Umrah Pertama Kali Tak Bisa Mencium Hajar Aswad, Apakah Sah?

Umrah Pertama Kali Tak Bisa Mencium Hajar Aswad, Apakah Sah?

Tia Kamilla - detikHikmah
Jumat, 02 Jan 2026 15:05 WIB
Umrah Pertama Kali Tak Bisa Mencium Hajar Aswad, Apakah Sah?
Jemaah mencoba meraih Hajar Aswad. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Jakarta -

Umrah pertama kali sering menjadi momen yang penuh haru bagi setiap muslim. Saat berada di Tanah Suci, banyak jemaah memiliki harapan besar untuk dapat mendekat ke Ka'bah dan mencium Hajar Aswad.

Menurut Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah karya Agus Arifin, Hajar Aswad adalah batu yang mulia dari surga. Warna Hajar Aswad pada awalnya adalah lebih putih dibandingkan air susu, kemudian berubah warna menjadi hitam karena dosa-dosa orang musyrik dan warna tersebut tidak berubah hingga sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

"Hajar Aswad turun dari surga, dalam keadaan berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam." (HR Tirmidzi)

ADVERTISEMENT

Namun, kondisi Masjidil Haram yang kerap padat membuat keinginan mencium Hajar Aswad tidak selalu dapat terwujud. Sebagian jemaah harus mengurungkan niatnya karena desakan jemaah lain, keterbatasan waktu, atau kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Tidak sedikit dari mereka yang merasa sedih, kecewa, bahkan khawatir ibadahnya menjadi tidak sempurna karena tidak dapat mencium Hajar Aswad.

Lalu, apakah umrah tetap sah jika saat pertama kali tidak bisa mencium Hajar Aswad? Simak penjelasannya berikut ini.

Umrah Tetap Sah walau Tak Bisa Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad merupakan amalan sunnah dalam tawaf. Mengacu sumber sebelumnya, apabila tidak memungkinkan mencium Hajar Aswad secara langsung, jemaah cukup menyentuhnya. Setelah itu, tangan yang digunakan untuk menyentuh Hajar Aswad boleh dicium.

Para ulama dari empat mazhab menjelaskan hal serupa. Menurut mazhab Hanafi, mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah. Jika tidak memungkinkan, jemaah cukup menyentuhnya. Apabila masih tidak memungkinkan, jemaah dapat menghadap ke arahnya sambil bertakbir, bertahmid, atau bertahlil.

Mazhab Maliki juga memandang mencium Hajar Aswad termasuk sunnah. Jika tidak memungkinkan, cukup menyentuhnya. Jika masih tidak bisa, jemaah cukup bertakbir, bertahmid, atau bertahlil ke arah Hajar Aswad tanpa perlu memberi isyarat tangan. Dalam mazhab ini juga dijelaskan bahwa mencium Hajar Aswad dilakukan dengan bibir, bukan dengan dahi atau pipi.

Kesunnahan mencium Hajar Aswad juga dikatakan dalam mazhab Syafi'i dan Hanbali. Jika tidak memungkinkan, jemaah cukup menyentuhnya lalu mencium tangan yang digunakan. Apabila menyentuh pun tidak bisa, jemaah cukup memberi isyarat dengan tangan ke arah Hajar Aswad.

Dengan demikian, tidak bisa mencium Hajar Aswad, termasuk saat umrah pertama kali, tidak mempengaruhi keabsahan umrah. Selama rukun umrah telah dilaksanakan dengan benar, umrah tetap sah.

Adapun rukun umrah dikutip dari buku Fiqih Ibadah tulisan Ahmad Fatoni, adalah niat ihram, tawaf, sai, tahalul, dan tertib. Selama seluruh rukun tersebut dikerjakan dengan benar, umrah tetap sah.

Dalil tentang Anjuran Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad merupakan amalan yang dianjurkan dalam ibadah tawaf. Anjuran ini tidak dilakukan tanpa dasar, tetapi bersumber dari ajaran Rasulullah SAW. Beberapa hadits berikut menjelaskan keutamaan serta anjuran mencium Hajar Aswad dalam pelaksanaan ibadah umrah maupun haji.

Kisah ini diriwayatkan dari Sayyidina Umar RA Suatu ketika, beliau mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya. Umar berkata,

"Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah SAW menciummu, aku pun enggan menciummu." (HR Bukhari)

Kemudian, dari Nafi', ia berkata, "Saya melihat Ibnu Umar menyentuh Hajar Aswad dengan tangan, kemudian mencium tangannya itu dan berkata, 'Aku tidak pernah meninggalkan perbuatan ini (menyentuh Hajar Aswad dan mencium tangannya) sejak aku melihat Rasulullah melakukannya'." (HR Muslim)

Hadits lainnya diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia menjelaskan bahwa,

"Sesungguhnya Rasulullah bertawaf di Baitullah di atas untanya. Setiap beliau melewati Hajar Aswad, beliau berisyarat ke arahnya dengan sesuatu yang ada pada beliau (tangan atau apa saja yang dipegang) dan bertakbir." (HR Bukhari)

Selain itu, dari Abu Thufail, ia berkata, "Saya melihat Rasulullah bertawaf di Baitullah di atas untanya. Beliau menyentuh Hajar Aswad dengan mihjan (tongkat yang bengkok pada bagian pegangannya), kemudian mencium tongkat itu." (Musnad Sahabat dalam Kutub Tis'ah)

Keutamaan Hajar Aswad

Hajar Aswad dianggap sangat mulia karena memiliki makna spiritual yang besar. Diriwayatkan Abu Ubaid, Rasulullah SAW mengibaratkan Hajar Aswad sebagai "tangan Allah" di bumi. Barang siapa mengusap atau bersalaman dengannya, seolah-olah sedang bersalaman langsung dengan Allah SWT. Perbuatan ini juga seperti berbaiat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa bersalaman dengannya (Hajar Aswad), seolah-olah ia sedang bersalaman dengan Allah yang Maha Pengasih." (HR Ibnu Majah)

Hajar Aswad terletak di pojok Ka'bah bagian timur laut dan menempati posisi paling mulia di muka bumi. Sudut ini adalah bagian pertama yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 127,

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya: "(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Wallahu a'lam.




(kri/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads