Selir Raja

Kolom Hikmah

Selir Raja

Aunur Rofiq, Penulis Kolom - detikHikmah
Jumat, 07 Agu 2026 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Dikisahkan kala itu Hisyam bin Abdul Malik mendengar kabar tentang seorang budak perempuan yang cantik jelita. Selain sebagai pelantun ayat-ayat suci Al-Qur'an, ia juga pandai bersyair. Ia cerdas dan bercitarasa sastra. Ia milik seorang saudagar di Kufah.

Sang raja meminta Gubernur Kufah membelikan budak itu untuknya. Maka Gubernurpun memenuhi permintaan tersebut.

Hari itu sang raja tengah mesra berduaan. Tiba-tiba terdengar jerit ratapan seorang wanita yang dibelakangnya tampak iring-iringan jenazah. Ini ratapannya :
" Demi Ayahku yang dipikul di keranda itu, yang telah diantar ke para penghuni kubur, yang bakal terasing sendirian di kuburnya, yang akan dibujurkan di liang lahatnya sendirian.
Duh seandainya ayahku hidup lagi.....

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sang raja terharu dan berlinang air mata, tiba-tiba lenyaplah sudah luapan kegembiraannya. Ia berkata," Cukuplah kematian itu menjadi puncak penasihat." Kemudian dia pergi.

Sang selir tertidur, kemudian seseorang datang pada mimpinya. Orang itu berkata, " Engkau diuji dengan kecantikan dan kegenitanmu. Tapi, bagaimana keadaanmu bila sangkakala ditiupkan, kubur dibangkitkan, dan orang-orang keluar dari kuburnya menuju Mahsyar, mereka menerima amal-amal perbuatan?"

ADVERTISEMENT

Tatkala ia ( selir ) terbangun dengan terkejut, kemudian ia campakkan seluruh pakaian mewah dan perhiasannya. Ia mengenakan jubah wol kasar dan menggunakan tongkat serta kantong kulit bergantung di lehernya.

Tanpa pikir panjang ia menerobos majelis sang raja dan ia sampai tidak dikenalinya. Sang selir berkata, " Aku selirmu. Seseorang telah mendatangiku menggemakan ancamannya. Sementara engkau telah puas memenuhi keperluan terhadapku. Sekarang aku menemuimu agar engkau membebaskanku dari perbudakan dunia."
Sang raja menjawab, " Alangkah bedanya dua kegembiraan yang sudah terjadi. Sekarang engkau dalam kegembiraan yang lain! Pergilah karena engkau telah kubebaskan demi wajah Allah Swt. Kemana engkau pergi?"
" Aku menuju Baitul Haram."

Sampailah ia di kota suci ini dan tinggal dekat Masjidil Haram. Ia sering beriktikaf dan menjalankan puasa serta mendirikan shalat. Ia bekerja menenun untuk menopang hidupnya. Akhirnya ia wafat di kota suci, semoga Allah Swt. merahmatinya.

Dari kisah ini penulis menemukan tentang, kekuasaan, kematian dan tobat meninggalkan kecintaan pada dunia. Kekuasaan sang raja menjadikan apa yang menjadi keinginan untuk bisa dipenuhi. Kekuasaan itu bisa bersahabat dengan nafsu, ini yang membahayakan bagi dirinya karena ia mudah tergelincir. Kekuasaan raja pada saat itu memang luar biasa besar, maka kekuasaan ini jika berada di tangan yang beriman maka menjadikan manfaat bagi banyak orang. Jangan lupa bahwa kekuasaan itu dengan mudah mendatangkan harta, sehingga sifat menjadi serakah akan timbul.

Maka ingatlah kematian, sang raja langsung lenyap luapan kegembiraan dan ia katakan bahwa kematian menjadi puncak penasihat. Hal yang sama dialami sang selir dari mimpinya, mengingatkan untuk mempersiapkan bekal akhirat. Seseorang yang selalu mengingat mati, ia akan terjaga dari perbuatan yang tidak bermanfaat apalagi perbuatan maksiat. Allah Swt. mencintai hambanya, terbukti kedua hamba ini ( raja dan selir ) telah sadar dan bertobat atas kesalahannya.

Tobat merupakan dasar dari jalan orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt. Ingatlah firman Allah Swt. pada surah at-Tahrim ayat 8 yang berbunyi, " Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah Swt. dengan taubat semurni-murninya."

Perintah taubat langsung dari Sang Pencipta, maka orang yang telah bertaubat dari suatu dosa sama seperti orang yang tidak berdosa. Apakah tanda-tanda orang yang bertaubat ? Ia merasa menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Maknanya adalah pada saat sekarang tidak akan berbuat dosa dan pada masa mendatang bertekad untuk meninggalkan perbuatan dosa. Masa lalu dijadikan cermin untuk memperbaikinya. Dengan cara ini seseorang dapat meraih mendekati kesempurnaan jalan menuju kedekatan-Nya.

Adapun obat taubat adalah dengan melepaskan ikatan mengerjakan dosa secara terus-menerus. Sesungguhnya tiada halangan seseorang hamba bertaubat, kecuali ia masih meneruskan perbuatan dosa. Penyakit hati yang berupa cinta dunia akan merusak seseorang dan membuat ia terjerumus pada kehinaan. Gemerlap dan pesonanya bisa menyilaukan dan menjadikan tabir untuk mengumpulkan bekal akhirat. Kehidupan saat ini menjadikan orang berlomba memperoleh kekuasaan, karena dengan kekuasaan maka mudah mendapatkan kenikmatan dunia. Kelupaan untuk menjaga martabatnya membuat seseorang mencari dan menumpuk ( menjadi serakah ) sesuatu kenikmatan yang fana ini.

Ya Allah, jadikanlah kami semua mencintai iman dan buatlah ia indah di dalam hati. Jadikanlah kami benci pada keserakahan, mengumbar nafsu, kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang benar jalannya.

Aunur Rofiq

Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).



(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads