Mengapa Mina Dijuluki Kota Tenda Terbesar di Dunia?

Mengapa Mina Dijuluki Kota Tenda Terbesar di Dunia?

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 17 Mei 2026 10:00 WIB
Tenda di Mina
Foto: ANTARA FOTO/ANDIKA WAHYU
Jakarta -

Mina merupakan salah satu lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji. Tempat ini berada di sebuah lembah yang terletak di pinggir timur Makkah, sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram.

Setiap tahun, jutaan jamaah haji dari berbagai negara berkumpul di Mina untuk melaksanakan mabit atau bermalam serta menjalankan prosesi lempar jumrah.

Karena dipenuhi ribuan tenda putih yang membentang luas di antara lembah dan pegunungan, Mina kemudian dikenal dengan julukan "Kota Tenda Terbesar di Dunia". Julukan tersebut bukan sekadar sebutan biasa, melainkan menggambarkan besarnya kawasan tenda yang mampu menampung jutaan manusia dalam waktu bersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota Tenda Putih yang Menampung Jutaan Jamaah

Dilansir dari laman Kementerian Agama (Kemenag) saat musim haji tiba, Mina berubah menjadi lautan tenda putih yang sangat luas. Kawasan ini mampu menampung jutaan jamaah haji selama enam hari, mulai tanggal 8 hingga 13 Dzulhijjah.

ADVERTISEMENT

Selama berada di Mina, jamaah melaksanakan mabit dan melontar jumrah sebagai bagian akhir dari rangkaian ibadah haji. Karena seluruh jamaah haji diwajibkan bermalam di Mina, pemerintah Arab Saudi menyediakan fasilitas penginapan berupa tenda-tenda permanen dengan kapasitas sangat besar.

Luas wilayah Mina mencapai sekitar 650 hektar. Kawasan ini terdiri dari lembah luas yang dikelilingi pegunungan tinggi dan terjal di bagian utara serta selatan. Di sisi timur terdapat kawasan Wadi Muhasar yang juga memiliki nilai sejarah dalam perjalanan ibadah haji.

Hamparan tenda putih yang tersusun rapi itulah yang membuat Mina tampak seperti sebuah kota besar di tengah gurun pasir.

Mengapa Mina Disebut Kota Tenda Terbesar di Dunia?

Merujuk buku The Lost Story of Kabah: Fakta-Fakta Mencengangkan Seputar Baitullah yang ditulis Irfan L. Sarhindi, ada beberapa alasan mengapa Mina mendapat julukan tersebut.

1. Memiliki Puluhan Ribu Tenda Permanen

Mina memiliki sekitar 40.000 tenda permanen yang dirancang khusus untuk menampung lebih dari dua juta jamaah haji.

Tenda-tenda ini tidak dibongkar setelah musim haji selesai. Karena sifatnya permanen, jamaah umrah yang berkunjung ke Mina di luar musim haji masih dapat melihat deretan tenda putih dari dalam bus perjalanan.

Seluruh tenda dibuat menggunakan kain serat kaca berlapis teflon tahan api dan ditopang oleh rangka baja yang kokoh. Material ini dirancang agar aman dan tahan terhadap cuaca ekstrem di Arab Saudi.

2. Tenda Dirancang Tahan Panas dan Kebakaran

Salah satu keunikan Mina adalah teknologi tendanya yang modern. Tenda-tenda di kawasan ini dirancang mampu menahan suhu panas hingga sekitar 700 derajat Celsius.

Setelah beberapa insiden kebakaran pada masa lalu, pemerintah Arab Saudi melakukan pengembangan besar-besaran dengan mengganti tenda biasa menjadi tenda permanen tahan api.

Selain aman, tenda di Mina juga dilengkapi:

- Pendingin udara
- Sistem ventilasi modern
- Jalur listrik aman
- Sistem penyemprot air
- Pengamanan khusus

Karena itu, jamaah tetap dapat beristirahat dengan nyaman meskipun cuaca di Mina sangat panas.

3. Menjadi Kota Musiman Terbesar

Mina disebut sebagai kota musiman terbesar di dunia karena kawasan ini hanya dipadati manusia pada musim haji.

Di luar musim haji, kawasan Mina relatif kosong. Namun ketika jutaan jamaah datang, Mina berubah menjadi kota besar lengkap dengan berbagai fasilitas umum seperti rumah sakit, pusat kesehatan, restoran, pertokoan, toilet umum, hingga jembatan layang.

Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan khusus untuk melayani jamaah haji dari seluruh dunia.

Sejarah Pengembangan Kota Tenda Mina

Konsep pengembangan kota tenda Mina sebenarnya sudah dipikirkan sejak tahun 1970-an oleh seorang arsitek bernama Bodo Rasch.

Pada tahun 1979, ia menulis penelitian mengenai pengembangan kota tenda yang aman dan modern di Mina. Seiring bertambahnya jumlah jamaah haji setiap tahun, kebutuhan akan sistem penginapan yang lebih aman menjadi sangat penting.

Kemudian dibuatlah desain baru tenda permanen yang tidak mudah terbakar. Sebanyak 12 jenis tenda dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok jamaah.

Tenda-tenda tersebut tetap mempertahankan bentuk khas atap runcing seperti tenda tradisional Arab, namun dilengkapi teknologi modern dan pendingin udara.

Dalam waktu tujuh bulan, sekitar 10.000 tenda pertama berhasil dibangun untuk menampung setengah juta jamaah. Pengembangan terus dilakukan hingga akhirnya berdiri sekitar 40.000 tenda permanen seperti yang ada saat ini.




(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads