Doa bangun tidur bisa diamalkan muslim sebagai salah satu cara bersyukur karena masih diberi kesempatan membuka mata. Dalam Islam, tidur jadi karunia yang Allah SWT berikan kepada ciptaan-Nya sebagaimana diterangkan dalam surah Ar Rum ayat 23.
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada beberapa doa bangun tidur yang bisa dibaca muslim, salah satunya sebagai berikut yang dikutip dari buku Amalan Shalih dari Bangun Tidur hingga Menjelang Tidur karya Bagus Eko Dono.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur
Artinya: "Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan." (HR Bukhari)
Terdapat pula doa bangun tidur lain yang dikutip dari buku Doa dan Zikir Mustajab: Dibaca Sehari-hari Sepanjang Masa karya Wijayanti.
أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ
Allaahumma innii a-'uudzu bika min 'amalisy syaithaani wa sayyiaatil ahlaami.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan keburukan mimpi."
Apakah Doa Bangun Tidur Harus Dibaca dalam Hati?
Menurut Ustaz Ahmad Ridwan, secara umum berdoa hendaknya dibaca dengan lirih. Jangan sampai doa dibaca dengan suara yang keras hingga berteriak.
"Dalam surah Maryam ayat 2 dan 3, Allah SWT (menceritakan Nabi Zakaria AS) memanggil Allah, berdoa dengan cara yang lirih. Allah (juga) katakan (dalam ayat lain) jangan angkat suara (saat berdoa) juga jangan bergumam," ujarnya dalam tayangan Best Moment Islam Itu Indah di YouTube TRANS TV Official, dikutip Kamis (8/1/2026).
Ustaz Ahmad Ridwan juga mencontohkan sebuah riwayat terkait sahabat yang bertakbir atau berdoa dengan keras. Kemudian, Rasulullah SAW menegurnya.
"Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf. Telah bercerita kepada kami Sufyan dari 'Ashim dari Abu 'Utsman dari Abu Musa Al Asy'ariy radliallahu 'anhu berkata: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras.
Maka Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya." (HR Bukhari)
Ustaz Ahmad Ridwan juga menekankan, kesungguhan hati dalam berdoa menjadi faktor yang bisa mempengaruhi terkabulnya doa. Sebab, Allah SWT tidak menerima doa dari pemilik hati yang lalai.
"Rasulullah SAW mengatakan Allah SWT tidak menerima doa yang keluar dari pemilik hati yang lalai," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, doa termasuk bagian dari zikir. Sejatinya, zikir yang diperintahkan secara khusus harus diucap dengan lisan agar mendapat pahala dari perintah khusus.
Jika tidak diucapkan, masih ada pahala bagi yang mengingat Allah SWT dalam hatinya. Zikir yang umum tanpa perintah khusus bisa dibaca kapan saja dan di mana saja.
Dilansir dari NU Online, Imam At Thabari dinukil oleh Ibnu Batthal menjelaskan terkait zikir yang diucapkan dalam hati dan lisan.
"Apabila dikatakan zikir yang manakah yang lebih besar pahalanya, apakah yang di hati saja ataukah yang dengan lisan?, dijawab: Ulama Salaf berbeda tentang hal itu. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia berkata: "Aku berzikir kepada Allah dalam hati lebih aku sukai daripada Aku berzikir dengan lisanku 70 kali". Tokoh lain berkata: "Zikir dengan lisan kepada Allah adalah lebih utama". Diriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Masud ia berkata: "Selama hati seseorang berzikir kepada Allah maka ia berada dalam doa meskipun ia di pasar. Apabila lisan dan kedua bibirnya bergerak mengucapkannya, maka itu lebih besar pahalanya." (Ibnu Batthal dalam Syarh Shahih al-Bukhari)
Berdasarkan penjelasan di atas, membaca doa bangun tidur hendaknya secara lisan tetapi lirih. Namun, tidak mengapa jika muslim membacanya dalam hati.
Wallahu a'lam.
Adab ketika Muslim Bangun Tidur
Merujuk pada buku yang sama, ada beberapa adab bagi muslim yang bangun tidur yaitu:
- Beristighfar tiga kali
- Bersyahadat
- Membaca doa bangun tidur
- Hindari mengusap tangan ke mata karena tangan yang kurang bersih menyebabkan mata gatal atau sakit
- Segera bangun dan jangan bermalas-malasan
- Kerjakan salat Subuh tepat waktu
- Rapikan kamar dan jaga kebersihannya
(aeb/kri)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan