- Apa Itu Haji Mabrur?
- Ciri-ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW 1. Santun dalam Bertutur Kata (Thayyibul Kalam) 2. Menebarkan Kedamaian (Ifsya'us Salam) 3. Memiliki Kepedulian Sosial (Ith'amut Tha'am) 4. Menghindari Perbuatan Maksiat
- Bagaimana Cara Menjadi Haji Mabrur? 1. Meluruskan Niat karena Allah SWT 2. Mempelajari Tata Cara Manasik Haji 3. Menjalankan Rukun, Wajib, dan Sunnah Haji 4. Memperbanyak Talbiyah dan Zikir 5. Menjauhi Larangan dan Maksiat 6. Membayar Biaya Haji dari Rezeki yang Halal
Haji mabrur adalah impian setiap umat Islam yang menunaikan ibadah haji. Namun, tidak semua yang berhaji otomatis akan menjadi haji mabrur. Ada ciri-ciri khusus yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
Lalu, seperti apa tanda-tanda haji mabrur menurut Rasulullah SAW? Penjelasan ini penting agar seorang Muslim tidak hanya fokus pada ibadah saat di Tanah Suci, tetapi juga pada perubahan diri setelah pulang dan menyelesaikan ibadah haji.
Apa Itu Haji Mabrur?
Mengutip buku M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui oleh M. Quraish Shihab, secara bahasa kata mabrur berasal dari kata barra. Kata ini punya beberapa arti, seperti "diterima", "benar", "kebaikan", dan "luas dalam berbuat baik".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang maknanya. Dalam kitab Nayl al-Awthar, Asy-Syawkani mengutip pendapat Ibnu Khalawayh bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT.
Ada juga ulama yang menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampur dengan dosa. Pendapat ini dipilih dan dikuatkan oleh Imam an-Nawawi.
Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim an-Naisaburi meriwayatkan dari sahabat Nabi, Jabir, bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, "Apa itu haji mabrur?" Beliau menjawab, "Memberi makan dan menyebarkan kedamaian." Namun, sebagian ulama menilai hadits ini lemah.
Dengan demikian, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, yang pelaksanaannya dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, dan tidak disertai perbuatan dosa.
Ciri-ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW
Orang yang meraih haji mabrur biasanya memiliki tanda-tanda tertentu, meskipun hanya Allah SWT yang berhak memberikan gelar haji mabrur. Rasulullah SAW pernah menjelaskan ciri-ciri tersebut. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad:
قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: "إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?" Beliau menjawab, "Memberi makan dan menyebarkan salam."
Selain itu, sebagaimana dikutip oleh Badruddin al-Aini dalam Umdatul Qari, disebutkan:
سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه
Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Beliau menjawab,
"Memberi makan dan berkata dengan baik." Al-Hakim an-Naisaburi menyebutkan bahwa sanad hadits ini sahih, meski tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Berikut adalah ciri-ciri haji mabrur menurut hadits Rasulullah SAW:
1. Santun dalam Bertutur Kata (Thayyibul Kalam)
Santun dalam bertutur kata adalah salah satu ciri haji mabrur. Sikap ini terlihat dari cara menjaga ucapan, tidak berkata kasar, dan terbiasa berbicara dengan lembut kepada orang lain.
Mengutip Buku Pintar & Praktis Haji & Umrah: Lengkap Sesuai Sunnah oleh Ratih Puspitawati, bersikap santun dalam bertutur kata adalah salah satu tanda seorang mukmin sejati. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud RA,
"Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor." (HR. Tirmidzi)
Contoh perilaku yang bisa dilakukan saat di Tanah Suci antara lain:
- Tetap berkata sopan dan sabar saat antre atau berdesakan dengan jemaah lain.
- Membiasakan membaca doa, dzikir, dan mengucapkan salam agar lisan selalu terjaga dalam kebaikan.
2. Menebarkan Kedamaian (Ifsya'us Salam)
Menebarkan kedamaian juga menjadi ciri haji mabrur. Hal ini terlihat dari sikap yang membawa ketenangan bagi orang lain, seperti suka memberi salam dan menghindari konflik. Berikut adalah contoh perilakunya:
- Mengucapkan salam kepada sesama jemaah dari berbagai negara untuk mempererat persaudaraan.
- Menahan emosi dan tetap sabar, meski terjadi dorong-dorongan saat beribadah.
3. Memiliki Kepedulian Sosial (Ith'amut Tha'am)
Peduli kepada sesama, seperti memberi makan, juga termasuk ciri haji mabrur. Sikap ini terlihat dari kebiasaan berbagi dan membantu orang lain yang membutuhkan. Berikut contohnya:
- Membagikan makanan atau minuman kepada jemaah yang kelelahan.
- Bersedekah dengan memberi makanan kepada jemaah lain di sekitar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
4. Menghindari Perbuatan Maksiat
Mengutip Buku Pintar & Praktis Haji & Umrah: Lengkap Sesuai Sunnah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT dan dibalas dengan pahala.
Tanda seseorang meraih haji mabrur bisa dilihat dari perubahan sikapnya setelah pulang ke Tanah Air. Ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan menjauhi perbuatan maksiat.
Haji yang mabrur akan membuat seseorang menjaga diri dari perbuatan keji, baik dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan.
Bagaimana Cara Menjadi Haji Mabrur?
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar meraih haji mabrur:
1. Meluruskan Niat karena Allah SWT
Ibadah haji harus dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT, bukan untuk mencari pujian atau ingin dianggap lebih tinggi derajatnya.
Sejak zaman Rasulullah SAW, tidak semua orang mendapat predikat haji mabrur. Hanya mereka yang benar-benar ikhlas dalam beribadah yang bisa meraihnya.
2. Mempelajari Tata Cara Manasik Haji
Memahami tata cara manasik haji sesuai tuntunan sangat penting agar ibadah berjalan benar dan sah.
3. Menjalankan Rukun, Wajib, dan Sunnah Haji
Rukun, wajib, dan sunnah haji perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh serta penuh kekhusyukan, semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
4. Memperbanyak Talbiyah dan Zikir
Jemaah dianjurkan banyak membaca talbiyah dan berzikir untuk mengingat Allah SWT selama menjalankan ibadah haji.
5. Menjauhi Larangan dan Maksiat
Selama berhaji, jemaah harus menghindari perbuatan yang dilarang seperti rafats (ucapan kotor), fusuq (maksiat), dan jidal (bertengkar).
6. Membayar Biaya Haji dari Rezeki yang Halal
Biaya haji harus berasal dari sumber yang halal. Ibadah tidak boleh dibiayai dari harta yang haram atau hasil perbuatan melanggar aturan.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Geger Raja Charles III Disebut Memeluk Islam, Ini Kronologinya
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi