Doa iftitah adalah salah satu bacaan sunnah dalam sholat yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surat Al-Fatihah. Doa ini berisi pujian kepada Allah SWT, pengakuan keagungan-Nya, serta permohonan ampunan seorang hamba sebelum memulai rangkaian bacaan sholat.
Doa iftitah memiliki kedudukan penting sebagai pembuka sholat yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan Iftitah Muhammadiyah Arab, Latin dan Artinya
Merujuk laman Suara Muhammadiyah, berikut bacaan iftitah Muhammadiyah,
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ ، وَالثَّلْجِ ، وَالبَرَدِ
Arab latin: Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa'adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats tsalji wal barod.
Artinya: "Wahai Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana bersihnya baju putih dari kotoran, ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan air dingin."
Selain bacaan tersebut, berikut sejumlah bacaan iftitah yang pernah digunakan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW.
1. Bacaan Iftitah dari Hadits Ali bin Abi Thalib RA
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ بَ إِلَّا إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Arab latin: Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal-ardha haniifan, wa maa ana minal-musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-'aalamiin, laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal-muslimiin.
Allahumma anta al-malik, laa ilaaha illa anta, anta rabbii wa ana 'abduka, dhalamtu nafsii, wa'taraftu bidzanbii faghfirlii dzunuubii jamii'an, innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta. Wahdinii li-ahsanal-akhlāqi laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wasrif 'annii sayyi'ahaa laa yashrifu 'annii sayyi'ahaa illaa anta.
Labbayka wa sa'dayka wal-khayru kulluhu biyadayka wasy-syarru laisa ilayka, ana bika wa ilayka, tabaarakta wa ta'aalayta, astaghfiruka wa atuubu ilayka.
Artinya: "Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri sedangkan aku bukan bagian dari orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim.
Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/ jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau. Labbaika (aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu) dan sa'daik (terus bersiap menerima perintah-Mu dan terus mengikuti agama-Mu yang Engkau ridhai). Kebaikan itu seluruhnya berada pada kedua tangan- Mu, dan kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu. Aku berlindung, bersandar kepada-Mu dan Aku memohon taufik pada-Mu. Mahasuci Engkau lagi Mahatinggi. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."
2. Bacaan Iftitah dari Hadits Umar bin Khattab RA 1
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهُ غَيْرُكَ.
Arab latin: Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, tabaarakasmuka, wa ta'aalaa jadduka, wa laa ilaaha ghayruka.
Artinya: "Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau."
3. Bacaan Iftitah dari Hadits Umar bin Khattab RA 2
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Arab latin: Allaahu akbaru kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Artinya: "Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang."
Hukum Membaca Doa Iftitah
Mayoritas ulama sepakat bahwa membaca doa iftitah hukumnya sunnah. Artinya, jika dikerjakan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak membatalkan sholat.
Dalil tentang bacaan doa iftitah terdapat dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW apabila memulai sholat, beliau diam sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Ketika ditanya tentang bacaan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:
"Aku membaca doa antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi dasar bahwa Rasulullah SAW membaca doa pembuka sebelum Al-Fatihah.
Isnan Ansory dalam bukunya yang berjudul Ritual Sholat Rasulullah SAW Menurut 4 Mazhab menjelaskan bahwa para ulama memiliki pandangan yang tidak sepenuhnya sama terkait bacaan iftitah dalam sholat.
Jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hambali bersepakat bahwa membaca doa iftitah termasuk amalan sunnah. Artinya, bacaan ini bukan syarat sah sholat, namun dianjurkan karena dapat menyempurnakan pelaksanaannya.
Berbeda dengan pendapat tersebut, mazhab Maliki tidak menempatkan bacaan iftitah sebagai amalan yang disunnahkan. Bahkan, sebagian ulama Maliki memandangnya makruh atau termasuk perbuatan bid'ah. Pandangan ini dilandasi kekhawatiran bahwa penambahan bacaan di luar yang diwajibkan dalam sholat dapat menimbulkan anggapan keliru seolah-olah bacaan tersebut bersifat wajib.
Baca juga: 6 Syarat Sah Sholat yang Muslim Wajib Tahu |
(dvs/erd)












































Komentar Terbanyak
JK: Aktivitas di Masjid 80% Mendengarkan, Tapi 75% Sound System-nya Buruk
Investasi Emas Digital Laris Manis, Bagaimana Hukum dalam Islam?
7 Peristiwa di Bulan Syaban yang Penuh Keutamaan dalam Sejarah Islam