal ban sederhana.

ADVERTISEMENT

Namun, ujian hidup datang beberapa tahun lalu. Chulaeli terserang stroke yang menyebabkan mobilitasnya menjadi sangat terbatas. Praktis, ia tak lagi bisa bekerja.

Meski harus bergantung pada kursi roda dan berangkat ke Tanah Suci seorang diri di usia senja, niatnya untuk memenuhi rukun Islam kelima tidak pernah surut.

Kisah perjuangannya mulai menyedot perhatian saat kakek kelahiran 21 Februari 1953 ini mengikuti program Safari Wukuf pada Selasa (26/5), sebuah layanan khusus dari pemerintah Indonesia untuk memfasilitasi jemaah lansia dan disabilitas agar tetap bisa melaksanakan wukuf di Arafah.

Kedekatan batin antara Mbah Chulaeli dan petugas haji bermula dari ketulusan Kamal Pramayuda, petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 2 Makkah. Kamal yang mendampingi Chulaeli sejak berada di kendaraan safari wukuf hingga proses pelayanan selesai, kerap melihat sang kakek termenung.

"Saya pendamping Bapak Chulaeli selama safari wukuf lansia, mulanya beliau itu sering menangis jika kami ajak berbincang tentang keluarganya," ungkap Kamal kepada tim Media Center Haji (MCH) di Bandara Jeddah.

Dari obrolan itu, Kamal mengetahui bahwa Mbah Chulaeli membawa bekal yang sangat terbatas. Kepiluan memuncak saat Kamal bertanya mengenai buah tangan untuk keluarga di rumah.

"Pernah suatu saat saya bertanya tentang oleh-oleh untuk keluarganya, saat itu Mbah Chulaleli semakin menangis karena belum membeli oleh-oleh. Hal itu yang membuat hati kami tergerak," kenang Kamal.

Mendengar cerita tersebut, Kamal dan rekan-rekannya tidak tinggal diam. Mereka berinisiatif menggalang dana spontan untuk membelikan oleh-oleh untuk istri, anak, dan cucu Mbah Chulaeli di Kendal.

Tak disangka, aksi solidaritas ini meluas cepat di kalangan petugas haji Sektor 2 Makkah. Tak hanya membelikan barang, para petugas bahkan dengan telaten membantu merapikan koper Chulaeli yang kesulitan bergerak.

"Ada beberapa teman yang kemudian dengan sukarela bahu-membahu membelikan oleh-oleh untuk beliau. Alhamdulillah terkumpul sangat banyak, ada abaya, sorban, coklat, kurma, boneka, sangat tidak disangka," kata Kamal.

Indahnya ukhuwah Islamiyah ini juga dirasakan oleh Masruri (57), Ketua Regu 2 Kloter 20 SOC. Ia mengaku sangat terharu melihat kepedulian yang ditunjukkan oleh para petugas maupun sesama jemaah satu rombongan.

Tukang Tambal Ban yang Berhaji Sendiri dalam Keterbatasan Mbah Chulaeli dan petugas haji. Foto: Media Center Haji 2026

"Perhatian petugas dan teman-teman itu sangat luar biasa, seperti pada keluarganya sendiri," puji Masruri sebelum bertolak kembali ke Tanah Air.

Selama fase puncak haji, bantuan tenaga memang terus mengalir untuk Mbah Chulaeli. Ada jemaah yang sukarela mencucikan bajunya, menyuapi makanan, hingga membelikan bubur kentang demi menjaga kesehatannya.

Kabar tentang kebaikan para 'penolong' di Arab Saudi ini akhirnya sampai ke telinga keluarga Mbah Chulaeli di Kendal. Sang anak, Khaedar (50), mengaku sangat terharu dan tidak henti-hentinya bersyukur atas mukjizat kelancaran ibadah sang ayah.

"Terima kasih kepada semua yang telah membantu dan memperhatikan bapak saya, saya mewakili keluarga Pak Chulaeli tidak bisa membalas satu-persatu," ucap Khaedar.

Kisah Mbah Chulaeli menjadi potret nyata bagaimana keterbatasan fisik dan ekonomi luluh di hadapan niat yang tulus, serta bagaimana kepedulian antarsesama mampu menjadi penyejuk di tengah teriknya rukun Islam di Tanah Suci.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads